Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) mengambil langkah cepat dalam merespons tekanan global terhadap nilai tukar Rupiah dengan melakukan intervensi di pasar valuta asing, khususnya pasar off-shore Non Deliverable Forward (NDF).
Langkah ini diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 7 April 2025, di tengah meningkatnya gejolak pasar keuangan global akibat ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China.
Baca juga : Respons Kebijakan Tarif Resiprokal AS, ALFI Serukan Langkah Strategis
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, intervensi ini dilakukan sebagai upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah yang mengalami tekanan hebat akibat kebijakan tarif resiprokal kedua negara adidaya tersebut.
“Bank Indonesia melakukan intervensi secara berkesinambungan di pasar off-shore (NDF) di kawasan Asia, Eropa, hingga New York. Tekanan terhadap Rupiah terjadi saat pasar domestik libur panjang Idul Fitri 1446 H, dan BI tidak tinggal diam dalam menjaga stabilitas mata uang kita,” kata Ramdan dalam keterangan resmi, Senin (7/4/2025).
Baca juga : Antisipasi Kemacetan Arus Balik, Polri Amankan Jalur Pemudik
Seperti diketahui, Pemerintah AS mengumumkan kebijakan tarif baru pada 2 April 2025, yang kemudian dibalas oleh retaliasi dari Pemerintah China pada 4 April. Ketegangan ini memicu arus modal keluar dari berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia, dan menyebabkan nilai tukar mata uang negara-negara tersebut melemah tajam.
Sebagai langkah lanjutan, Bank Indonesia juga akan melakukan intervensi agresif di pasar domestik mulai pembukaan perdagangan pada 8 April 2025. Intervensi ini mencakup transaksi valas spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Baca juga : Greenland Umumkan Pemerintahan Otonomi Baru, Di Tengah Tekanan Trump
“Selain stabilisasi nilai tukar, BI juga akan mengoptimalkan instrumen likuiditas Rupiah guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan sistem perbankan nasional,” tambah Ramdan.
BI menegaskan, seluruh langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat kepercayaan pelaku pasar serta investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia di tengah tekanan global yang meningkat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya