RM.id Rakyat Merdeka - Pada Piala Dunia 2026, lonjakan pemain diaspora mencapai lebih dari 23 persen. Salah satu dampaknya, menciptakan perpecahan dalam keluarga.
Pada 13 Juni lalu, Maroko mencetak sejarah Piala Dunia ketika menahan imbang Brazil dengan skor 1-1. Kala itu itu, tidak ada satu pun pemain Singa Atalas yang berlaga di lapangan, lahir di Maroko.
Sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia, turnamen tahun ini mencatat persentase tertinggi pemain diaspora, yakni hampir seperempat dari total pemain.
Sejauh ini, penonton telah menyaksikan seorang pemain mencetak gol melawan negara kelahirannya, yaitu ketika Ibrahim Mbaye yang lahir di Prancis mencetak satu-satunya gol untuk Senegal dalam kekalahan 1-3 melawan Les Bleus pada 16 Juni.
Baca juga : Kinclong Di Piala Dunia, Hakimi Dilirik Real Madrid
Empat tahun lalu, pemain Swiss, Breel Embolo, yang lahir di Kamerun, menjadi pemain pertama yang mencetak gol melawan negara kelahirannya sendiri dalam lebih dari 90 tahun sejarah Piala Dunia.
Alih-alih melompat penuh kemenangan dan kegembiraan, ia sejenak mengangkat tangannya dalam gestur yang terdengar seperti permintaan maaf.
“Saya tahu bahwa jika saya mencetak gol, saya tidak akan merayakannya, sebagai bentuk penghormatan. Namun itu bukan berarti saya tidak senang,” kata Embolo, saat itu.
Pada Piala Dunia 2026, hanya 8 dari 48 tim yang tidak memiliki pemain yang lahir di luar negeri, menurut daftar tim resmi yang diserahkan kepada FIFA.
Baca juga : Safari 3 Hari di Lampung, Jokowi Pakai Baju dan Topi PSI
Pendatang baru Piala Dunia, Curacao, hanya memiliki satu pemain yang lahir di pulau Karibia tersebut, pada skuad beranggotakan 26 orang. Negara ini bagian dari Kerajaan Belanda dan sebagian besar pemainnya lahir di Belanda.
Sementara itu, Qatar membawa pemain-pemain kelahiran 10 negara, mulai dari Afrika hingga Eropa dan Amerika Selatan.
Perpindahan seperti ini juga menciptakan perpecahan dalam keluarga. Empat pasang kakak-beradik mewakili tim yang berbeda: Desire dan Guela Doue (Prancis dan Pantai Gading), Nico dan Inaki Williams (Spanyol dan Ghana), Harry dan John Souttar (Australia dan Skotlandia), serta saudara tiri Derrick Luckassen dan Brian Brobbey (Ghana dan Belanda).
Sebelum 2026, hal ini hanya terjadi dua kali. Ketika saudara tiri Jerome dan Kevin Prince Boateng bermain di dua Piala Dunia (2010 dan 2014) mewakili Jerman dan Ghana. Mereka saling berhadapan di lapangan pada kedua kesempatan tersebut.
Baca juga : MBG Dihemat Besar-besaran
Persentase pemain kelahiran luar negeri di negara peserta Piala Dunia telah naik-turun selama beberapa dekade.
Menurut penelitian Centre on Migration, Policy and Society (COMPAS) di Universitas Oxford, angkanya berada antara 2 dan 14 persen. Namun, persentase itu melonjak dalam dua tur namen terakhir. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, persentasenya mencapai 16,5 persen.
Pada Piala Dunia 2026, lonjakannya mencapai lebih dari 23 persen. Pemain kelahiran luar negeri mencapai 289 orang dari total 1.248 orang, seiring dengan meningkatnya jumlah negara peserta dari 32 menjadi 48. [GO]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.