Dark/Light Mode

Jangan Ada Protes Tahunan

Minggu, 11 Oktober 2026 05:41 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Pekan ini, dunia sedang menonton dan merasakan udara kita. Karena, Minggu (11/10/26) ini Singapura menggelar event akbar, GP Formula 1. Balapan Grand Prix F1 ini disiarkan secara global ke lebih dari 180 negara.

Hari ini, pukul 16.00 WIB, balapan utamanya, digelar. Sayangnya, Rabu lalu, sebelum latihan dan kualifikasi Jumat dan Sabtu kemarin, Singapura dilanda kabut asap.

Hari Rabu itu, udara Singapura tercatat sebagai yang terburuk di dunia menurut IQAir. IQAir adalah perusahaan teknologi asal Swiss yang bergerak di bidang pemurnian udara (air purifier) serta penyedia data dan pemantauan kualitas udara secara real-time di seluruh dunia.

Kuala Lumpur, Malaysia menyusul di urutan kedua. Buruk juga. Udaranya.

Sekitar 200 sekolah dan tempat penitipan anak di Batu Pahat, Johor, ditutup.

Baca juga : Jangan Nekat

Kita berharap, di tengah balapan F1, kamera internasional tidak menyorot langit berkabut. Tidak juga mempertanyakan dari mana asap itu datang.

Dan yang penting, tidak ada asap atau kebakaran hutan (lagi). Bukan hanya saat GP Formula 1 berlangsung. Tapi selamanya.

Karena, setiap tahun api menyala. Setiap tahun asap menyeberang. Setiap tahun tetangga protes. Setiap tahun kita menjawab dengan nada yang sama: sedang ditangani. Rutinitas tahunan yang selalu diperlakukan seperti kejutan.

Padahal tandanya sudah terang. Palembang menyiapkan tim sejak Mei. Parlemen Singapura sudah membahas ancaman asap berat semester kedua sejak Agustus. ASEAN menetapkan Siaga Level 3 sejak 26 Agustus. BMKG memperkirakan musim hujan datang lebih lambat.

Kita tahu. Tapi api tetap menang.

Baca juga : Dipecat,Lalu Apa?

Ini salah satu musim kebakaran terburuk dalam beberapa tahun. Asap dilaporkan sampai Brunei, bahkan Manila. Malaysia sempat mengumumkan darurat asap di Serian pada 5 September. Penerbangan terdampak di wilayah kerja Balikpapan melonjak dari 159 menjadi 409 dalam sepekan.

Memang sudah ada upaya, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi, api tetap menyala. Asap tetap melintas batas. Artinya, ada yang belum optimal.

Tahun depan kita tak ingin membaca berita yang sama. Tak ingin menerima nota protes yang sama. Tak ingin menjelaskan hal yang sama kepada dunia yang sudah hafal jawabannya.

Maka, ukurannya harus keras. Penegakan hukum harus tegas. Terhadap siapa pun. Tanpa pandang bulu.

Memang sudah ada beberapa yang diproses hukum. Namun, pertanyaannya: apakah penegakan hukum serta berbagai upaya yang dilakukan tahun ini bisa menjadi jaminan bahwa tahun depan tidak akan ada lagi kebakaran lahan dan hutan? Kita tunggu saja.

Baca juga : Kemapanan Yang Mulai Dijual

Jangan menunggu protes. Jangan menunggu balapan F1. Tahun depan, kita hanya ingin satu berita: langit yang biru. Cerah. Segar. Sehat.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 11 Oktober 2026 dengan judul "Jangan Ada Protes Tahunan"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.