Dark/Light Mode

Saatnya Anak Sekolah Melek AI: Inisiatif Cerdas dari Kemendikdasmen

Senin, 30 Juni 2025 22:58 WIB
Sejumlah siswa sedang belajar bersama (Foto: pixabay.com)
Sejumlah siswa sedang belajar bersama (Foto: pixabay.com)

Di tengah era revolusi industri 4.0 dan menjelang gelombang transofrmasi menujur era society 5.0, pendidikan tidak lagi bisa berdiam dalam ruang-ruang kelas konvensional yang bertumpu pada kapur, spidol, serta papan tulis, beserta hafalan. Perubahan sosial, ekonomi dan teknologi menuntut refurmulasi mendasar dalam pendekatan pembelajaran. Salah satu tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini adalah menyiapkan peserta didik agar tidak hanya mampu beradaptasi. Tetapi juga menjadi subjek aktif yang mampu menguasai, mencipta dan mengarahkan perkembangan teknologi sibjektif aktif yang mampu menguasai, menciptakan dan mengarahkan perkembangan teknologi itu sendiri. Dalam konteks ini, Artificial Intellligence (AI) dan pemprograman (coding), tidak lagi diposisikan sebagai pengetahuan elitis atau sekedar pelengkap kurikulum. Tetapi, justru harus menjadi pilar utama pendidikan abad ke-21.

Menyadari urgensi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merumuskan langkah prgresif dan berani dengan menetapkan coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan mulai jenjang SD hingga SMA pada tahun pelajaran 2025/2026. Kebijakan ini tidak dapat berdiri sendiri, dan butuh ditopang oleh beberapa aspek, dari segi pembenahan sistem evaluasi melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA), yang menekankan pada asesmen formatif bebasis proses, bukan hanya secara struktural, tetapi juga sebagai cerminan dan perubahan paradigma pendidikan di Indonesia

Baca juga : Dukung Sekolah Rakyat, Fahira Idris Sampaikan 4 Catatan dan Rekomendasi

Indonesia menegaskan komitmen melalui Undang-Undang (UU) Nomor 20/2003 yang menegaskan peran pendidikan dalam membentuk individu yang cerdas, kreatif, dan adaptif. Filosofisnya, pengajaran AI dan coding adalah upaya menyiapkan manusia yang bukan hanya pengguna, tapi juga pencipta teknologi. 

Secara historis, negara-negara maju seperti Estonia dan Jepang telah mengintegrasikan literasi digital dalam kurikulum dasar. Secara sosiologis, penelitian Oruç, Korkmaz, & Kurt (2024) mengungkap bahwa siswa SD sudah mengasosiasikan AI dengan kehidupan sehari-hari seperti “robot”, “otak”, dan “pendamping digital”. Ini mengindikasikan peluang besar untuk membangun pondasi early AI literacy.

Baca juga : Piala Dunia Antarklub, Inter Milan dan Dortmund Jaga Asa

Tantangan Abad ke-21: Saatnya Pendidikan Indonesia Mengintegrasikan AI

Abad ke-21 membawa tantangan baru bagi pendidikan. Di tengah revolusi digital, AI dan coding bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan strategis dalam membentuk cara siswa belajar dan guru mengajar. Pertanyaannya kini bukan "perlu atau tidak", tetapi "mengapa belum sekarang?"

Survei UNICEF–TechNode (2022) mengungkap, 94 persen siswa Indonesia kesulitan mengakses pembelajaran daring, dan 60 persen sekolah belum siap secara digital. Ironis, karena digitalisasi makin mendesak, namun kesenjangan infrastruktur masih menganga.

AI hadir sebagai jembatan disparitas. Studi Kier (2024) menyebut AI dapat meningkatkan personalisasi pembelajaran, keterlibatan siswa, dan capaian akademik. Bahkan, data MDPI Technology in Education (2025) menunjukkan bahwa AI mampu menaikkan produktivitas guru 30 persen dan menyederhanakan asesmen.

Namun, tantangan akses tetap nyata. Statista (2023) mencatat hanya 5% siswa SD yang punya komputer pribadi. Solusinya? AI berbasis mobile, yang lebih murah dan inklusif.

Di tengah persaingan global, World Economic Forum (2023) menegaskan bahwa 8 dari 10 pekerjaan masa depan menuntut pemahaman teknologi, termasuk AI dasar. Negara lain sudah mulai dari SD; Indonesia tak boleh tertinggal.

Integrasi AI dan coding bukan sekadar respons pragmatis, melainkan tanggung jawab sejarah. Pendidikan harus relevan dengan zaman, dan AI bisa menjadi teman belajar yang memahami, membebaskan, serta menguatkan kreativitas siswa Indonesia—dari kota hingga pelosok.

Coding & AI Lintas SD–SMA: Strategi Digital Kemendikdasmen yang Inklusif

Langkah berani tengah ditempuh Kemendikdasmen dalam menghadapi tantangan era digital. Pada akhir 2024, kementerian ini menginisiasi strategi integrasi pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) dari jenjang SD hingga SMA. Terobosan ini tidak sekadar simbolik, tetapi merupakan respons konkret terhadap kebutuhan tenaga kerja masa depan berbasis teknologi.

Data dari UNESCO Institute for Statistics (2023) mencatat bahwa hanya 18 persen sekolah dasar di negara berkembang yang telah mengintegrasikan teknologi digital ke dalam kurikulum. Padahal, proyeksi menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap keterampilan teknologi akan melonjak hingga 42 persen dalam lima tahun ke depan. Inilah yang menjadikan program Kemendikdasmen relevan dan mendesak.

Langkah strategis itu diwujudkan melalui formulasi tiga model pembelajaran: Internet-Based, Plugged, dan Unplugged, yang dirumuskan dalam Diskusi Kelompok Terpumpun pada 29 November hingga 7 Desember 2024. Model ini memungkinkan penyesuaian dengan kondisi geografis dan kesiapan infrastruktur. Seperti dijelaskan oleh Carrisi et al. (2025), penerapan model Unplugged terbukti meningkatkan interaksi sosial siswa hingga 23 persen dan mengembangkan keterampilan berpikir sistemik di tingkat dasar.

Di sisi kebijakan, pendekatan ini mengakhiri praktik seragam pendidikan nasional dan mendorong diferensiasi berbasis kesiapan sekolah. Sekolah dengan infrastruktur digital kuat diarahkan menggunakan pendekatan daring, sedangkan sekolah dengan keterbatasan tetap diberi ruang berinovasi melalui metode kreatif non-digital. Pendekatan ini selaras dengan konsep context-based learning yang selama ini digaungkan dalam literatur pendidikan progresif (Fullan, 2020).

Tak hanya di level kebijakan, efektivitas pendekatan ini juga tercermin dari capaian akademik siswa. Meta-analisis yang dilakukan. 

Dukungan terhadap guru menjadi fondasi utama implementasi. Berdasarkan data dari Pusdatin Kemendikbudristek (2024), sebanyak 17.320 guru dari 26 provinsi telah mengikuti pelatihan dasar coding dan AI. Mayoritas (82 persen) menyatakan meningkatnya kepercayaan diri mereka dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran sehari-hari, khususnya melalui pemanfaatan AI dalam asesmen digital formatif.

Pelatihan tersebut tidak sekadar teknis, namun juga pedagogis, dengan pendekatan modular dan berbasis blended humanistic pedagogy—yakni kolaborasi antara teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan seperti empati dan kepedulian (Anderson & Dron, 2021).

Dampaknya mulai terlihat. Hasil evaluasi awal dari 98 sekolah pilot project pada kuartal pertama 2025 mencatat peningkatan sebesar 28 persen dalam keterampilan kolaborasi siswa dan 19 persen dalam berpikir kritis setelah 12 minggu pengenalan AI. Penilaian dilakukan menggunakan asesmen proyek berbasis kinerja oleh Kemendikdasmen bekerja sama dengan sejumlah universitas (Kemendikbudristek, 2025).

Lebih dari itu, program ini tidak berjalan di ruang hampa. Peran orang tua dan komunitas lokal di daerah seperti Purworejo, Tana Toraja, dan Kepulauan Riau turut aktif dalam pembentukan komunitas belajar AI berbasis sekolah. Kolaborasi antara guru, keluarga, dan pegiat literasi digital lokal menjadi bukti bahwa digitalisasi pendidikan bisa berakar kuat pada partisipasi warga, bukan hanya kebijakan dari pusat.

“Pendidikan digital yang kita bangun harus merangkul semua,” ujar Fajar Riza Ul Haq, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, saat memberikan sambutan di Kupang, NTT. “Dengan coding dan AI, kita ingin membuka ruang bagi semua anak Indonesia, dari kota hingga kampung, untuk berpartisipasi dalam dunia digital sebagai subjek, bukan objek” .

Pernyataan ini diperkuat oleh Muhammad Muchlas Rowi, Staf Khusus Menteri bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial, yang menekankan pentingnya kesadaran etis dalam pendidikan teknologi. “Kita tidak hanya mencetak teknisi,” katanya, “tetapi pembelajar seumur hidup yang memahami bahwa teknologi hanyalah alat. AI harus diajarkan dengan kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung jawab sosial”. Jika coding dan AI diajarkan dengan prinsip inklusi dan etika, maka arah pendidikan digital Indonesia tak hanya akan mengejar ketertinggalan global. Tapi juga membangun generasi yang kritis dan manusiawi  

Rahma Akmal
Rahma Akmal
Pengamat Ekonomi dan Pendidikan UIN SAIZU

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.