RM.id Rakyat Merdeka - September kembali sampai di ujungnya. Seperti setiap tahun, bangsa ini kembali bertemu dengan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai. Nama-nama lama muncul. Film diputar. Perdebatan hidup lagi. Generasi yang mengalami semakin sedikit, sementara generasi yang mengenalnya dari layar semakin banyak. Masalahnya bukan apakah kita harus mengingat. Masalahnya: ingatan siapa yang kita percaya?
Sejarah politik memang tidak pernah sepenuhnya dingin. Kekuasaan selalu punya kepentingan terhadap cara masa lalu diceritakan. Ada tokoh yang dibesarkan. Ada peristiwa yang dikecilkan. Ada korban yang disebut. Ada korban lain yang lama tidak mendapat tempat. Ketika rezim berganti, cara mengingat pun bisa ikut berganti. Masa lalu akhirnya bukan hanya wilayah sejarawan. Ia bisa menjadi arena politik hari ini.
Baca juga : Demo Bukan Penyakit
Bagi masyarakat, akibatnya lebih serius daripada perdebatan buku sejarah. Di balik istilah besar seperti konflik ideologi, kudeta, penumpasan, dan pergantian kekuasaan, ada manusia. Ada keluarga kehilangan ayah. Ada anak tumbuh membawa stigma. Ada orang dibunuh. Ada yang dipenjara tanpa proses hukum yang layak. Ada pula keluarga korban kekerasan yang membawa luka antargenerasi. Mereka bukan catatan kaki. Ketika sejarah diperebutkan, manusia jangan sampai hilang dari halaman.
Paul Ricoeur dalam Memory, History, Forgetting mengingatkan bahwa mengingat bukan pekerjaan sederhana. Memori bisa terluka, dipilih, bahkan dimanipulasi. Karena itu, sejarah membutuhkan kerja kritis: dokumen diperiksa, kesaksian dibandingkan, arsip dibuka, klaim diuji. Lupa juga tidak selalu terjadi secara alamiah. Kekuasaan dapat menentukan apa yang terus diulang dan apa yang perlahan dibuat menghilang. Di sinilah politik ingatan menjadi persoalan etika.
Baca juga : Desa Jangan Dipakai
Negara karena itu tidak perlu takut kepada sejarah yang semakin lengkap. Membuka arsip bukan berarti membenarkan semua pihak. Mengakui korban bukan berarti menghapus kesalahan pihak lain. Mengoreksi narasi bukan berarti membenci negara. Justru republik yang percaya diri mampu melihat masa lalunya tanpa harus terus-menerus mencari cermin yang hanya menampilkan wajah yang disukainya. Kebenaran sejarah tidak menjadi lemah karena diperdebatkan. Ia menjadi lemah ketika dilarang diperiksa.
Generasi muda juga jangan diwarisi dendam. Mereka perlu diwarisi kemampuan membaca sejarah. Ajarkan dokumen, konteks, perbedaan kesaksian, kekerasan yang terjadi, serta bagaimana institusi negara berubah sesudahnya. Biarkan universitas meneliti. Biarkan sejarawan berdebat. Biarkan keluarga korban bersaksi. Dan biarkan fakta mengoreksi mitos, dari pihak mana pun mitos itu datang. Rekonsiliasi yang matang bukan menyuruh semua orang lupa. Ia membuat masyarakat mampu mengingat tanpa harus saling mewariskan kebencian.
September akhirnya berlalu. Tetapi masa lalu tidak otomatis ikut pergi. Ia tinggal dalam arsip, keluarga, monumen, buku pelajaran, dan cara kita memahami republik. Karena itu, jangan gunakan sejarah untuk menakut-nakuti masa depan. Jangan pula menghapus luka hanya karena ia membuat masa kini tidak nyaman. Bangsa yang takut pada ingatan akan mudah dipimpin oleh lupa yang disengaja. Ingatan boleh berbeda. Sejarah jangan dipelintir.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.