Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
CORE: Kebijakan BMAD Bisa Picu China Retaliasi Perdagangan Indonesia
Minggu, 18 Agustus 2024 11:59 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan, potensi retaliasi dari China menjadi ancaman serius bagi perdagangan Indonesia, jika kebijakan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) dikenakan terhadap produk keramik dari negara tersebut.
Menurut Mohammad Faisal penerapan BMAD harus dipertimbangkan secara matang mengingat risiko retaliasi yang bisa berdampak lebih luas terhadap perdagangan dalam negeri.
Jika niat pemerintah ingin menyelamatkan industri keramik dalam negeri dengan BMAD, Faisal menilai, penerapan kebijakan itu tidak efektif.
"Saya katakan pengenaan bea masuk itu sifatnya temporer, sementara, maka dia tidak mengobati akar permasalahan, jadi dia bisa bertahan tetapi begitu nanti sudah habis waktunya bea masuk harus di normalisasi kembali akan muncul masalah baru," ujar Faisal, Sabtu (17/8/2024).
"Oleh karena itu kalau memang pemerintah ingin menerapkan bea masuk untuk menyelamatkan industri dalam negeri jadi jangan cuma mengandalkan bea masuk saja. Akar permasalahannya harus diobati," sambungnya.
Baca juga : Gelar Kopi Darat Di 3 Kota, Pertamina Ungkap Rahasia Pengusaha Sukses
Faisal mengatakan, industri dalam negeri China bisa maju dan memiliki daya saing lantaran mendapatkan dukungan penuh oleh pemerintahnya, baik itu dari segi pajak, pemberian insentif dan lain sebagainya.
"Karena China itu dia lebih murahnya itu karena pemerintahnya jor-joran memberikan insentif kepada industri nya sehingga ketika dijual jauh lebih murah sampai insentif pajak, non pajak, listrik murah segala macam," paparnya.
"Nah ini yang harus dipikirkan oleh pemerintah. aya kira bukan hanya untuk industri keramik tetapi juga industri-industri yang lain karena industri yang lain juga menghadapi permasalahan yang sama dengan produk-produk China," tambahnya.
Faisal mengatakan, ancaman retaliasi dari China mungkin terjadi. Pemerintah perlu mengantisipasinya dengan langkah-langkah yang tepat untuk menghindari hal tersebut.
"Masalah retaliasi memang bisa bahwa memang setiap kali ada kebijakan yang sifatnya safeguard pasti akan mendapatkan tantangan dari negara mitra, nah dalam konteks itu berarti Indonesia perlu mempersiapkan secara diplomatik bahwa kalau kita dikenakan retaliasi nanti apa langkah-langkah pemerintah untuk menghindari hal tersebut," ucapnya.
Baca juga : Pasang Target Tinggi, LNE Optimis Truk China FAW Bisa Laris Manis Di Indonesia
Dikatakan Faisal, China sudah biasa melakukan balasan atau retaliasi terhadap negara-negara yang mereka anggap tidak adil. China cukup berani melakukan balasan, bahkan dengan Amerika Serikat.
Sebab, negeri Tirai Bambu itu sudah memiliki kekuatan ekonomi yang seimbang, sehingga berani melakukan balasan.
"Ini masalah retaliasi itu sesuatu yang biasa terjadi di dalam hubungan perdagangan internasional antar negara tidak usah jauh-jauh kemarin saja, China dikenakan tarif tinggi oleh Amerika kemudian langsung dibalas lagi," bebernya.
Tidak hanya dengan Amerika, China juga berani melawan Eropa yang mengenakan tarif mahal terhadap produk mobil listriknya.
"Jadi memang kita harus menyiapkan antisipasi kalau kemudian terjadi retaliasi," ucapnya.
Baca juga : Selamatkan Ekonomi dan Perdagangan Indonesia, Indef Usul Batalkan BMAD
Oleh karena itu, Faisal mengatakan kebijakan BMAD ini perlu ditinjau ulang. Pemerintah harus menghitung secara cermat dan memberikan bukti yang kuat bahwa produk keramik dari China memang terbukti melakukan retalisasi.
Kelemahan pemerintah, kata Faisal, adalah tidak memiliki bukti yang cukup sebagai dasar kebijakan penerapan regulasi tersebut.
"Ditinjau kembali itu artinya harus dipersiapkan dengan matang dikalkulasi dengan matang kalau mau dikenakan mau berapa. Jangan tiba-tiba misalkan 200 persen, kenapa nggak 100 persen, misalkan begitu," ucapnya.
Jadi, ada kalkulasi yang matang untuk mengantisipasi potensi retaliasi dan harus ada metode ada langkah untuk memperkuat daya saing dalam negeri.
"Harus ada satu pegangan yang kuat dasar yang kuat kalau kita mau menaikkan 200, 100, kadang-kadang pemerintah kan tidak kuat juga pijakan dasarnya," tukasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya