Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kejar Pertumbuhan, Ekonom Dukung BI Pangkas Suku Bunga
Sabtu, 1 Februari 2025 18:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ekonom Josua Pardede menilai kebijakan Bank Indonesia memangkas suku bunga menjadi 5,75 persen bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga, terutama di kelompok menengah ke bawah.
Pardede menyampaikan, langkah ini sebagai kebijakan yang bersifat preemptive dan forward-looking dengan mempertimbangkan rendahnya inflasi serta stabilitas rupiah yang masih cukup terjaga.
Namun, ia mengakui bahwa dampak kebijakan moneter memiliki time lag, sehingga kenaikan konsumsi bergantung pada efektivitas penurunan suku bunga dalam mendorong kredit konsumsi dan meningkatkan likuiditas rumah tangga.
Baca juga : Kapolri: Rapim TNI-Polri Bahas Penguatan Ekonomi Dan Ketahanan Pangan
"Kenaikan konsumsi akan tergantung pada sejauh mana penurunan suku bunga diterjemahkan menjadi kredit konsumsi yang lebih murah dan peningkatan likuiditas bagi rumah tangga," kata Pardede, dalam keterangannya, Sabtu (1/2/2025).
Penurunan suku bunga juga memiliki potensi untuk mendorong investasi swasta dengan menurunnya biaya pembiayaan. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada sentimen pasar dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, stabilitas rupiah, dan inflasi. Dengan kebijakan ini, BI berupaya mengelola depresiasi rupiah agar tetap terkendali sehingga aset lokal tetap menarik bagi investor asing.
Baca juga : Kejar Target Pertumbuhan 8 Persen, Ekonom: Investasi Jadi Faktor Kunci
Namun, ketidakpastian global dan potensi pelebaran defisit neraca berjalan harus dikelola dengan baik untuk mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
"Ketidakpastian global dan risiko pada neraca berjalan yang melebar perlu dikelola dengan baik agar investor swasta tetap percaya diri," tandasnya.
Sementara menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, pergerakan suku bunga pinjaman konsumsi dan investasi cenderung memiliki volatilitas yang lebih kecil dibandingkan suku bunga acuan.
Baca juga : Presdir Forum Ekonomi Dunia Sebut Indonesia Bintang Baru Di Kancah Global
Dengan demikian, penurunan suku bunga oleh BI tidak serta-merta diikuti oleh perbankan dalam menurunkan suku bunga pinjaman. Hal ini menyebabkan adanya jeda waktu atau delay dalam transmisi kebijakan moneter ke sektor riil.
"Konsekuensinya apa? Pada waktu BI nurunin suku bunga, saya melihat ada delay untuk penurunan suku bunga pinjaman dan sebagainya," kata Tauhid.
Selain itu, Tauhid menjelaskan, bahwa efek dari kebijakan pemangkasan suku bunga ini baru akan terasa dalam jangka waktu tiga hingga enam bulan ke depan. Mengingat, penurunannya hanya sebesar 25 basis poin dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi kemungkinan besar masih terbatas.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya