Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ketika berbicara tentang hidup sehat, perhatian kita biasanya langsung tertuju pada pola makan dan olahraga. Kita jarang menyadari bahwa tidur aktivitas yang menghabiskan sepertiga hidup kita memiliki peran yang sama pentingnya. Bagi generasi muda, masa-masa produktif sering diisi dengan begadang untuk menyelesaikan tugas, bermain media sosial, atau menonton serial favorit. Padahal, kebiasaan ini perlahan menggerogoti kesehatan fisik dan mental yang justru sedang dalam masa pembentukan.
Tulisan ini akan membahas mengapa kualitas tidur layak mendapat perhatian serius, khususnya bagi mereka yang berada di usia produktif. Banyak orang menganggap tidur sebagai waktu "mati" yang bisa dikorbankan kapan saja. Anggapan ini keliru. Saat kita tidur, tubuh menjalankan serangkaian proses biologis yang tidak bisa digantikan oleh istirahat siang atau kopi. Pada tahap tidur dalam, tubuh memperbaiki jaringan yang rusak, memperkuat sistem imun, dan melepaskan hormon pertumbuhan. Sementara itu, pada tahap tidur REM (Rapid Eye Movement), otak mengolah memori dan emosi yang kita alami sepanjang hari.
Artinya, ketika tidur kita terganggu, proses-proses penting ini ikut terganggu. Tubuh tidak sempat pulih, memori tidak tersimpan dengan baik, dan emosi menjadi sulit dikendalikan. Inilah sebabnya orang yang kurang tidur sering merasa lemas, sulit fokus, dan mudah tersinggung. Generasi muda berada pada fase yang penuh tuntutan. Tekanan akademik, keinginan berprestasi, dan kehidupan sosial yang dinamis sering membuat waktu tidur menjadi hal pertama yang dikorbankan. Padahal, kurang tidur justru menurunkan kemampuan kita untuk menghadapi tekanan tersebut.
Baca juga : Risiko Kehamilan di Usia Muda Akibat Pernikahan Dini
Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dalam jangka panjang meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung penyakit yang kini semakin sering ditemukan pada usia muda. Kurang tidur juga mengacaukan hormon pengatur nafsu makan, sehingga kita cenderung makan berlebihan dan memilih makanan tidak sehat. Akibatnya, berat badan naik dan risiko obesitas meningkat.
Dari sisi mental, kurang tidur berkaitan erat dengan kecemasan dan depresi. Mahasiswa yang sering begadang untuk belajar sering kali justru mendapat nilai buruk karena daya ingat dan konsentrasinya menurun. Jadi, mengorbankan tidur demi produktivitas sering kali menjadi keputusan yang salah kaprah. Ada satu hal yang jarang dibahas: hubungan antara tidur dan kecerdasan emosional. Orang yang tidur cukup lebih mampu mengendalikan emosi, berpikir jernih, dan berempati kepada orang lain. Sebaliknya, kurang tidur membuat kita lebih mudah marah, cemas, dan mengambil keputusan secara impulsif.
Bayangkan, seorang mahasiswa yang tidur hanya empat jam sebelum presentasi. Ia mungkin tampak siap secara materi, tetapi kecil kemungkinan ia mampu menjawab pertanyaan dengan tenang atau menanggapi kritik dengan kepala dingin. Tidur yang cukup, dengan kata lain, bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga modal untuk bersikap dewasa dalam menghadapi situasi sulit. Masalahnya, budaya begadang di kalangan generasi muda sudah dianggap wajar, bahkan kadang dibanggakan. Kita perlu mengubah cara pandang ini. Tidur cukup bukan tanda kemalasan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Baca juga : K3 FKM UI Komit Perkuat Fondasi Keilmuan & Cetak Talenta Unggul
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa mulai diterapkan. Pertama, tetapkan jam tidur dan bangun yang konsisten, termasuk di akhir pekan. Kedua, hindari layar gadget setidaknya satu jam sebelum tidur, karena cahaya biru mengganggu produksi melatonin, hormon yang membuat kita mengantuk. Ketiga, ciptakan suasana kamar yang nyaman gelap, tenang, dan tidak terlalu panas. Keempat, hindari kafein menjelang sore dan makanan berat sebelum tidur. Kebiasaan-kebiasaan ini mungkin tampak sepele, tetapi dampaknya besar jika dilakukan secara konsisten.
Kesehatan bukan hanya soal apa yang kita makan atau berapa sering kita berolahraga. Tidur yang cukup dan berkualitas adalah fondasi yang menopang keduanya. Bagi generasi muda yang sedang membangun masa depan, menjaga tidur berarti menjaga kemampuan untuk belajar, bekerja, dan berinteraksi dengan orang lain secara sehat. Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan tidur sebagai kemewahan yang bisa ditunda. Tidur cukup adalah investasi jangka panjang bagi tubuh dan pikiran. Jika kita serius ingin hidup lebih sehat, mungkin langkah pertama yang paling sederhana adalah mematikan lampu lebih awal malam ini.
Naskah ini ditulis Kesya Maulida, Luthfiah Mawar M.K.M., Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. dan Annisa Ardianti Br Tarigan. Lalu diedit Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara
IKM10 UINSU Stambuk 2026c
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya