RM.id Rakyat Merdeka - Tanah di Flores mulai lebih tenang. Sebulan setelah gempa M7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, frekuensi gempa susulan mulai meluruh. Tetapi kehidupan puluhan ribu warga belum ikut tenang. Tenda masih menjadi rumah. Rumah rusak masih menunggu kepastian. Pemulihan baru memasuki jalan panjang. Gempa mungkin berlangsung beberapa detik. Akibatnya bisa tinggal bertahun-tahun.
Di sinilah negara benar-benar diuji. Pada hari pertama bencana, semua orang bergerak. Pejabat datang. Bantuan berdatangan. Kamera menyala. Posko didirikan. Masalah justru menjadi lebih sulit ketika perhatian nasional mulai pindah. Beras harus tetap tersedia pada hari ke-30. Obat harus tetap datang pada hari ke-40. Sekolah harus kembali berjalan. Rumah harus dibangun. Air bersih harus tersedia. Negara yang tangguh bukan hanya negara yang cepat datang ketika tanah berguncang, tetapi yang tidak cepat pulang setelah kamera pergi.
Baca juga : Bursa Jangan Berhala
Bagi korban, kata “pascabencana” terdengar terlalu administratif. Mereka masih tidur dengan kecemasan. Anak-anak kehilangan ruang belajar. Orang tua memikirkan pekerjaan. Ibu harus menjaga kesehatan keluarga dalam kondisi pengungsian. Lansia dan penyandang disabilitas menghadapi kerentanan berlapis. Bahkan ketika jumlah pengungsi menurun, puluhan ribu manusia tetap berarti puluhan ribu kehidupan yang belum kembali normal. Statistik boleh turun. Penderitaan tidak otomatis ikut turun.
Ulrich Beck dalam Risk Society membantu kita melihat persoalan ini dengan lebih tajam. Masyarakat modern bukan hanya menghadapi bahaya, tetapi juga menghadapi risiko yang dibentuk oleh cara institusi mengantisipasi, mengelola, dan membagikan akibat bahaya tersebut. Gempa adalah peristiwa alam. Tetapi rumah yang tidak tahan gempa, tata ruang yang buruk, fasilitas kesehatan yang rapuh, informasi yang terlambat, dan pemulihan yang timpang adalah persoalan manusia. Negara tidak bisa melarang bumi bergerak. Negara bisa mencegah guncangan berubah menjadi penderitaan yang lebih panjang.
Itulah titik yang sering luput. Kita terlalu bangga menghitung tonase bantuan, jumlah personel, helikopter, tenda, dan paket logistik. Semua penting. Tetapi korban tidak hidup dari tonase. Mereka hidup dari apakah bantuan sampai tepat waktu dan tepat kebutuhan. Rekonstruksi pun jangan berubah menjadi festival proyek setelah festival bantuan selesai. Rumah tahan gempa, sekolah, puskesmas, jalan, air bersih, dan mata pencaharian harus dibangun berdasarkan kebutuhan warga, bukan kenyamanan birokrasi dan kontraktor.
Karena itu, fase rehabilitasi harus lebih serius daripada seremoni tanggap darurat. Data kerusakan harus cepat tetapi akurat. Bantuan rumah harus transparan. Pemerintah pusat dan daerah jangan saling menunggu. Standar bangunan tahan gempa harus menjadi syarat, bukan brosur. Warga harus dilibatkan dalam rekonstruksi kampungnya sendiri. Dan kesehatan pengungsi harus diperlakukan sebagai indikator utama keberhasilan. Menyelamatkan manusia dari reruntuhan adalah tugas pertama. Menjaga mereka tetap sehat dan bermartabat setelah diselamatkan adalah tugas berikutnya.
Bencana tidak menunggu rapat rapi. Ia menguji apakah negara punya refleks, bukan hanya protokol. Tetapi setelah refleks bekerja, ujian yang lebih berat dimulai: apakah negara punya stamina. Flores tidak membutuhkan belas kasihan yang cepat datang lalu cepat lupa. Ia membutuhkan negara yang tinggal sampai kehidupan benar-benar pulih. Gempa memang mengguncang tanah. Jangan biarkan birokrasi mengguncang harapan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.