Dark/Light Mode

Trump Tak Berniat Serang Iran, Klaim Teheran Stop Tindas Demonstran

Kamis, 15 Januari 2026 18:55 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto White House)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto White House)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan telah menyampaikan kepada Iran bahwa dirinya tidak berniat melancarkan serangan militer. Trump juga meminta Teheran untuk menahan diri.

Informasi tersebut disampaikan Duta Besar (Dubes) Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, Kamis (15/1/2026), saat melakukan kunjungan ke National Rahmatul-lil-Alameen Authority, Pakistan, dan bertemu dengan Ketua lembaga tersebut, Khurshid Ahmad Nadeem.

Sebagaimana diberitakan media Pakistan, Dawn, Kamis (15/1/2026), Moghadam mengatakan, pesan dari Trump diterimanya sekitar pukul 01.00 waktu Pakistan, atau 03.00 WIB.

“Pesan itu menunjukkan bahwa Presiden Trump tidak menginginkan perang,” ujar Moghadam, seraya menambahkan bahwa Trump secara khusus meminta Iran tidak melakukan serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan.

Baca juga : Singapura Minta Warganya Segera Tinggalkan Iran, Situasi Makin Mencekam

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi langsung dari Gedung Putih terkait laporan tersebut. Namun, sinyal komunikasi tidak langsung ini dinilai dapat membuka ruang deeskalasi di tengah kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington DC dan Teheran, menyusul gelombang demonstrasi besar-besaran di Negeri Mullah itu. Pernyataan keras Trump yang mendukung demonstran dalam beberapa hari ini sempat memicu spekulasi kemungkinan eskalasi militer.

Trump sebelumnya beberapa kali melontarkan ancaman akan melakukan intervensi dengan alasan mendukung para demonstran. Unjuk rasa yang dipicu meningkatnya biaya hidup itu telah mendorong otoritas setempat memberlakukan pembatasan akses internet.

Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS, protes yang berlangsung pada 28 Desember 2026 itu telah menyebabkan setidaknya 2.400 orang meninggal. CNN, Kamis, tidak dapat memverifikasi angka-angka HRANA secara independen.

Baca juga : Trump Tekan Negara Mitra Dagang Iran Dengan Tarif 25%

Namun rekaman video yang diperoleh CNN sebelumnya menunjukkan, lebih dari 100 jenazah yang diletakkan dalam kantong di pusat Kahrizak. Ketika itu orang-orang panik mencari kerabat mereka.

Rabu (14/1/2026), Presiden ke-47 AS menyatakan telah menerima informasi bahwa penindasan terhadap demonstran di Iran telah dihentikan. Dia menambahkan akan melihat dan memantau perkembangan sebelum mengambil langkah lebih lanjut terkait opsi militer.

Trump menyatakan telah menerima jaminan dari sumber penting di pihak Iran. Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu malam waktu setempat.

“Kami diberi tahu bahwa pembunuhan di Iran sedang berhenti—sudah berhenti—sedang dihentikan. Dan tidak ada rencana untuk eksekusi, baik eksekusi massal maupun eksekusi tunggal, setidaknya itulah informasi yang saya terima dari sumber yang dapat dipercaya,” kata Trump, dilansir The Guardian, Kamis (15/1/2026).

Baca juga : Pengamat: Pemerintah Serius Tangani Bencana Sumatera hingga Pencegahan

Meski demikian, Trump mengakui, pihaknya belum melakukan verifikasi independen atas klaim tersebut. Ia juga tidak membeberkan secara rinci sumber informasi yang menjadi dasar pernyataannya.

Pemerintan Iran Buka Dialog

Moghadam menegaskan, rakyat Iran memiliki hak yang sah untuk melakukan aksi protes. Menurutnya, Pemerintah Iran juga telah membuka ruang dialog dengan para demonstran untuk menampung tuntutan yang disampaikan secara damai.

Namun demikian, ia mengklaim situasi di lapangan menjadi rumit akibat adanya kelompok bersenjata yang memanfaatkan aksi protes. Kelompok tersebut, kata Moghadam, terlibat dalam aksi pembunuhan serta melakukan serangan terhadap masjid,  sehingga memperkeruh kondisi keamanan.

Pemerintah Iran, lanjut Moghadam, membedakan secara tegas antara unjuk rasa damai dan tindakan kekerasan bersenjata yang dinilai berada di luar koridor hukum dan tidak mencerminkan aspirasi rakyat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.