Dark/Light Mode

Teken Pembiayaan Proyek PLTP Muara Laboh

Airlangga: Jepang Jadi Investor Terbesar Ke-6

Rabu, 7 Mei 2025 07:00 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) berjabat tangan dengan mantan Perdana Menteri Jepang, sekaligus Utusan Khusus Perdana Menteri Jepang untuk Asia Zero Emission Community (AZEC) Fumio Kishida, saat melakukan pertemuan di Jakarta, Senin (5/5/2025). (Foto: Dok. Kemenko Perekonomian)
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) berjabat tangan dengan mantan Perdana Menteri Jepang, sekaligus Utusan Khusus Perdana Menteri Jepang untuk Asia Zero Emission Community (AZEC) Fumio Kishida, saat melakukan pertemuan di Jakarta, Senin (5/5/2025). (Foto: Dok. Kemenko Perekonomian)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia dan Jepang memperkuat kerja sama strategis di bidang energi berkelanjutan dan pembangunan infrastruktur ramah lingkungan. Kerja sama itu dilakukan melalui skema Asia Zero Emission Community (AZEC).

Sebagai langkah konkret kolaborasi tersebut, Menteri Koordina­tor (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan per­temuan dengan Anggota Parlemen dan mantan Perdana Menteri (PM) Jepang, sekaligus Utusan Khusus Perdana Menteri Jepang untuk AZEC Fumio Kishida di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (5/5/2025).

Pertemuan tersebut sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebe­lumnya, antara Presiden Prabowo Subianto dan PM Shigeru Ishiba.

Pada pertemuan itu, dilaku­kan juga seremoni penanda­tanganan financial close atau tahap pemenuhan pembiayaan untuk proyek Pembangkit Lis­trik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh.

“Pertemuan bilateral ini juga menegaskan kembali pentingnya kemitraan Indonesia–Jepang untuk menciptakan masa depan yang hijau, adil dan berketahan­an di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan,” kata Airlangga dalam keterangan resmi Kemenko Perekonomian dikutip, Selasa (6/5/2025).

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot, Sesmenko Perekono­mian Susiwijono Moegiarso, serta Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konser­vasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi.

Airlangga menjelaskan, per­temuan ini juga memperkuat komitmen bersama kedua negara untuk membina kerja sama ekonomi yang saling mengun­tungkan. Dan membuka jalan bagi kesejahteraan bersama.

Baca juga : PSG Vs Arsenal, Nyawa Untuk Final

Untuk diketahui, kerja sama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Jepang menunjuk­kan tren positif.

Pada 2024, volume perdagangan bilateral mencapai 35 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 576,4 triliun (kurs Rp 16.571 per dolar AS).

Sementara, realisasi investasi Jepang di Indonesia tercatat 3,5 miliar dolar AS (Rp 57,6 triliun), meningkat 52 persen dibanding­kan tahun 2021.

“Jepang kini menjadi investor terbesar keenam di Indonesia, dengan lebih dari 12.000 proyek yang tersebar di berbagai sektor strategis,” kata Airlangga.

Menurutnya, Indonesia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kepemimpinan Jepang dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Termasuk melalui inisiatif AZEC dan berbagai ben­tuk kerja sama bilateral lainnya.

Salah satu wujud nyata dari kerja sama ini adalah proyek PLTP Muara Laboh yang diker­jakan oleh PT Supreme Energy Muara Laboh, bersama Japan Bank for International Coopera­tion (JBIC).

“Proyek energi bersih ini di­targetkan akan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal per­tama tahun 2027,” ujar Airlangga.

Baca juga : Tindak Tegas Sekolah Pungli Wisuda Siswa!

Selain itu, Pemerintah Indone­sia terus mendorong percepatan penyelesaian hambatan terhadap sejumlah proyek prioritas dalam kerangka AZEC. Seperti proyek waste-to-energy Legok Nangka, produksi sustainable aviation fuel, PLTP Sarulla, serta pembangunan jaringan transmisi listrik Jawa–Sumatera.

“Langkah ini diambil agar proyek-proyek tersebut segera memasuki tahap komersialisasi dan memberikan manfaat konkret bagi masyarakat dan ling­kungan,” ujar Airlangga.

Pengamat ekonomi energi Uni­versitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengapresiasi kerja sama Indonesia–Jepang dalam proyek energi bersih di PLTP Muara Laboh.

Menurutnya, kerja sama ini memberikan banyak keuntungan ekonomi bagi Indonesia.

“Mulai dari peningkatan in­vestasi, percepatan transisi ke energi bersih, hingga alih teknolo­gi dari negara maju yang membuat Indonesia makin cakap dalam pengembangan energi bersih ke depan,” ujar Fahmy kepada Rakyat Merdeka, Selasa (6/5/2025).

Meski demikian, Fahmy me­nekankan pentingnya kejelasan dalam isi perjanjian kerja sama. Hal ini untuk memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian nasional.

Pemerintah, kata dia, harus mendorong keterlibatan peru­sahaan-perusahaan dalam negeri dalam proyek tersebut.

Baca juga : Taipen Open 2025, Alwi Farhan Mundur

“Penyertaan perusahaan lokal penting. Tidak hanya untuk alih teknologi, tapi juga untuk menyerap lebih banyak tenaga kerja dari dalam negeri,” jelasnya.

Menurut Fahmy, penggu­naan tenaga kerja asing boleh saja dilakukan, tapi sebatas tenaga ahli. Mereka pun wajib mentransfer ilmu dan keahlian kepada pekerja lokal.

“Ke depan, kita mampu mengembangkan energi bersih secara mandiri dan lebih luas lagi,” imbuhnya.

Fahmy juga mendorong Pemerintah agar memberikan insentif bagi investor di sektor panas bumi. Hal ini penting demi terwujudnya kedaulatan energi nasional.

“Ini akan sangat menarik bagi investor. Apalagi kita punya sumber daya panas bumi yang melimpah dan belum tergarap optimal. Karena itu, investasi san­gat dibutuhkan untuk mendorong pengembangan energi baru terba­rukan,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.