Dark/Light Mode

Bangun Industri Kimia, Chandra Asri Investasi Rp 15 T Untuk Pabrik CA-EDC

Sabtu, 15 Maret 2025 11:03 WIB
Diskusi Forwin Industri Kimia. (Foto: Aditya Nugroho)
Diskusi Forwin Industri Kimia. (Foto: Aditya Nugroho)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Chandra Asri Alkali (CAA), anak usaha Chandra Asri Group, merealisasikan investasi sebesar Rp 1,26 triliun pada tahun 2024 untuk pembangunan Pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC).

Total investasi proyek ini ditargetkan mencapai Rp 15 triliun dan telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, sesuai dengan Perpres No. 12/2025.

Direktur Legal, Hubungan Eksternal, dan Ekonomi Sirkular PT Chandra Asri Pacific Tbk, Edi Rivai mengungkapkan, proyek ini akan memberikan dampak besar terhadap industri kimia nasional.

“Dalam proyeksi 20 tahun ke depan, sejak pabrik mulai beroperasi penuh pada kuartal pertama 2027, produk soda kaustik yang selama ini diimpor akan disubstitusi domestik sebesar 827 ribu ton liquid per tahun, dengan nilai setara Rp 4,9 triliun per tahun,” ujar Edi pada acara diskusi dengan Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Jumat (14/3/2025).

Hadir juga sebagai pembicara Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Taufiek Bawazier dan Peneliti INDEF Ahmad Heri Firdaus.

Baca juga : Bank Mandiri Siapkan Uang Tunai Rp 31,6 Triliun Periode Ramadan Dan Idul Fitri

Selain itu, kata dia, produk Ethylene Dichloride (EDC) dari pabrik ini ditargetkan 100 persen untuk ekspor, karena kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi. Hal ini berpotensi menambah devisa negara sebesar Rp 5 triliun per tahun.

Guna memperlancar realisasi investasi, Chandra Asri berharap adanya dukungan dari pemerintah, misalnya kemudahan izin impor garam industri sebagai bahan baku utama pabrik Chlor Alkali, ketersediaan infrastruktur jalan tol untuk memperlancar distribusi dan logistik.

Lalu perlindungan pasar dalam negeri, termasuk pengaturan tata niaga impor soda kaustik guna menghindari banjirnya produk impor dan fasilitas pembebasan bea masuk atas mesin dan peralatan impor yang dibutuhkan untuk pabrik CA-EDC.

Di tengah berbagai tantangan, Chandra Asri juga mengapresiasi insentif tax holiday dan tax allowance yang diberikan pemerintah untuk proyek ini. “Insentif tersebut sangat krusial dalam meningkatkan kepercayaan kami untuk terus melakukan realisasi investasi di dalam negeri,” tegas Edi.

Chandra Asri optimistis bahwa proyek CA-EDC akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional serta pengembangan industri kimia Indonesia. Proyek ini diharapkan berkontribusi terhadap pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen dan sejalan dengan program Asta Cita.

Baca juga : Hana Bank Perluas Pilihan Investasi Reksa Dana Bersama PT BNP Paribas AM

Sebagai perusahaan solusi energi, kimia, dan infrastruktur terkemuka di Asia Tenggara, Chandra Asri Group saat ini memiliki kompleks petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Perusahaan juga mengoperasikan satu-satunya pabrik Naphtha Cracker, Styrene Monomer, Butadiene, MTBE, dan Butene-1 di Tanah Air.

Dengan pembangunan Pabrik CA-EDC berskala dunia, Chandra Asri Group berharap dapat mempercepat pertumbuhan industri hilir nasional, mengurangi ketergantungan pada impor soda kaustik, serta mendukung Indonesia dalam rantai nilai kendaraan listrik global, khususnya sebagai penghasil nikel terbesar di dunia.

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung industri petrokimia dan kimia di Indonesia. Pabrik ini akan menjadi salah satu langkah besar dalam memperkuat industri dalam negeri dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global,” pungkas Edi.

Peneliti INDEF Ahmad Heri Firdaus menambahkan bahwa Pabrik CA-EDC memberikan multiplier effect bagi industri baterai listrik nasional, “Jadi kalau kami melihatnya, peran Indonesia dalam rantai suplai global EV itu semakin besar salah satunya dengan menjaga kemandirian produksi kaustik soda. Itu bisa memberikan kontribusi buat pengembangan baterai EV ini. Sehingga peranan ekspor EV dalam rantai pasar global itu semakin besar.”

Sebelumnya, Dirjen IKFT Taufiek Bawazier mengatakan, Industri kimia merupakan salah satu sektor yang strategis dan berperan penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karenanya, industri kimia menjadi bagian dari sektor yang mendapat prioritas pengembangan sesuai Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pengembangan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Baca juga : Beri Literasi Keuangan, BNI Kasih Tips Investasi Untuk Gen Z

“Pada tahun 2024, kelompok sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional mampu tumbuh sebesar 5,86 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,03 persen,” katanya.

Sebagai sektor strategis, selama ini produksi industri kimia memenuhi kebutuhan bahan baku bagi sektor manufakturnya lainnya seperti industri plastik dan industri tekstil. “Maka itu pentingnya demand bahan baku kimia ini perlu diisi dari produksi dalam negeri, karena tentu akan membawa dampak positif terhadap peningkatan value added, yang juga akan berujung pada penyerapan tenaga kerja,” ujarnya

Selain itu, industri kimia juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa. Pada tahun 2024, capaian nilai ekspornya menembus 17,39 miliar dolar AS. “Untuk semakin memacu kinerja industri kimia ini, challenge kita adalah Indonesia perlu menumbuhkan ekosistem sektor petrokimia dan energi yang terintegrasi sehingga bisa lebih berdaya saing,” imbuhnya.

Berikutnya, realisasi investasi industri kimia sepanjang tahun 2024 menyentuh angka Rp 65,76 triliun. “Untuk mendorong investasi di sektor ini, kami melaksanakan program kebijakan fasilitasi investasi industri petrokimia seperti di Teluk Bintuni, Tanjung Enim, dan Kutai Timur,” ungkap Taufiek.

Taufiek menegaskan, kinerja industri kimia akan turut memberikan andil signifikan terhadap target pemerintah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada lima tahun ke depan. “Untuk mencapai sasaran tersebut, sektor IKFT yang termasuk di dalamnya ada peran industri kimia, akan memberikan kontribusi nilai tambah sebesar Rp 46,09 triliun pada tahun 2029,” sebutnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.