Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Dewa United Vs Bhayangkara FC, Egy MV Cs Bidik Tren Positif
- Malam Ini, Bhayangkara Waspadai Kekuatan Lini Tengah Dewa United
- Garudayaksa FC Vs Persik, Duel Sengit Dua Tim Berambisi Bangkit
- INFOBRAND FORUM 2026 Bedah Perubahan Perilaku Konsumen Era Digital
- Muenchen, MU dan Como Pesta Gol di Liga Champions 2026/27
AI Tingkatkan Efisiensi dan Tanggung Jawab Profesional di Bidang Farmasi
Jumat, 11 September 2026 17:48 WIB
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan dan kefarmasian. Salah satu teknologi yang berkembang pesat adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini mulai digunakan dalam penelitian obat, formulasi sediaan, pelayanan farmasi klinis, farmakovigilans, hingga pendidikan farmasi. Kehadiran AI menunjukkan bahwa pekerjaan di bidang farmasi semakin dekat dengan pemanfaatan data dan teknologi.
Menurut saya, AI lebih tepat ditempatkan sebagai alat bantu yang memperkuat kemampuan manusia. Namun, penggunaannya tetap membutuhkan sikap kritis karena kesalahan informasi obat dapat berdampak terhadap keselamatan pasien. Karena itu, penerapan AI perlu diarahkan untuk mendukung mutu pelayanan, bukan sekadar mengejar kecepatan.
AI dalam Pengembangan dan Formulasi Obat
Pengembangan obat merupakan proses panjang dan kompleks. Banyaknya data yang harus dianalisis membuat AI berpeluang membantu proses tersebut.
AI dapat mempelajari pola dari data penelitian dan menghasilkan prediksi mengenai sifat kandidat obat atau formula. Dalam formulasi, AI dapat membantu menganalisis hubungan antara bahan aktif, eksipien, konsentrasi, serta parameter proses. Sulasmi, Purba, dan Gurusinga menjelaskan bahwa AI dapat membantu proses screening dan optimasi formula obat sehingga pengembangan sediaan menjadi lebih efisien.
Manfaat utama AI pada tahap ini bukan hanya kecepatannya, tetapi kemampuannya mengurangi trial and error. Peneliti dapat memilih alternatif formula yang potensial sebelum pengujian laboratorium sehingga waktu dan sumber daya lebih terarah. Namun, hasil prediksi tetap harus dibuktikan melalui eksperimen dan evaluasi sesuai standar ilmiah.
AI dalam Pelayanan Farmasi Klinis
Baca juga : Revolusi Senyap di Balik Resep: Menimbang Peluang dan Etika AI di Dunia Farmasi
AI juga berpeluang mendukung pelayanan farmasi klinis, seperti pengkajian resep, pemantauan terapi, identifikasi masalah obat, dan pemantauan efek samping. Bidara dan Serawaidi menjelaskan bahwa AI berpeluang mendukung pengkajian resep, pemantauan terapi, monitoring efek samping, dan pelayanan informasi obat. AI dapat membantu apoteker menemukan potensi masalah yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Namun, AI tidak boleh menjadi pengambil keputusan klinis tunggal. Kondisi pasien berbeda dan tidak seluruh informasi dapat diterjemahkan algoritma. Riwayat penyakit, kepatuhan, dan kebutuhan pasien tetap membutuhkan pertimbangan profesional. Karena itu, prinsip human in the loop penting: AI memberikan rekomendasi, sedangkan apoteker melakukan verifikasi dan mengambil keputusan.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi dapat meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan tanggung jawab profesi. Peran apoteker tetap penting karena keputusan mengenai terapi obat tidak hanya membutuhkan data, tetapi juga penilaian klinis dan pemahaman terhadap kondisi pasien.
AI dalam Farmakovigilans
Farmakovigilans merupakan bidang potensial untuk AI karena berhubungan dengan pengumpulan dan analisis data efek samping obat dari berbagai sumber. Analisis manual terhadap data besar membutuhkan waktu dan tenaga.
Azali, Yusron, dan Darmawan menjelaskan bahwa big data dapat mendukung farmakovigilans melalui analisis berbagai sumber data. Integrasi AI dan machine learning juga berpotensi membantu analisis prediktif serta deteksi sinyal efek samping obat lebih dini. Kemampuan tersebut dapat membuat farmakovigilans lebih proaktif karena pola tertentu dapat ditemukan lebih dini.
Meski demikian, privasi dan keamanan data pasien harus menjadi perhatian. Kualitas data, interoperabilitas sistem, dan regulasi juga memengaruhi hasil analisis. Data yang tidak lengkap atau tidak representatif dapat menghasilkan kesimpulan bias, sehingga pengawasan manusia tetap diperlukan.
Baca juga : Revolusi Farmasi di Era AI dan Tanggung Jawab Etis
AI dalam Pendidikan Farmasi
AI juga mulai memengaruhi pendidikan farmasi. Aplikasi seperti ChatGPT dapat membantu memahami materi, membuat rangkuman, mencari ide penelitian, atau menyusun kerangka tulisan. Masyurah dan Ningsih menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT telah menjadi fenomena akademik, termasuk dalam pengerjaan laporan praktikum.
AI bermanfaat jika digunakan sebagai alat bantu belajar. Mahasiswa dapat meminta penjelasan konsep sulit, lalu memeriksa jawabannya melalui buku, pedoman, dan jurnal. Masalah muncul ketika AI menggantikan proses berpikir. Mahasiswa tetap harus memahami mekanisme kerja obat, efek samping, interaksi, serta alasan ilmiah di balik keputusan.
Karena itu, literasi AI perlu menjadi bagian dari pendidikan farmasi. Mahasiswa harus mampu memeriksa kebenaran informasi, mengenali keterbatasan sistem, dan membandingkan hasilnya dengan sumber ilmiah terpercaya. Kemampuan ini penting karena tenaga kefarmasian masa depan akan bekerja berdampingan dengan teknologi.
Tantangan dan Tanggung Jawab Profesional
AI memiliki kemampuan yang mengesankan, tetapi tidak berarti seluruh keluarannya benar. Kesalahan mengenai dosis, interaksi obat, atau efek samping dapat menimbulkan risiko serius. Bias data juga dapat membuat sistem kurang akurat.
Persoalan tanggung jawab juga penting. Jika AI memberikan rekomendasi yang salah, keputusan profesional tidak dapat dialihkan kepada mesin. Apoteker harus memahami kapan hasil AI dapat digunakan dan kapan harus ditolak. Profesional farmasi tidak harus menjadi programmer, tetapi wajib memiliki literasi digital dan kemampuan menilai teknologi secara kritis.
Baca juga : AI di Farmasi: Menjinakkan Teknologi, Memanusiakan Layanan
Kesimpulan
Kecerdasan buatan memiliki potensi besar untuk mendukung dunia farmasi. AI dapat membantu pengembangan formula obat, pelayanan farmasi klinis, farmakovigilans, dan pendidikan farmasi. Pengolahan data dalam jumlah besar dapat meningkatkan efisiensi pekerjaan kefarmasian.
Namun, penggunaan AI harus bertanggung jawab. Kualitas data, privasi, keamanan, bias algoritma, validitas hasil, dan pengawasan profesional tidak boleh diabaikan. Dalam bidang yang berhubungan dengan keselamatan pasien, penggunaan teknologi harus tetap disertai ketelitian dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, AI sebaiknya diposisikan sebagai asisten cerdas, bukan pengganti manusia. Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi keputusan tetap membutuhkan pengetahuan, pertimbangan klinis, dan nilai kemanusiaan. Apoteker masa depan adalah tenaga profesional yang mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab. Dengan pendekatan tersebut, AI dapat meningkatkan mutu penelitian dan pelayanan farmasi tanpa menghilangkan peran penting tenaga kefarmasian.
Aurora Salsabila Edlia Putri
Mahasiswa S1 Farmasi Universitas Batam
Mahasiswa S1 Farmasi Universitas Batam
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya