Dark/Light Mode

Pererat Hubungan Perdagangan Pasca Tarif Trump

RI-Turki Target Kerja Sama Rp 167 Triliun

Sabtu, 12 April 2025 07:05 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia dan Turki sepakat memperkuat kerja sama perdagangan dengan target mencapai 10 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 167,9 triliun. Kesepakatan ini diungkapkan dalam Turkiye-Indonesia CEO Roundtable Meeting yang berlangsung di sela kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Turki.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang mewakili Indonesia dalam pertemuan tersebut, menegaskan pentingnya mempererat hubungan ekonomi di tengah ketidakpastian global dan tren proteksionisme yang mulai diterapkan Amerika Serikat (AS).

“Indonesia dan Turki perlu memperkuat kerja sama ekono­mi dan melihat potensi yang masih sangat besar antara kedua negara,” ujar Airlangga seperti dikutip, Jumat (11/5/2025).

Acara yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan The Foreign Economic Relations Board of Turkey (DEIK) ini, dihadiri lebih dari 50 pemimpin bisnis dari berbagai sektor. Termasuk di bidang pertahanan, teknologi, konstruksi, infrastruktur, energi, industri kesehatan, farmasi, manufaktur, pendidikan vokasi dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Baca juga : OJK Dorong Perkuat Daya Tahan Industri

Pada 2024, nilai perdagangan kedua negara tercatat sekitar 2,4 miliar dolar AS atau Rp 40,3 triliun dan ditargetkan terus meningkat hingga 10 miliar dolar AS.

Untuk mencapai target terse­but, percepatan implementasi Limited Preferential Trade Agreement (LPTA) menjadi suatu keharusan.

Deputi Menteri Perdagangan Turki Ozgur Volkan Agar menegaskan, Indonesia adalah mitra utama sekaligus pintu masuk per­dagangan di kawasan ASEAN.

Turki, yang telah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Malaysia dan Vietnam, menilai, penyelesaian LPTA dengan Indonesia perlu dipercepat, sesuai mandat kedua negara.

Baca juga : Sampah Menumpuk Dan Picu Bau Busuk

Menurutnya, Indonesia dapat memanfaatkan Turki sebagai hub untuk mengakses pasar Uni Eropa. Dalam hal ini, pihaknya mendukung percepatan penyele­saian Perundingan Persetujuan Kemitraan Ekonomi Kompre­hensif Indonesia-Uni Eropa (Indonesia-EU CEPA).

Sementara, Menteri Pertanian dan Kehutanan Turki Ibrahim Yukmali menyoroti potensi ekspor produk pertanian ke In­donesia. Sebaliknya, Turki juga terbuka terhadap impor produk pertanian dan kehutanan dari Indonesia.

“Produk-produk ini dapat menjadi bahan baku bagi in­dustri makanan-minuman. Ter­masuk sektor industri kerajinan di Turki, sehingga dapat mem­berikan keuntungan bagi kedua negara,” ujar Yukmali.

Dia menegaskan, kebijakan proteksionisme perdagangan yang diterapkan beberapa negara saat ini justru akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Baca juga : Arsenal Vs Brentford, Lanjutkan Aura Positif

Karena itu, kerja sama perda­gangan yang terbuka dan saling menguntungkan menjadi solusi terbaik bagi pertumbuhan ekono­mi Turki-RIdan dunia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.