Dark/Light Mode

Antara Debu Dan Asap

Selasa, 8 September 2026 05:28 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Beberapa hari terakhir, langit Indonesia seperti mengirim dua pesan sekaligus. Dari Selat Sunda datang debu gunung api. Dari Sumatera dan Kalimantan, serta beberapa daerah lainnya, datang asap kebakaran hutan dan lahan. Keduanya bertemu di satu tempat yang sama: udara yang kita hirup.

Anak Krakatau mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah negeri gunung api. Jumlahnya ratusan. Membentuk semacam cincin api. Itu kita maklumi. Gunung-gunung itu bisa meletus. Kapan pun. Kita tidak bisa memintanya supaya tidak meletus. Yang bisa kita lakukan adalah bersiap. Memantau. Memberi peringatan. Mengatur penerbangan. Membatasi aktivitas. Melindungi masyarakat.

Kalau karhutla, berbeda. Api di hutan dan lahan tidak selalu tiba-tiba datang dari langit. Ada lahan yang bisa diawasi. Gambut yang bisa dijaga tetap basah. Kawasan yang bisa diperiksa. Pembakaran yang bisa dicegah. Pelaku yang bisa ditindak tegas.

Baca juga : Perempuan Pertama

Karena itu, abu gunung dan asap karhutla membawa dua pesan berbeda. Abu gunung api adalah gejala alam. Dia punya “aturan dan kemauan” sendiri. Kalau karhutla, itu menyangkut tata kelola. Seberapa mampu, mau dan serius kita mengurusnya.

Debu vulkanik yang kini menyelimuti beberapa wilayah, termasuk Jakarta, mengingatkan bahwa manusia punya keterbatasan. Sementara karhutla mengingatkan bahwa manusia sebenarnya punya pilihan. Serius atau tidak.

Bagi masyarakat, udara tetap udara. Kalau sesak, ya sesak. Udara kotor, ya kotor. Dari mana pun datangnya. Di mana pun lokasinya.

Baca juga : “Kami Di Atas Politik”

Bayangkan misalnya warga Kalimantan, Sumatera, serta beberapa daerah lainnya yang cukup lama diselimuti udara berasap. Betapa terganggunya. Nyesak. Pengap.

Di sinilah Jakarta perlu lebih bersiap dan antisipatif. Lebih “merasa”. Sebab, dari Jakarta banyak kebijakan diputuskan. Anggaran ditentukan. Regulasi dibuat. Izin diberikan. Pengawasan diperintahkan. Ketegasan dimunculkan.

Semua itu harus dipastikan bisa bekerja dengan baik. Demi rakyat. Bukan kepentingan yang lain. Juga bukan sekadar retorika dan “panas-panas tai ayam”.

Baca juga : Rampas Senyum

Karena, kita tidak mau, tahun depan bangsa ini lagi-lagi menghadapi kasus yang sama. Kasus yang sesungguhnya bisa dicegah. Kasus yang berada dalam kendali.

Kalau gunung meletus, kita memang tidak bisa mencegah. Tetapi karhutla, sebagian besar sesungguhnya mampu dicegah. Bisa diantisipasi. Bisa dipastikan semuanya berjalan baik dan benar sampai di tingkat pelaksana di lapangan.

Alam memang bisa murka. Tapi, jangan sampai kelalaian, ketidaksiapan, regulasi serta kebijakan yang “tidak bisa merasa”, apalagi yang cenderung merusak, membuat alam terasa lebih murka. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.