Dark/Light Mode

Pertumbuhan Ekonomi Syariah Melesat

Bos BSI Pede RI Geser Peringkat Arab Saudi

Selasa, 22 Oktober 2024 07:05 WIB
Direktur Utama BSI Hery Gunardi optimistis pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia terus melesat, (Foto: Dok. BSI)
Direktur Utama BSI Hery Gunardi optimistis pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia terus melesat, (Foto: Dok. BSI)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI meyakini, pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia akan terus melesat. Bahkan, mengalahkan pertumbuhan Arab Saudi. Karena, Indonesia memiliki potensi market dan jumlah populasi penduduk Muslim yang besar.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi bahkan optimistis, jika kekuatan ekonomi syariah di dalam negeri tumbuh, maka bisa menggeser peringkat Arab Saudi di dunia.

Saat ini populasi penduduk Muslim di dunia mencapai 1,92 miliar orang. Pakistan berada di urutan pertama dengan populasi sebesar 241 juta penduduk. Di peringkat kedua adalah Indonesia, dengan jumlah 236 juta penduduk.

Berdasarkan Global Islamic Economy Indicator 2023/2024, Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi syariah yang pesat. Indonesia naik peringkat ketiga mengalahkan Uni Emirates Arab (UAE).

“Bahkan bisa saja menggeser peringkat dua Arab Saudi,” kata Hery dalam acara Communication Summit 2024, Jumat (18/10/2024).

Baca juga : Beban Kementerian Tak Besar Lagi, Lebih Fokus

Hery mengatakan, selama 3,5 tahun berdiri, BSI yang merupakan hasil merger antara Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, dan BRI Syariah ini berhasil tumbuh double digit.

“Kenapa bisa double digit? Ya, karena memang demand-nya ada. Bahkan analis banyak melihat potensi pertumbuhannya akan semakin besar,” optimis Hery.

Ketika market cap saham BSI, atau BRIS, berada di posisi lima besar, harga saham BRIS bisa mencapai Rp 6 ribu hingga Rp 7 per lembar saham.

“Harga tersebut meningkat dua kali lipat dari harga saham BRIS saat ini Rp 3.110 per lembar saham,” katanya.

Artinya, sambung Hery, pertumbuhan bank syariah sangat menjanjikan. Pertumbuhan tersebut dikarenakan market yang sangat besar, namun pemain di sektor ini masih minim.

Baca juga : UMKM Di DKI Serap Jutaan Tenaga Kerja

Mantan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri ini menyebut, market share (pangsa pasar) perbankan syariah di Indonesia belum signifikan, yakni masih bercokol di level 7 persen. Sementara Malaysia, sudah tancap gas di angka 30 persen.

Wajar saja kondisi tersebut terjadi. Sebab, kata Hery, dominasi bank syariah di Indonesia belum terlihat hingga sekarang.

Menurutnya, untuk bisa seperti negeri jiran, di Indonesia perlu tiga bank syariah selevel BSI. Dengan masing-masing aset Rp 300 triliun sampai Rp 400 triliun.

“Sehingga bisa sampai Rp 900-an triliun untuk mampu menjadi game changer. Dan meningkatkan market share dari 7 persen ke 9 persen,” ucap Hery.

Tercatat, pangsa pasar pembiayaan mencapai level 7,96 persen, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) bank syariah terhadap bank nasional menyentuh 7,91 persen pada 2023.

Baca juga : Liga Champions: Real Madrid Vs Borussia Dortmund, Los Blancos Siaga Satu

Sementara laba bersih sebesar Rp 3,39 triliun di sepanjang semester I-2024. Alias naik 20,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang sebesar Rp 2,82 triliun.

Total pendapatan bersih BSI setelah distribusi bagi hasil juga tercatat mengalami kenaikan, menjadi Rp 8,25 triliun. Dari sisi pembiayaan, BSI tumbuh 15,99 persen year on year (yoy) atau mencapai Rp 257,39 triliun.

Kinerja pembiayaan tersebut ditopang pembiayaan segmen ritel dan konsumer, termasuk UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), yang mencapai Rp 184,61 triliun. Kemudian segmen wholesale mengomposisi 28,27 persen dengan outstanding Rp 72,77 triliun.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.