Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Inflasi AS Di Atas Ekspektasi, Harga Bitcoin Tertahan Di Rp 966 Juta
Senin, 14 Oktober 2024 12:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Harga Bitcoin (BTC) saat ini berada di sekitar 62.000 dolar AS atau Rp 966 juta setelah sebelumnya sempat menyentuh level 59.000 dolar AS atau Rp 919 juta
Pergerakan ini terjadi setelah rilis laporan inflasi Amerika Serikat (Consumer Price Index atau CPI) untuk bulan September 2024 yang menunjukkan hasil lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Inflasi tahunan tercatat meningkat sebesar 2,4 persen, sedikit di atas proyeksi sebesar 2,3 persen. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga energi dan makanan, juga naik menjadi 3,3 persen, mengalahkan prediksi pasar sebesar 3,2 persen.
Baca juga : Perpusnas Kupas Buku Politik Pertahanan Dahnil Anzar Simanjuntak
CEO Indodax, Oscar Darmawan mengatakan, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan ini memberikan tekanan tambahan pada aset berisiko seperti Bitcoin. “Langkah Federal Reserve menurunkan suku bunga diharapkan bisa memberikan dorongan bagi pasar kripto, tapi pasar masih merespons dengan hati-hati,” ungkap Oscar, Senin (14/10/2024).
Ia menjelaskan, ketidakpastian ekonomi global dan situasi geopolitik yang terus berubah turut mempengaruhi sentimen pasar kripto.
Meskipun penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS sebesar 50 basis poin pada September 2024 diharapkan menjadi sinyal positif untuk aset digital seperti Bitcoin, efek kebijakan ini belum terasa dalam jangka pendek. “Pasar kripto saat ini berada dalam fase konsolidasi. Banyak investor yang masih menunggu kejelasan dari arah kebijakan The Fed sebelum mengambil keputusan lebih agresif,” tambah Oscar.
Baca juga : Rekomendasikan Produk Mitsubishi, Dapatkan Bonus Rp 1,5 Juta
Selain itu, laporan terbaru tentang inflasi membuat prospek adanya pemangkasan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin di bulan November semakin berkurang. Inflasi yang lebih tinggi dari target Federal Reserve sebesar 2% menimbulkan kekhawatiran bahwa pelonggaran moneter lebih lanjut dapat memicu inflasi yang lebih tinggi lagi.
Meski demikian, Oscar tetap optimis dalam jangka menengah hingga panjang, Bitcoin memiliki potensi untuk kembali menguat. “Di balik tekanan jangka pendek ini, saya melihat peluang besar bagi Bitcoin untuk pulih, terutama jika inflasi berhasil ditekan dan kebijakan moneter mulai melonggar,” jelasnya.
Selain faktor ekonomi, kondisi politik juga mulai memainkan peran penting dalam mempengaruhi harga aset kripto. Menjelang pemilihan presiden AS tahun 2024, spekulasi mulai muncul terkait kemungkinan terpilihnya pemimpin yang lebih ramah terhadap aset digital.
Baca juga : BI DKI Catat Inflasi Di Jakarta Juli 2024 Terkendali, Harga Pangan Stabil
“Investor tetap optimis bahwa Bitcoin bisa mengalami pemulihan pada kuartal terakhir tahun ini, terutama jika kebijakan ekonomi global lebih mendukung sektor kripto,” ujar Oscar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya