Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Data Kemiskinan BPS Dan Bank Dunia Kok Berbeda
Media Wahyudi Askar: Data Bank Dunia Lebih Realistis Dibanding BPS
Sabtu, 14 Juni 2025 07:40 WIB
Sebelumnya
Apa pandangan Anda terkait data dari Bank Dunia yang menunjukkan angka 68,2 persen penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan?
Saya menilai data dari Bank Dunia lebih realistis dibandingkan dengan data yang dirilis oleh BPS. Angka 68,2 persen itu mencerminkan pendekatan yang lebih aktual dan fair, terutama untuk perbandingan secara internasional.
Mengapa Anda menyebut data Bank Dunia lebih aktual dan adil?
Karena standar yang digunakan Bank Dunia jauh lebih sesuai dengan kondisi nyata masyarakat kita. Mereka tidak hanya melihat angka-angka pengeluaran minimal, tapi mempertimbangkan standar hidup layak dan kemampuan konsumsi masyarakat. Sementara BPS masih menggunakan patokan garis kemiskinan nasional yang hanya sekitar Rp 20.000 per hari. Itu sangat tidak realistis.
Baca juga : Airlangga: Konsumsi Rumah Tangga Penggerak Ekonomi
Pendekatan BPS sudah tidak relevan lagi?
Betul. Saya heran, Pemerintah sering mengatakan Indonesia sudah menjadi negara berpendapatan menengah, tapi batas kemiskinan yang digunakan masih seolah-olah masyarakatnya hidup di level sangat miskin. Ini bentuk standar ganda. Dan perlu dicatat, Indonesia masih menghitung angka kemiskinan berdasarkan pengeluaran, bukan pendapatan. Kalau dihitung dari pendapatan, saya yakin jumlah penduduk miskin kita akan jauh lebih tinggi.
Bisa Anda jelaskan lebih lanjut soal metode berbasis pengeluaran ini?
Metode pengeluaran hanya menghitung berapa uang yang dikeluarkan seseorang dalam sebulan, bukan berapa yang mereka hasilkan. Jadi, orang yang penghasilannya tidak menentu tapi masih bisa belanja karena bantuan atau utang, bisa dianggap tidak miskin. Padahal kondisi riilnya sangat rentan.
Baca juga : Jokowi Sedang Berhitung Peluang Menahkodai PSI
Bagaimana kondisi masyarakat menengah bawah saat ini menurut Anda?
Banyak dari kelompok menengah bawah yang turun kelas menjadi kelompok miskin rentan. Ini kelompok yang secara statistik tidak masuk kategori miskin ekstrem, tapi kondisi ekonominya sangat rapuh.
Pemerintah mengklaim angka kemiskinan ekstrem menurun. Apa tanggapan Anda?
Ya, Pemerintah bisa saja mengklaim seperti itu karena definisi dan metodenya memungkinkan.
Baca juga : Kemendagri Larang Ormas Berseragam Ala TNI/Polri
Apa yang sebaiknya dilakukan Pemerintah?
Pemerintah harus berhenti bermain dengan definisi. Kita butuh data yang jujur dan metodologi yang komprehensif. Kalau tidak, kebijakan yang disusun akan terus meleset dari sasaran. Perlu ada keberanian untuk mengakui bahwa masalah kemiskinan kita belum selesai, bahkan mungkin lebih besar dari yang selama ini ditampilkan. ASI
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Sabtu, 14 Juni 2025 dengan judul "Data Kemiskinan BPS Dan Bank Dunia Kok Berbeda Media Wahyudi Askar: Data Bank Dunia Lebih Realistis Dibanding BPS"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya