Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
AI dan Masa Depan Farmasi: Peluang Teknologi Meningkatkan Pelayanan Farmasi
Selasa, 11 Agustus 2026 14:38 WIB
Perkembangan Artifial Intelligence (AI) mulai memberi manfaat dalam bidang farmasi, seperti membantu mengolah data, menemukan obat, mengembangkan formulasi, dan mendukung pelayanan pasien. Namun, AI sebaiknya menjadi alat bantu, bukan pengganti tenaga farmasi karena keputusan terkait kesehatan tetap membutuhkan pengetahuan, ketelitian, tanggung jawab, dan pertimbangan manusia.
AI dalam Penemuan dan Pengembangan Obat
Salah satu manfaat AI yang paling besar terdapat dalam proses penemuan obat. Penemuan obat membutuhkan waktu yang panjang karena peneliti harus mencari senyawa yang sesuai, melakukan pengujian, menentukan formulasi, serta memastikan keamanan dan efektivitasnya. Proses tersebut membutuhkan banyak data dan biaya. AI dapat membantu peneliti menganalisis data dalam jumlah besar dengan lebih cepat.
Tjandrawinata (2025) menjelaskan bahwa penggunaan AI dan big data dapat membantu menemukan pola yang sulit diketahui melalui analisis biasa. Dengan bantuan AI, peneliti dapat memperkirakan kandidat senyawa yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.Menurut saya, AI sangat membantu pada tahap ini karena dapat mengurangi pekerjaan yang berulang. Namun, hasil dari AI tetap harus diuji melalui penelitian. AI hanya memberikan prediksi berdasarkan data yang tersedia sehingga tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam menentukan obat.
Selain penemuan obat, AI juga dapat digunakan dalam formulasi. Sulasmi, Purba, dan Gurusinga (2025) menjelaskan bahwa AI dapat membantu perancangan dan optimasi formula obat. Menurut saya, teknologi tersebut dapat mengurangi jumlah percobaan yang tidak diperlukan sehingga waktu dan biaya penelitian dapat lebih efisien.
AI dalam Pelayanan Farmasi Klinis
Baca juga : Farmasi 4.0: Siapkah Generasi Apoteker Muda Berdampingan dengan AI?
AI juga dapat dimanfaatkan dalam pelayanan farmasi klinis. Seorang apoteker harus memperhatikan banyak hal ketika memberikan pelayanan kepada pasien, seperti dosis obat, interaksi obat, efek samping, dan kondisi pasien. Jika jumlah pasien dan obat yang harus diperiksa cukup banyak, pekerjaan tersebut dapat menjadi semakin kompleks.
Setiadi dkk. (2025) membahas penggunaan aplikasi berbasis AI untuk membantu pemantauan terapi obat di rumah sakit. Menurut saya, penggunaan teknologi seperti ini dapat membantu apoteker menemukan masalah yang perlu diperhatikan dengan lebih cepat. AI dapat membantu mengolah data pasien dan memberikan tanda jika terdapat kemungkinan masalah dalam terapi obat.
Namun, AI tidak boleh menggantikan peran apoteker. Pasien mempunyai kondisi yang berbeda-beda sehingga keputusan penggunaan obat tidak dapat hanya berdasarkan hasil komputer. Apoteker tetap harus menilai kondisi pasien dan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum mengambil keputusan.Bidara dan Serawaidi (2025) juga menjelaskan bahwa AI memiliki peluang dalam pelayanan farmasi klinis, seperti pengkajian resep, pemantauan terapi obat, dan pemantauan efek samping. Walaupun begitu, masih terdapat tantangan seperti keamanan data, bias, etika, dan regulasi.
AI dalam Farmakovigilans
AI juga mempunyai manfaat dalam farmakovigilans atau pemantauan keamanan obat. Setelah obat digunakan oleh masyarakat, tetap diperlukan pemantauan untuk mengetahui adanya efek samping atau masalah lain yang mungkin muncul. Azali, Yusron, dan Darmawan (2025) menjelaskan bahwa big data dapat digunakan dalam farmakovigilans melalui berbagai sumber, seperti rekam medis elektronik dan laporan efek samping obat. Data yang sangat banyak tersebut tentu sulit dianalisis secara manual. AI dapat membantu mencari pola tertentu sehingga informasi mengenai keamanan obat dapat ditemukan lebih cepat. Menurut saya, hal ini sangat penting karena semakin cepat masalah keamanan obat diketahui, semakin cepat pula tindakan dapat dilakukan.
Namun, hasil analisis AI tetap harus diperiksa oleh tenaga profesional agar tidak terjadi kesalahan dalam mengambil kesimpulan. Tantangan Penggunaan AI Walaupun mempunyai banyak manfaat, menurut saya penggunaan AI dalam farmasi juga memiliki beberapa tantangan. Salah satunya adalah kualitas data. AI bekerja berdasarkan data yang diberikan. Jika data tersebut tidak lengkap atau tidak akurat, hasil yang diberikan juga dapat menjadi salah. Masalah lain adalah keamanan dan privasi data pasien. Data kesehatan merupakan informasi pribadi yang harus dilindungi. Penggunaan AI tidak boleh membuat data pasien mudah diakses atau digunakan tanpa izin.
Baca juga : Kecerdasan Buatan di Dunia Farmasi: Antara Revolusi dan Tanggung Jawab Etis
Tenaga farmasi juga perlu memahami tentang teknologi. Menurut saya, mahasiswa farmasi harus mulai mengenal AI sejak sekarang. Tidak berarti semua mahasiswa harus menjadi ahli komputer, tetapi setidaknya harus memahami cara menggunakan AI, mengetahui keterbatasannya dan mampu memeriksa kebenaran informasi yang diberikan.Saya juga berpendapat bahwa AI tidak boleh membuat mahasiswa menjadi malas berpikir. AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu belajar dan bekerja, bukan sebagai pengganti pemahaman. Jika mahasiswa hanya menyalin jawaban AI tanpa memeriksa sumbernya, hal tersebut justru dapat menjadi masalah.
Pengaruh AI di Farmasi
Masa depan farmasi akan semakin berhubungan dengan teknologi. AI kemungkinan akan digunakan lebih banyak dalam penelitian, industri obat, rumah sakit, dan pelayanan kefarmasian. Karena itu, tenaga farmasi perlu mempersiapkan diri agar mampu bekerja berdampingan dengan teknologi.
Saya tidak melihat AI sebagai ancaman bagi apoteker. Justru saya melihat AI sebagai alat yang dapat membantu apoteker melakukan pekerjaan dengan lebih cepat. Pekerjaan yang membutuhkan pengolahan data dalam jumlah besar dapat dibantu oleh AI, sedangkan apoteker dapat lebih fokus pada komunikasi dengan pasien, edukasi, penilaian kondisi pasien, dan pengambilan keputusan.Menurut saya, manusia tetap mempunyai kelebihan yang tidak mudah digantikan oleh AI, terutama dalam hal empati, komunikasi, tanggung jawab, dan pertimbangan berdasarkan kondisi pasien. AI dapat memberikan informasi, tetapi manusia tetap harus menentukan bagaimana informasi tersebut digunakan.
Daftar Pustaka
Azali, A. S., Yusron, M., & Darmawan, E. (2025). Narrative review: Tantangan dan strategi pemanfaatan big data dalam farmakovigilans di Indonesia. PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia, 22(1), 50–54.
Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Membantu Tenaga Farmasi, Bukan Menggantikan Perannya
Bidara, F., & Serawaidi, N. P. A. (2025). Literature review: Peluang dan tantangan penggunaan kecerdasan buatan dalam meningkatkan pelayanan farmasi klinis. Jurnal Kesehatan Mahardika, 12(1), 158–171.
Setiadi, F., Utami, H., Ratih, D., & Subhan, A. (2025). Penguatan praktik farmasi klinis melalui aplikasi berbasis AI untuk pemantauan terapi obat di rumah sakit. Jurnal Farmamedika, 10(1), 98–106.
Sulasmi, S., Purba, J. S., & Gurusinga, M. F. (2025). Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam perancangan dan optimasi formula obat untuk meningkatkan efisiensi pengembangan sediaan farmasi. BEST Journal.
Tjandrawinata, R. R. (2025). Farmasi cerdas: Era baru penemuan obat dengan AI dan big data. MEDICINUS, 38(1), 27–36.
Nola Rosiana
Mahasiswa Universitas Batam
Mahasiswa Universitas Batam
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya