Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Sebagai negara anggota kelompok G-20 (19 negara di tambah kelompok Uni Eropa sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia, Red), masyarakat Indonesia mestinya tak lagi punya masalah untuk mengakses air bersih.
Apalagi 2/3 wilayah Indonesia adalah lautan dan perairan, serta memiliki 128 wilayah sungai (WS) di seluruh Indonesia.
Tapi faktanya, berdasarkan laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), baru 88 persen masyarakat yang memiliki akses ke air baku. Sedangkan akses sarana sanitasi layak baru dinikmati oleh 77 persen masyarakat.
Itu baru akses terhadap sumber air minum yang layak. Sedangkan akses air minum yang aman melalui perpipaan, baru mendekati 20 persen.
Dalam hal ini, Jasa Tirta II sebagai perusahaan yang beroperasi sejak 1967 dan menjalankan penugasan untuk menyelenggarakan pemanfaatan umum atas air dan sumber-sumber air yang bermutu dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak, sekaligus mengelola daerah aliran sungai jelas berperan penting untuk menuntaskan masalah itu.
Baca juga : Dapat Anugerah Asian of The Year 2019, Jokowi: Ini untuk Indonesia
Selama 52 tahun terakhir, Jasa Tirta II punya potensi untuk terus meningkatkan peran dan kontribusinya kepada negara.
Di tangan U Saefudin Noer, mantan bankir bertangan dingin, Jasa Tirta II bergerak progresif menuju terwujudnya amanat tersebut.
Saefudin yang baru sembilan bulan menakhodai Jasa Tirta II, berhasil melakukan sejumlah gerakan perubahan dan mencetak prestasi.
Seminggu pertama setelah dilantik sebagai direktur utama, dia langsung menuju lapangan dari hulu hingga hilir di seluruh wilayah kerja perusahaan. Ia mencanangkan gerakan agar anak buahnya dan juga masyarakat sekitar Jatiluhur, membudayakan kebersihan. “Sungaimu adalah halaman depanmu”. Begitu kata Saefudin menyemangati masyarakat.
Gerakan bersih-bersih air, mulai dari eceng gondok yang mengganggu pengelolaan sumber daya air (SDA) pun dilaksanakan dalam rangka Hari Air Dunia dan HUT Kementerian BUMN 10 April 2019. Hasilnya, waduk jatiluhur dan sungai bebas eceng gondok dan kualitas air terjaga.
Baca juga : Hari Pertama SEA Games 2019, Renang Sumbang 3 Medali Untuk Indonesia
Ia berprinsip “ Change is good . Improvement is Better”. Perubahan memang penting , tapi perbaikan jauh lebih penting.
Tak cuma itu, Saefudin juga berhasil menanamkan nilai transformasi di Jasa Tirta II dalam kurun waktu 100 hari dengan program Quick-win di berbagai bidang. Hingga akhirnya, Saefudin pun diganjar penghargaan CEO Revolusi Mental Gotong Royong Terbaik II dan Gold Winner Kategori Indonesia Bersih oleh BUMN Track pada 19 September 2019.
Dua bulan berselang, kehandalannya sebagai akselerator transformasi kembali dihadiahi penghargaan. Alumnus Insead Business School Leadership Program di Singapura dan Prancis itu sukses menyabet dua penghargaan dalam Indonesia BusinessNews Awards 2019 (IBA 2019). Yaitu The Best CEO in Environment and Water Management Industry 2019, serta The Best Innovation and Business Transformation in Environment and Water Management Industry 2019.
Ia tidak berpuas diri. Tidak hanya pada level nasional, Program konservasi Jasa Tirta II dengan program pencegahan pencemaran sungai dengan EBT Biogas dengan community empowerment memperoleh pengakuan tingkat internasional, sebagai bentuk kontribusi nyata pada ketahanan air dan energi baru terbarukan.
Penghargaan ASEAN Renewable Energy Project Award 2019 pada kategori thermal off-grid renewable energy diterima oleh perwakilan Jasa Tirta II di Bangkok, Thailand September 2019. Itu adalah satu-satunya program dari Indonesia, yang menerima penghargaan.
Baca juga : Top, Empat Startup Indonesia Jajaki Pasar Swiss
Dengan semangat mendongkrak pariwisata Jatiluhur agar bisa go internasional, sebagai bentuk apresiasi gotong royong pembersihan air, Saefudin pun membesut event The 1st Stand Up Paddle & Kayak Exhibition, The 1st Heroes 5K Fun Run dan The 1st Jatiluhur Jazz Festival 2019.
Dalam event music yang diramaikan oleh sejumlah musisi lokal dan internasional seperti Dwiki Dharmawan World Peace Project feat Steve Thornton, Kamal Musallam dan Wizzy, Syaharani & Queenfireworks, dan Java Jive, Jasa Tirta II getol mempromosikan penghijuan, kampanye kebersihan air dan pariwisata melalui music tourism, sekaligus sarana meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Event ini juga dilaksanakan untuk memperkuat ekonomi masyarakat dalam ekosistem ekonomi melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah, UMKM, pelaku ekonomi lokal dan kreatif, para seniman dan budayawan lokal, nasional dan mancanegara.
Itulah sederetan kiprah Jasa Tirta II dalam sembilan bulan kepemimpinan Saefudin. Jika dilihat dari capaian-capaian tersebut, cita-cita bangsa Indonesia mensejajarkan diri dengan negara-negara maju melalui akses air minum yang aman melalui perpipaan, tampaknya bukan sekadar isapan jempol.
“Kuncinya ada pada eksekusi dan konsistensi. Pengetahuan saja tidak cukup untuk mengubah keadaan. Perlu tindakan cepat dan nyata. Perlu eksekusi. Saya yakin, Indonesia pasti bisa masuk kategori negara maju melalui penyediaan dan akses air minum yang aman,” tegas Saefudin. [WHY/HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya