RM.id Rakyat Merdeka - Bayangkan skenario ini: di hari kerja, seorang pemuda melangkah santai ke kantor KUA terdekat. Bersama calon istrinya, dia mengenakan baju pengantin simpel yang dibeli di e-commerce. Tidak ada sewa gedung ratusan juta. Tidak ada katering seribu porsi, dan nihil antrean tamu. Begitu ijab kabul selesai, dia membayar nyaris nol rupiah alias gratis. Nikahnya sah. Pulang. Selesai.
Bagi generasi terdahulu, skenario pernikahan seperti ini mungkin dianggap “kurang modal”. Atau, “apa kata tetangga” dan “apa kata keluarga besar”. Namun, pekan lalu, cara ini justru menjadi simbol baru bagi anak muda. Cara ini dinilai keren. Simpel. Tidak ribet.
Pemicunya adalah kisah viral pernikahan satu pasangan Gen Z, yang dibagikan di medsos pada 11 September 2026 lalu. Mereka sepakat menikah gratis di KUA. Biayanya hanya Rp350 ribu, untuk konsumsi pribadi. Uang ratusan juta rupiah yang biasanya dihabiskan dalam pesta resepsi selama empat jam, mereka alihkan secara utuh untuk membeli rumah impian secara tunai.
Fenomena ini nyata. Bukan hanya viral di dunia maya atau di medsos. KUA Kecamatan Tebet, Jakarta, misalnya, mencatat lonjakan pendaftaran nikah di kantor yang biasanya cuma 20 persen, kini melesat hingga 40 persen. Pelakunya: mayoritas pasangan dari Gen Z.
Baca juga : “Ya, Mau Gimana Lagi?”
Tren ini menggambarkan adanya pergeseran budaya. Menandai lahirnya generasi yang visioner dan pragmatis: yang penting esensi. Bukan seremoni.
Bagi Gen Z, kesederhanaan, atau acara yang lebih intimate, kini memiliki nilai estetika baru yang dianggap elegan. Mungkin juga rasional.
Tren ini menunjukkan bahwa Gen Z semakin sadar akan literasi keuangan di tengah himpitan ekonomi. Ketika harga properti mencekik dan suku bunga KPR terasa berat, serta ekonomi kian mengimpit, mereka memilih berpikir matematis.
Bagi mereka, biaya pernikahan, untuk level menengah yang menelan biaya ratusan juta misalnya, menjadi sangat penting. Nominalnya setara uang muka rumah. Atau seharga rumah sederhana di kawasan penyangga, tanpa kredit. Cash.
Baca juga : “Ah, Itu Sudah Biasa”
Tentu saja, musuh terbesar konsep ini adalah kalimat klasik, “apa kata orang kalau nikahnya seperti ini!”. Atau, “kakaknya kan nikahnya dipestain”.
Konsep pernikahan simple seperti ini memang selalu mengundang perdebatan di internal keluarga. Namun, bagi sebagian Gen Z, ada yang mulai berani mendobrak prinsip dan “tradisi” tersebut.
Mereka menyadari kata “sah” itu bobotnya sama ketika diucapkan di bawah lampu kristal hotel mewah maupun di bawah kipas angin dinding kantor KUA.
Bagi sebagian Gen Z, memiliki rumah sendiri jauh lebih berharga daripada pernikahan megah berbiaya ratusan juta.
“Nikah di KUA, tapi beli rumah cash” merupakan revolusi sosial budaya yang bisa menjadi tren bagi anak-anak muda. Bagi mereka, yang penting “sah”, bukan “wah”.
Kalau tren “gerebek KUA” atau nikah di Kantor Urusan Agama ini terus berkembang, maka sudah saatnya kantor KUA di-upgrade menjadi lebih menarik. Direbranding, lebih dari sekadar “ngurus berkas”. Dibuat instagramable, estetik, nyaman, pasangan pengantin merasa bangga mengabadikan momen sakral tersebut di medsos. Tanpa harus merasa “kurang keren”.
Dan, ketika ditanya menikah di mana, mereka bisa dengan lantang menjawab: Di KUA!
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 dan 6, edisi Minggu, 20 September 2026 dengan judul "Tren Baru: “Gerebek” KUA"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.