Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Anindya: RI Ingin Jadi Acuan Standar Pengolahan Material Baterai Kendaraan Listrik
Selasa, 21 Januari 2025 21:27 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengungkapkan ambisi Indonesia untuk menjadi negara acuan standar pengolahan material baterai kendaraan listrik di dunia. Menurut Anin, kepatuhan pada standar internasional ini sejalan dengan konstitusi Indonesia dan tentu menguntungkan dari sisi bisnis.
“Dalam konteks rantai pasok global, ambisi kami tidak hanya sebatas memproduksi material baterai untuk kendaraan listrik, tapi juga bagaimana cara memproduksinya. Indonesia memiliki potensi unik. Bayangkan, kami bisa memproduksi material baterai menggunakan energi hijau dengan tetap memperhatikan emisi karbon,” jelas Anin, saat menjadi salah satu panelis diskusi di Forum Ekonomi Dunia, di Davos, Swiss, Selasa (21/1/2025), seperti keterangan yang diterima redaksi.
Menurut Anin, ini bukan sekadar wacana. Indonesia sudah membuktikannya. Banyak perusahaan Indonesia yang sudah memasok tidak hanya ke China dengan teknologi canggihnya, tapi juga ke Eropa melalui Eramet dan Volkswagen, serta ke Amerika Serikat melalui Ford.
"Kami optimis pada September nanti Indonesia secara keseluruhan bisa memenuhi standar besar seperti EMA (Exponential Moving Average) 50,” ucap Anin.
Baca juga : Janji Yandi Sofyan Kantrol Peringkat Persija Jakarta
Dia menerangkan, Indonesia terbuka untuk bekerja sama bisnis dengan semua pihak. “Kami memosisikan diri sebagai mitra yang memberikan kesempatan setara bagi semua,” ujarnya.
Saat ditanya kemungkinan arah kerja sama akan lebih banyak ke China, Anin menegaskan, Indonesia saat ini sedang berusaha menciptakan keseimbangan kerja sama dengan negara-negara Barat. Anin mencontohkan, perusahaan miliknya, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk memiliki Indo-pacific Net-zero Battery-materials Corsortium (INBC) yang fokus pada kerja sama dengan negara-negara Barat.
“Kami memahami bahwa Eropa (termasuk) Inggris, dan Amerika Serikat (AS) membutuhkan material baterai berbasis nikel,“ kata Anin.
Berbicara mengenai AS yang sedang berinvestasi dalam industri EV, Anin menilai hal itu bisa menjadi peluang baik, khususnya bagi Indonesia. Menurutnya, Indonesia bisa menjadi pemasok perangkat keras untuk industri EV di AS yang tentu memerlukan rantai pasokan yang berkelanjutan, tangguh, dan juga terjangkau serta efisien.
Peran di Rantai Pasokan Kendaraan Listrik
Baca juga : Sering Jadi Ban Serep, Darwin Nunez Mau Merapat Ke AC Milan
Anin melanjutkan, Indonesia sangat berkeinginan dan membutuhkan peran dalam ekosistem rantai pasokan kendaraan listrik. Indonesia memiliki tekad kuat dan sumber daya yang diperlukan untuk berkontribusi pada dunia.
Menurut Anin, dari sisi sumber daya alam, Indonesia memiliki cadangan mineral. strategis. Sebesar 22 persen cadangan nikel dunia ada di Indonesia. Belum lagi timah, tembaga, dan bauksit yang masuk dalam lima besar dunia.
"Dari sisi energi, kami memiliki potensi energi terbarukan yang luar biasa, mulai dari panas bumi, hidro, tenaga surya, hingga angin," ucapnya.
Anin menerangkan, Pemerintah Indonesia menargetkan pembangunan pembangkit listrik sebesar 100 gigawatt dalam 15 tahun ke depan, dengan 75 persen di antaranya dari energi terbarukan. "Angka 75 gigawatt ini setara dengan total kapasitas pembangkit yang sudah terpasang di Indonesia saat ini,” jelasnya.
Baca juga : Hanoi Jadi Kota Paling Berpolusi Sedunia, Vietnam Geber Kendaraan Listrik
Tak hanya itu, Anin menuturkan, Indonesia juga dianugerahi kekayaan biodiversitas yang luar biasa, mulai dari hutan, lahan gambut, mangrove, hingga terumbu karang, dengan potensi penyerapan karbon mencapai 500 gigaton. Potensi ini bisa menjadi sumber pendanaan untuk berbagai inisiatif hilirisasi.
"Selain itu, dengan populasi 285 juta jiwa, dan jika melihat Asia Tenggara secara keseluruhan yang mencapai 800 juta jiwa, kami memiliki pasar yang sangat menjanjikan,“ ungkap Anin.
Selain Anin, dalam Sesi Diskusi “Industri di Era Cerdas“ yang bertema “Mendapatkan Rantai Pasokan EV yang Tepat” itu juga hadir sebagai panelis Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi, Departemen Sains, Teknologi, dan Inovasi Afrika Selatan Bonginkosi Emmanuel Nzimande, Co-Chairman Contemporary Amperex Technology Co., Limited, Pan Jian, Presiden Federasi Buruh AS dan Kongres Organisasi Industri Elizabeth Shuler, Pemimpin Eksekutif Rio TintoJakob Stausholm, dan dimoderatori Pemimpin Redaksi Business Insider Jamie Heller.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya