RM.id Rakyat Merdeka - Ada berita penting dan heboh di Eropa, tapi di Indonesia dianggap “biasa-biasa saja”.
Beritanya: negara-negara di Eropa menganjurkan warganya menimbun makanan dan perlengkapan darurat untuk persiapan selama tiga sampai tujuh hari. Misalnya, makanan kaleng, air minum kemasan, obat-obatan, senter, dan perlengapan sehari-hari lainnya.
Bahkan, Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menyatakan warga Inggris harus bersiap menghadapi perang dalam 1.000 hari ke depan.
Apakah akan ada Perang Dunia III, atau sesuatu yang fatal yang bakal terjadi? Pemerintah beberapa negara Eropa mengatakan, hanya persiapan dan prosedur biasa menghadapi krisis. Krisis geopolitik dan ancaman perang. Krisis iklim dan bencana alam. Juga ada ancaman krisis siber.
Meski sudah dijelaskan dan ditenangkan, warganya tetap bertanya-tanya: apa ada sesuatu yang pemerintah tahu tapi disembunyikan dari kita?
Baca juga : Tanah Dan Kalkulator
Meski imbauan tersebut membuat bulu kuduk warga Eropa, berdiri, di Indonesia gaungnya kurang terasa. Dibahas biasa saja sembari menyeruput kopi saset di pos ronda atau ngopi di kafe.
Bayangkan, negara sekaya Inggris, dengan sistem pertahanan canggih, mendadak heboh karena potensi ancaman yang dijadwalkan terjadi menjelang tahun 2030. Itu seribu hari ke depan.
Di sini, jangankan bersiap untuk perang tiga tahun lagi, bersiap menghadapi “perang” melawan asap besok pagi saja kita sering lupa memakai masker.
Kalau warga Eropa sibuk menghitung kalori kornet dan sarden di bunker, banyak orang Indonesia yang sudah khatam menimbun mi instan dari awal bulan. Bukan karena takut rudal asing, melainkan karena saldo ATM yang lebih dulu “berteriak” sebelum waktunya.
Air mineral kemasan? Kita punya bala bantuan ratusan galon isi ulang di warung kelontong yang siap diantar abang-abang motor matik dalam waktu lima menit.
Baca juga : Strategi Dua Jalur
Ironi paling indahnya adalah perbedaan mentalitas bertahan hidup. Di Eropa, ancaman geopolitik global bisa melahirkan kepanikan belanja.
Di Indonesia, warganya sudah terlatih “berperang” setiap hari. Bertempur melawan harga minyak goreng, harga cabai, harga beras, beragam cicilan, banjir, asap atau macet brutal.
Di sinilah kadang kita perlu “bersyukur” menjadi orang Indonesia. Ada “daya tahan alami” yang lahir karena kondisi. Ada juga semangat gotong royong. Ada warung sembako di depan rumah yang selalu siap memasok kebutuhan harian walaupun hanya beli satu saset.
Ada juga tetangga atau teman yang selalu siap menghadapi “pinjam dulu seratus”. Ada lagu ngutang “gali lobang tutup lobang” yang bisa dinyanyikan sambil berjoget riang.
Begitulah kemampuan survive dan “daya tahan” ala Indonesia. Yang penting (berusaha) hepi, walau pun sangat pahit.
Baca juga : Pintu-pintu Yang Diketuk
Kalaupun terjadi sesuatu yang sangat buruk, setidaknya kaleng biskuit Khong Guan di ruang tamu masih setia menyembunyikan rengginang, sebuah teknologi kamuflase bertahan hidup yang bahkan badan intelijen terbaik Eropa pun bisa terkecoh.
Dan kalau pun orang Indonesia disuruh menyediakan stok makanan kaleng, kalengnya malah dibuka buat sarapan besok pagi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.