Dark/Light Mode

Jangan Nekat

Kamis, 8 Oktober 2026 06:12 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - “Jangankan menteri atau dirjen, saya mau disogok!” begitu judul headline halaman depan Rakyat Merdeka, Rabu (8/10/26).

Kalimat Presiden Prabowo Subianto itu jelas. Tegas. Presiden saja disasar. Apalagi menteri dan dirjen. Apalagi pejabat yang memegang kewenangan atas izin, proyek, konsesi, dan urusan lain yang menentukan kepentingan bisnis.

Dari pernyataan tersebut Presiden seolah ingin menegaskan, “awas! jangan main-main dengan korupsi. Saya sudah tahu cara kerjanya”. Dalam beberapa kesempatan, Presiden memang mengatakan, “saya sudah lama jadi orang Indonesia”.

Yang menarik, kenekatan para penyuap telah menunjukkan satu hal: masih ada keyakinan bahwa kekuasaan bisa dibeli. Di sinilah masalah sesungguhnya.

Baca juga : Dipecat,Lalu Apa?

Korupsi bukan hanya soal pejabat yang menerima uang. Ada pihak yang menawarkan. Ada kepentingan yang hendak membeli keputusan. Ada modal yang dipertaruhkan untuk mengubah kewenangan publik menjadi keuntungan pribadi.

Karena itu, pemberantasan korupsi tidak cukup mengejar penerima. Pemberi harus diburu. Jaringan dibongkar. Aliran uang ditelusuri.

Penyerahan belasan triliun rupiah hasil penertiban kawasan hutan ke Kejagung, Selasa (6/10/26), menjadi momentum penting. Apalagi, langkah serupa sudah beberapa kali dilakukan.

Uang yang kembali bukanlah akhir cerita. Justru di situlah pekerjaan berikutnya dimulai. Karena itu, negara harus mempersempit ruang transaksi gelap. Tutup semua celah. Ada transparansi.

Baca juga : Kemapanan Yang Mulai Dijual

Pencegahan juga membutuhkan keberanian serta ditopang oleh institusi. Mereka yang bersih harus dilindungi, bukan dibiarkan berjuang sendirian.

Ketika pelanggaran terjadi, hukum harus mengikuti uang. Di sinilah UU Perampasan Aset penting sebagai instrumen untuk memulihkan hasil kejahatan.

Namun, undang-undang tidak akan banyak berarti tanpa penegakan hukum yang konsisten, transparan, dan akuntabel. Apalagi jika aparatnya masih “begitu-begitu saja”.

Maka respons negara harus lebih besar: bikin penyuap dan para koruptor gentar. Tutup celah transaksi. Kejar uang hasil korupsi sampai ke ujungnya.

Baca juga : Harapan Yang Ikut Tenggelam

Negara tidak cukup hanya mampu menolak suap. Negara harus membuat siapa pun berpikir seribu kali sebelum mencoba menyuap. Dari yang tadinya berprinsip “nekat saja, coba saja, siapa tahu berhasil” menjadi “jangan coba-coba, negara pasti mengejar”

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.