Dark/Light Mode

“Anda Desil Berapa?”

Kamis, 10 September 2026 06:14 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada pertanyaan baru yang terdengar sederhana: “Anda desil berapa”. Atau, “kita masuk desil berapa?”.

Desil, terdengar“hanya”sebuah angka. Satu sampai sepuluh. Tetapi angka itu bisa menentukan apakah seseorang dianggap membutuhkan bantuan atau tidak. Berkecukupan atau tidak.

Bagi rakyat, desil bisa menjadi palu nasib. Sangat menentukan nasib satu orang, satu keluarga, bahkan masa depan jutaan orang.

Data memang penting, seperti dalam bentuk desil. Tanpa data, bantuan sosial mudah salah sasaran. Yang tidak berhak bisa menerima, sementara yang benar-benar membutuhkan justru terlewat.

Baca juga : Antara Debu Dan Asap

Karena itu, membuat basis data sosial yang lebih terpadu, sangat dibutuhkan. Masalahnya, hidup manusia lebih komplek dibanding angka. Hidup manusia tidak statis. Hari ini bekerja, besok tidak. Bulan ini masih bisa membayar sekolah, bulan depan bisa lari ke pinjol.

Hari ini pendapatan bisa terlihat cukup. Tetapi orang tua sakit, anak kuliah, harga kebutuhan naik. Rumah bisa tampak kokoh. Tetapi cicilan belum lunas, dan tarif-tarif semakin naik. Semua itu tidak terlihat nyata dalam sebuah tabel atau angka di layar komputer desil.

Itulah mengapa akurasi data menjadi sangat penting. Karena desil akan digunakan untuk menentukan kebijakan, maka datanya harus diperlakukan sangat hati-hati. Jangan main-main dengan data.

Desil adalah indikator, bukan vonis. Data adalah alat, bukan kebenaran mutlak. Dan ketika data keliru, harus ada cara mudah untuk melakukan koreksi.

Baca juga : Perempuan Pertama

Sebab, bagi sebagian orang, kesalahan data mungkin hanya kekeliruan angka. Tetapi bagi keluarga rentan, terutama desil 1-4, sebagai kelompok prioritas penerima bantuan regular, kesalahan itu sangat penting.

Itu bisa berarti hilangnya bansos. Jaminan sosial yang terputus. Beasiswa pendidikan anak yang terhenti. Atau, kebutuhan sehari-hari yang tidak terpenuhi.

Karena itu, ukuran keberhasilan sistem data sosial bukan hanya berapa juta orang yang berhasil diklasifikasikan. Pertanyaan terpentingnya: apakah orang yang membutuhkan benar-benar tertolong?

Komisi X DPR sudah meminta Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menyelesaikan pemutakhiran dan perbaikan data desil dalam waktu maksimal dua minggu setelah masyarakat mengajukan sanggahan.

Baca juga : “Kami Di Atas Politik”

Proses ini butuh sosialisasi cepat, tepat serta akurat. Jangan sampai ada pernyataan dari rakyat, “mereka yang salah data, kok rakyat yang repot mengklarifikasi”.

Jangan ada lagi seperti tukang becak di Kulon Progo yang masuk Desil 9. Atau, janda berpenghasilan Rp 20.000 dimasukkan ke kelompok “orang kaya”. Atau lansia sebatang kara di pinggir Kali Code, Yogya, yang digolongkan ke Desil 10.

Karena, satu angka yang keliru, bukan sekadar “angka mati” di layar computer. Kekeliruan itu bisa sangat mahal dan sangat penting bagi manusia. Karena di situ ada kehidupan, harapan dan masa depan. Juga “nasib”.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

mpo slot slot gacor harum100 slot gacor slot gacor