Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Takut Begal, Influencer Bandung Hana Claudia Pesan 3 Ojol Buat Pulang
Kamis, 23 Juli 2026 09:52 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Maraknya aksi begal di Kota Bandung membuat influencer Hana Claudia memilih cara tak biasa demi pulang dengan aman. Usai menghadiri acara nonton bareng final Piala Dunia 2026 di kawasan Gudang Selatan, Bandung, Minggu (20/7/2026) dini hari, ia memesan tiga pengemudi ojek online untuk mengawal perjalanan pulangnya menuju Jalan Pajajaran.
Menurutnya belakangan ini, Kota Bandung pada waktu malam hari terasa lebih mencekam. Apalagi setelah banyaknya rentetan kejadian aksi kriminal jalanan dan begal. Di tengah ramainya warga yang menikmati laga final hingga dini hari, Claudia justru dihantui rasa cemas. Ia memilih tidak menunggu teman-temannya selesai menonton dan mencari cara agar perjalanan pulangnya tetap aman.
"Tadinya pengen bareng sama teman-teman. Jadi ya mau nggak mau gitu ya pesan ojek gitu buat ngawalnya," lanjutnya.
Namun Claudia tidak hanya memesan satu pengemudi. Ia sengaja memesan tiga driver agar tidak ada satu pun pengemudi yang harus menghadapi risiko sendirian.
"Iya soalnya kalau misalkan pesan satu kan saya nggak mau numbalin ojolnya juga kan. Makanya pesan tiga gitu supaya saling aman lah gitu," katanya.
Baca juga : Menag Tawarkan Ide Pelestarian Lingkungan Melalui Penguatan Konsep Ekoteologi
"Diikutin begal juga pernah, waktu itu saya sampai ke daerah Cikutra, saya sempat diikutin di situ. Akhirnya langsung ke daerah komplek rumah. Kebetulan kan di situ banyak CCTV. Tapi kayaknya mah itu bukan begal, lebih ke orang jahil, cowok-cowok jahil gitu kayaknya mah," tuturnya.
Kriminalitas Tinggi
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 mengungkapkan Kota Bandung sebagai wilayah dengan tingkat risiko kejahatan tertinggi di Jawa Barat, dengan catatan 192 risiko tindak pidana per 100.000 penduduk. Wali Kota Farhan diminta gercep cari solusi.
Pada periode itu kepolisian menerima 2.675 laporan kejahatan. Jika dirata-rata, selang waktu terjadinya tindak pidana di Kota Bandung sangat cepat, rata-rata terjadi kejahatan baru setiap 2,2 jam.
Tingginya angka kriminalitas di suatu daerah berpotensi merusak stabilitas sosial serta menciptakan ketakutan yang menghambat produktivitas harian dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketika ruang publik tidak lagi terasa aman akibat ancaman kejahatan jalanan, warga terpaksa membatasi mobilitas mereka, yang pada akhirnya ikut memukul sektor usaha kecil dan pariwisata lokal.
Baca juga : Jadi Tersangka Kasus Pemerasan di KPK, Bupati Sukoharjo Bungkam
Selain memicu trauma psikologis mendalam bagi para korban, fenomena ini juga menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk memperketat pengawasan.
Jalanan Bandung Gelap
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Kristian Widya Wicaksono mengatakan, meningkatnya aksi begal dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi, lemahnya pengawasan, hingga keberadaan kelompok pelaku yang terorganisasi.
Diapun merespons soal isu soal kondisi Bandung yang gelap karena minimnya lampu penerangan jalan umum (PJU). Dia menjelaskan, melalui pendekatan Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) menunjukkan bahwa pencahayaan yang baik mampu mengurangi peluang terjadinya tindak kriminal karena meningkatkan visibilitas, pengawasan alami, serta rasa aman masyarakat.
"Karena itu, pemasangan PJU seharusnya menjadi bagian dari strategi yang sudah direncanakan sebelumnya, bukan semata respons terhadap meningkatnya perhatian publik,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan penerangan jalan umum hanya salah satu strategi yang efektif untuk mencegah tindak kejahatan. Namun, pemasangan PJU tidak dapat dijadikan satu-satunya solusi dalam mengatasi maraknya kasus begal.
Kristian menambahkan, apabila pemasangan PJU baru dipercepat setelah kasus begal menjadi sorotan publik, maka hal tersebut perlu dievaluasi sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan.
Baca juga : Tugu Insurance Rayakan Panen Raya Hutan Adopsi, Pendapatan Petani Naik
”Jika pelaksanaan baru dipercepat setelah kasus begal mencuat, maka hal tersebut perlu dievaluasi sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan. Pemerintah idealnya menggunakan data kriminalitas, pemetaan wilayah rawan (crime mapping), serta analisis risiko sebagai dasar penentuan prioritas pembangunan, sehingga kebijakan bersifat preventif, bukan reaktif,” tegasnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui masih terdapat sejumlah titik di Kota Bandung yang memiliki pencahayaan kurang memadai. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bandung karena berkaitan langsung dengan rasa aman masyarakat.
”Kalau soal jalan yang gelap, saya akui kita memang sedang mengolah anggaran sedemikian rupa agar bisa segera terang benderang kembali,” kata Farhan, Senin (20/7/2026).
Farhan menargetkan seluruh lampu penerangan di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta sudah berfungsi pada triwulan IV 2026. Jalan tersebut menjadi salah satu prioritas karena kerap dikeluhkan masyarakat dan dinilai sebagai kawasan yang rawan tindak kriminal.
”Saya juga setiap malam sangat khawatir terutama di Jalan Soekarno-Hatta, termasuk kawasan flyover dan sekitarnya. Itu salah satu titik yang rawan, demikian juga kawasan Kiaracondong. Bahkan saya sendiri pernah ikut mengamankan kelompok pelaku begal di wilayah tersebut,” ujar Farhan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya