Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Di Kalimantan, warga memadamkan api dengan tangan sendiri. Di Jakarta, KPK menyita emas. Dua peristiwa itu muncul pada pekan yang sama.
Mulai dari api. Dilaporkan, 12 juta warga terdampak oleh kebakaran hutan dan lahan. Dampak ekonomi, lingkungan, kesehatan dan sosial. Asapnya bahkan sampai ke negara tetangga, Singapura dan Malaysia.
Lalu emas. Selasa malam, 13 Oktober 2026, KPK menggelar operasi tangkap tangan (OTT) di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta.
OTT ini diduga terkait tindak pidana korupsi Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanganan bencana. Uang Rp 1,4 miliar dan sejumlah emas batangan disita. Sebanyak 14 orang diamankan.
Baca juga : Triliunan Yang Tak Lagi Terasa
Kejelasan duduk perkaranya masih perlu proses hukum. Tetapi lokasinya sudah berbicara. BNPB bukan kantor biasa. Lembaga ini berdiri untuk satu hal: hadir ketika rakyat menghadapi kondisi tak berdaya. Saat asap pekat. Saat air bersih habis. Saat anak-anak terbatuk di ruang kelas. Sayangnya, di lembaga seperti itulah uang tunai dan emas batangan ditemukan.
Bandingkan dengan Agustus lalu. Remaja di Palangkaraya memadamkan api berkostum Superman. Kelompok perempuan di Sambas dan Ketapang turun ke lahan. Mereka tak punya pesawat. Tak punya anggaran. Hanya punya rasa takut kehilangan kampung.
Seorang pejabat memuji keberanian mereka, lalu mengingatkan soal alat pelindung diri. Pujian yang pahit. Warga mempertaruhkan paru-paru, lalu pejabat memberi tepuk tangan. Bahkan, ada pejabat daerah yang tidak berada di daerahnya di saat asap mengepung.
Sesungguhnya, kita berharap negara serta aparatnya mampu, berkomitmen kuat serta berintegritas untuk selalu hadir di lapangan. Jangan lukai hati rakyat.
Baca juga : Jangan Ada Protes Tahunan
Di tengah harapan itu, rakyat pun mulai belajar satu hal: jangan menunggu. Mereka patungan memperbaiki jalan. Mereka memadamkan api sendiri. Kita tentu tidak berharap, pihak berwenang menjadi penonton di balik “kenyamanan” ini.
Di balik semua itu, ada juga bahaya yang lebih besar daripada satu OTT. Bukan fisik. Tidak terlihat, tapi dirasakan. Apa itu? Kepercayaan! Korupsi di mana pun, termasuk di lembaga kebencanaan, sangat merusak kepercayaan.
Orang mau mengungsi, karena percaya. Mau menyumbang, karena percaya. Mau menunggu bantuan, karena percaya. Ketika kepercayaan itu terkikis, bencana berikutnya menjadi lebih mahal. Bukan dalam rupiah, melainkan nyawa rakyat.
Maka, ujiannya bukan sekadar menentukan status bencananya. Ujian sebenarnya: mampukah negara dan aparat menumbuhkan kepercayaan, membersihkan dapurnya, sambil memadamkan api?
Bisa keduanya. Harus keduanya. Tumbuhkan kepercayaan, bersihkan dapur sambil memadamkan api. Itu harapan rakyat.
Ketika kebakaran serta asap ini terus berulang, kita tidak ingin lagi disodori fakta: ember di tangan warga, emas di kantor pejabat.
Bangsa ini mestinya sudah tidak lagi menghadapi kondisi kontras serta ironi yang pahit dan menyesakkan seperti ini.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.