Dark/Light Mode

Pemerintahan Prabowo Didorong Fokus Serap Angkatan Kerja di Sektor Formal

Senin, 21 Oktober 2024 16:37 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka didorong untuk fokus menyerap angkatan kerja di sektor formal, agar tidak beralih ke sektor informal.

Pasalnya, saat ini banyak angkatan kerja yang tidak terserap oleh sektor-sektor formal. Banyak dari angkatan kerja memilih bekerja di sektor informal, antara lain buruh harian, pekerja borongan pabrik, atau juga sebagai gig worker seperti ojek online (ojol) atau taksi online.

Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah mengatakan, pertumbuhan angkatan kerja baru setiap tahunnya berkisar antara 3-4 juta.

Sementara ketersediaan lapangan kerja formal hanya mampu menyerap sekitar 1 juta tenaga kerja.

Baca juga : Bamsoet Dorong Pembentukan Otoritas Perlindungan Data Pribadi

“Saat ini ekonomi RI hanya mampu menyerap sekitar 200 ribu tenaga sektor formal setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi. Sehingga dengan PDB dikisaran 5 persen, maka sektor formal hanya mampu menyerap sekitar 1-1,2 juta tenaga kerja per tahun,” kata Piter.

Dampak ketidakseimbangan antara pertumbuhan lapangan kerja formal dengan pertumbuhan angkatan kerja inilah yang membuat banyak angkatan kerja yang memilih pekerjaan informal seperti ojol sebagai penopang biaya hidup.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Segara Research Institute bertajuk “Potret Beban Kerja Dan Penghasilan Pekerja Informal di Indonesia” menunjukan bahwa pekerjaan informal sebagai pengemudi taksi online dan pengemudi ojol menyerap lulusan S1 tertinggi dibandingkan pekerjaan informal lainnya.

Hasil survei itu menunjukan sebesar 26,53 persen dari responden pengemudi taksi online, dan 17,42 persen dari responden pengemudi ojol adalah lulusan sarjana.

Baca juga : Dudung: Pelantikan Prabowo Momentum Kebangkitan Ekonomi RI

Menurut hasil survei tersebut, banyaknya angkatan kerja yang memilih bekerja sebagai pengemudi taksi online dan ojol dikarenakan keduanya memiliki banyak kelebihan dibandingkan sektor informal lainnya.

Pertama yaitu dari sisi penghasilan yang lebih besar, dimana rata-rata penghasilan per bulan mereka masing-masing Rp 7,23 juta perbulan dan Rp 5,36 juta perbulan.

Sementara pekerjaan informal lainnya, misalkan pengemudi konvensional hanya mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 4,79 juta perbulan. Lalu yang kedua yaitu dari sisi jaminan keselamatan kerja dan kesehatan kerja.

Rata-rata pengemudi taksi online dan ojol mendapatkan bantuan kedua fasilitas tersebut.

Baca juga : Pramono Doakan Pemerintahan Prabowo-Gibran Sejahterakan Rakyat Indonesia

Sementara pekerja informal lainnya menyatakan hanya sedikit dari mereka yang mendapatkan fasilitas tersebut. Dan yang terakhir yaitu dari sisi waktu atau jam kerja.

Dimana ojol atau taksi online memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel dalam menentukan sendiri jumlah jam kerja mereka.

Oleh karena itu, Piter berharap, pemerintah memberikan dukungan kebijakan yang tepat terhadap potret pekerja informal sehingga regulasi yang ada mampu melindungi pekerja informal termasuk di sektor ride hailing.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.