Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Teken Pembiayaan Proyek PLTP Muara Laboh
Airlangga: Jepang Jadi Investor Terbesar Ke-6
Rabu, 7 Mei 2025 07:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia dan Jepang memperkuat kerja sama strategis di bidang energi berkelanjutan dan pembangunan infrastruktur ramah lingkungan. Kerja sama itu dilakukan melalui skema Asia Zero Emission Community (AZEC).
Sebagai langkah konkret kolaborasi tersebut, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan dengan Anggota Parlemen dan mantan Perdana Menteri (PM) Jepang, sekaligus Utusan Khusus Perdana Menteri Jepang untuk AZEC Fumio Kishida di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (5/5/2025).
Pertemuan tersebut sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya, antara Presiden Prabowo Subianto dan PM Shigeru Ishiba.
Pada pertemuan itu, dilakukan juga seremoni penandatanganan financial close atau tahap pemenuhan pembiayaan untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh.
“Pertemuan bilateral ini juga menegaskan kembali pentingnya kemitraan Indonesia–Jepang untuk menciptakan masa depan yang hijau, adil dan berketahanan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan,” kata Airlangga dalam keterangan resmi Kemenko Perekonomian dikutip, Selasa (6/5/2025).
Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot, Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi.
Airlangga menjelaskan, pertemuan ini juga memperkuat komitmen bersama kedua negara untuk membina kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan. Dan membuka jalan bagi kesejahteraan bersama.
Baca juga : PSG Vs Arsenal, Nyawa Untuk Final
Untuk diketahui, kerja sama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Jepang menunjukkan tren positif.
Pada 2024, volume perdagangan bilateral mencapai 35 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 576,4 triliun (kurs Rp 16.571 per dolar AS).
Sementara, realisasi investasi Jepang di Indonesia tercatat 3,5 miliar dolar AS (Rp 57,6 triliun), meningkat 52 persen dibandingkan tahun 2021.
“Jepang kini menjadi investor terbesar keenam di Indonesia, dengan lebih dari 12.000 proyek yang tersebar di berbagai sektor strategis,” kata Airlangga.
Menurutnya, Indonesia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kepemimpinan Jepang dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Termasuk melalui inisiatif AZEC dan berbagai bentuk kerja sama bilateral lainnya.
Salah satu wujud nyata dari kerja sama ini adalah proyek PLTP Muara Laboh yang dikerjakan oleh PT Supreme Energy Muara Laboh, bersama Japan Bank for International Cooperation (JBIC).
“Proyek energi bersih ini ditargetkan akan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal pertama tahun 2027,” ujar Airlangga.
Baca juga : Tindak Tegas Sekolah Pungli Wisuda Siswa!
Selain itu, Pemerintah Indonesia terus mendorong percepatan penyelesaian hambatan terhadap sejumlah proyek prioritas dalam kerangka AZEC. Seperti proyek waste-to-energy Legok Nangka, produksi sustainable aviation fuel, PLTP Sarulla, serta pembangunan jaringan transmisi listrik Jawa–Sumatera.
“Langkah ini diambil agar proyek-proyek tersebut segera memasuki tahap komersialisasi dan memberikan manfaat konkret bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Airlangga.
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengapresiasi kerja sama Indonesia–Jepang dalam proyek energi bersih di PLTP Muara Laboh.
Menurutnya, kerja sama ini memberikan banyak keuntungan ekonomi bagi Indonesia.
“Mulai dari peningkatan investasi, percepatan transisi ke energi bersih, hingga alih teknologi dari negara maju yang membuat Indonesia makin cakap dalam pengembangan energi bersih ke depan,” ujar Fahmy kepada Rakyat Merdeka, Selasa (6/5/2025).
Meski demikian, Fahmy menekankan pentingnya kejelasan dalam isi perjanjian kerja sama. Hal ini untuk memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian nasional.
Pemerintah, kata dia, harus mendorong keterlibatan perusahaan-perusahaan dalam negeri dalam proyek tersebut.
Baca juga : Taipen Open 2025, Alwi Farhan Mundur
“Penyertaan perusahaan lokal penting. Tidak hanya untuk alih teknologi, tapi juga untuk menyerap lebih banyak tenaga kerja dari dalam negeri,” jelasnya.
Menurut Fahmy, penggunaan tenaga kerja asing boleh saja dilakukan, tapi sebatas tenaga ahli. Mereka pun wajib mentransfer ilmu dan keahlian kepada pekerja lokal.
“Ke depan, kita mampu mengembangkan energi bersih secara mandiri dan lebih luas lagi,” imbuhnya.
Fahmy juga mendorong Pemerintah agar memberikan insentif bagi investor di sektor panas bumi. Hal ini penting demi terwujudnya kedaulatan energi nasional.
“Ini akan sangat menarik bagi investor. Apalagi kita punya sumber daya panas bumi yang melimpah dan belum tergarap optimal. Karena itu, investasi sangat dibutuhkan untuk mendorong pengembangan energi baru terbarukan,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya