Dark/Light Mode

AI Masuk Kurikulum, Ancaman bagi Kemampuan Berpikir Kritis?

Kamis, 22 Mei 2025 22:34 WIB
Ilustrasi AI masuk kurikulum. (Foto: Putu Wahyu Rama/RM)
Ilustrasi AI masuk kurikulum. (Foto: Putu Wahyu Rama/RM)

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) kian melekat dalam kehidupan masyarakat modern. Teknologi ini tidak hanya merambah dunia industri dan layanan publik, tetapi juga mengubah wajah dunia pendidikan. Dari mempermudah proses belajar-mengajar hingga mengotomatisasi pekerjaan administratif, AI menjanjikan transformasi signifikan di ruang kelas.

Dalam praktiknya, AI di dunia pendidikan memanfaatkan sistem komputer canggih seperti pembelajaran mesin (machine learning), pemprosesan bahasa alami, hingga robotika. Teknologi ini mampu mempersonalisasi materi pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing siswa, sekaligus memberi analisis mendalam terhadap performa akademik mereka. Guru pun terbantu dalam mendeteksi siswa yang berprestasi maupun yang membutuhkan intervensi dini.

Namun, di balik manfaat tersebut, muncul kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang penggunaan AI, terutama terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Kekhawatiran ini diperkuat oleh temuan dalam Jurnal Societies oleh Michel Garlich yang mengkaji penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Studi tersebut melibatkan 666 responden dari beragam usia dan latar belakang pendidikan. Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang intens menggunakan AI justru cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih rendah dibanding mereka yang jarang mengandalkan teknologi tersebut.

Fenomena ini dikenal sebagai cognitive offloading yang merujuk pada kondisi ketika tugas-tugas kognitif seperti analisis dan pemecahan masalah diserahkan kepada AI, alih-alih dikerjakan secara mandiri. Seiring meningkatnya kenyamanan dan efisiensi penggunaan AI, ketergantungan terhadap teknologi ini berisiko menggerus kemampuan berpikir mandiri.

Baca juga : Malam Ini, Bek Brazil Jadi Andalan Jaga Pertahanan Bali United

Hasil penelitian tersebut memberikan wawasan penting bagi para pendidik, pembuat kebijakan, dan pengembang teknologi untuk mendorong penggunaan AI secara bijak dan seimbang. Pasalnya, teknologi generatif dalam AI tidak sekadar menyajikan informasi, tetapi juga memindahkan sebagian besar proses kognitif pengguna seperti memberikan jawaban instan yang berpotensi mengurangi dorongan untuk berpikir kritis.

Terlebih, fenomena cognitive offloading menjadi sorotan utama dalam konteks ini. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang kerap mengandalkan AI untuk menyelesaikan tugas-tugas kognitif—seperti menggunakan mesin pencari untuk jawaban cepat atau mengikuti rekomendasi algoritma dalam pengambilan keputusan—cenderung memiliki tingkat berpikir kritis yang lebih rendah. Ketergantungan berlebihan terhadap AI. Dan menurut temuan tersebut, berisiko menurunkan partisipasi aktif seseorang dalam proses berpikir mendalam dan analitis.

Berpikir Kritis sebagai Fondasi Penting Proses Belajar Siswa

Di tengah arus informasi yang deras dan kerap membingungkan, kemampuan berpikir kritis menjadi keterampilan dasar kognitif yang tak tergantikan. Berpikir kritis memungkinkan siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menginterpretasi informasi secara logis sebelum mengambil keputusan atau menyelesaikan masalah. Proses ini melibatkan penalaran yang tajam, pertanyaan terhadap asumsi yang ada, serta keterbukaan terhadap berbagai sudut pandang.

Baca juga : GPMI Puji Prabowo Mau Rangkul Buruh Dan Elemen Kritis

Dalam konteks pendidikan, berpikir kritis tak hanya menunjang proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, tetapi juga menjadi inti dari hampir seluruh proses belajar. Siswa dituntut untuk menyelami topik-topik kompleks, membedakan argumen yang valid dari yang menyesatkan, serta menilai informasi dengan sikap skeptis yang sehat.

Tak kalah penting, berpikir kritis membantu siswa memahami diri mereka sendiri. Dengan mempertanyakan pola pikir pribadi, siswa dapat menghindari bias kognitif seperti confirmation bias—kecenderungan untuk hanya menerima informasi yang mendukung keyakinan pribadi—atau mengikuti pendapat mayoritas tanpa pertimbangan matang, serta kesalahan penilaian berbasis pengalaman pribadi semata.

Kebiasaan untuk secara aktif bertanya “mengapa saya berpikir seperti ini?” akan melatih siswa melihat dunia dari perspektif yang lebih luas. Hal ini tidak hanya membentengi mereka dari pengambilan keputusan yang impulsif, tetapi juga memperkuat kemampuan dalam menghadapi tantangan yang kompleks secara rasional dan terbuka.

Dengan semakin masifnya peran AI dalam dunia pendidikan, institusi pendidikan dituntut untuk tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga mengatur penggunaannya secara bijak. Sekolah dan lembaga pendidikan perlu mengambil peran aktif dalam memastikan bahwa siswa tidak sepenuhnya bergantung pada AI untuk berpikir dan mengambil Keputusan. Sehingga keputusan memasukkan AI ke dalam kurikulum sekolah perlu adanya pertimbangan lebih lanjut agar siswa tidak menjadi semakin bergantung kepada AI.

Baca juga : Cahaya Kartini, Pertamina Hadirkan Tiga Perempuan Inspiratif

Dalam konteks pendidikan, berpikir kritis merupakan pilar penting dalam pengambilan keputusan. Karena itu, penting bagi masyarakat dan institusi pendidikan untuk memahami secara mendalam bagaimana teknologi AI memengaruhi keterlibatan kognitif siswa. Inovasi harus tetap diimbangi dengan kebijakan dan pendekatan yang menjaga esensi dari proses belajar itu sendiri, yaitu kemampuan manusia untuk berpikir secara aktif, reflektif, dan kritis.

Alih-alih memasukkan AI ke dalam kurikulum sekolah, pelatihan berpikir kritis lah yang seharusnya menjadi bagian utama dari kurikulum, agar siswa mampu menganalisis dan menilai informasi tanpa sepenuhnya mengandalkan kecerdasan buatan. Karena itu, integrasi AI dalam sistem pembelajaran perlu dirancang dengan pertimbangan matang, agar tidak mengikis kemandirian kognitif para siswa.

Herlin Pratiwi
Herlin Pratiwi
Mahasiswa

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.