Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Rupiah keok terhadap dolar AS. Harga saham anjlok. Kesannya, ini urusan orang-orang berdasi di gedung-gedung tinggi. Tidak. Karena, efek dominonya langsung melesat, mengetuk pintu dapur rakyat. Kita semua.
Ini bukan sekadar soal angka atau grafik yang naik turun di papan pengumuman. Ini urusan piring nasi rakyat. Karena, realitasnya, Indonesia masih mengimpor banyak bahan baku.
Saat rupiah melemah, biaya impor otomatis melonjak. Harga kedelai naik, tahu dan tempe di pasar mengecil. Harga gandum melambung, mi instan, penyelamat akhir bulan anak kos, juga ikut mahal.
Belum lagi urusan BBM. Jika biaya logistik naik, harga cabai hingga beras di pasar tradisional pasti ikut meledak. Ujung-ujungnya, daya beli masyarakat bawah, lumpuh.
Baca juga : Api di Hutan, Emas di Kantor
Bagi kelas menengah yang tidak cukup kaya, tapi juga tidak cukup miskin untuk menerima bansos, ceritanya bisa berbeda, tapi sama ringkihnya.
Ini bisa dilihat dari berita Rakyat Merdeka, Kamis, 1 Oktober 2026 lalu di halaman depan. Judulnya: Ekonomi Rakyat Sedang Kurang Baik. Ada Fenomena “Downgrade” Gaya Hidup.
Berita itu menggambarkan realitas kelas menengah. Ada yang menjual aset. Ada yang kehilangan pekerjaan.
Ada pula yang harus menata ulang seluruh kehidupannya. Dulu manajer, sekarang pengemudi ojek online. Dulu punya beberapa kendaraan, sekarang tinggal satu. Dulu punya rumah dan apartemen, sekarang satu per satu lenyap.
Baca juga : Triliunan Yang Tak Lagi Terasa
Kalau ini hanya terjadi pada satu atau dua orang, mungkin sekadar nasib. Namun, jika gejala serupa muncul di banyak tempat, artinya ada yang sedang tidak beres dengan ekonomi kita.
Pemerintah tidak boleh tinggal diam. Sebagai rakyat, kita hanya bisa meminta dan berharap pemerintah bekerja ekstra-ekstra-ekstra keras.
Secara fiskal, Kementerian Keuangan harus segera menggeser anggaran untuk mempertebal bantalan sosial. Bansos harus tepat sasaran, ke semua yang terdampak, industri padat karya wajib diselamatkan, PHK harus bisa ditekan.
Kenapa kita berharap ada upaya yang “ekstra-ekstra keras”, karena walaupun sudah berupaya keras, ternyata ada “sesuatu” yang bahkan seorang menteri pun tak sanggup mengatasinya.
Baca juga : Jangan Ada Protes Tahunan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman misalnya, tampak marah dalam sebuah rapat pekan lalu. Dengan nada tinggi dia menegaskan, percuma terus-terusan rapat kalau di luar sana masih ada mafia pangan yang tak tersentuh.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia juga mengungkapkan ada sesuatu yang di luar kendalinya. Dia meminta aparat memproses hukum siapa pun yang menyebabkan berkurangnya stok BBM bersubsidi. Artinya, ada “sesuatu” yang memerlukan upaya “ekstra-ekstra-ekstra keras dan tegas”.
Sebagai rakyat, selain berharap, kunci lainnya: bertahan. Survive. Saat rupiah sedang pingsan dan IHSG kejang-kejang, dengan segala keterbatasan, kita harus mampu menjaga agar dompet tidak ikut menjerit dan masuk ICU.(*)
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 18 Oktober 2026 dengan judul "Rupiah Pingsan, Dompet Menjerit"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.