Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Wamentan Inspeksi Sentra Penggilingan Padi Karawang
Bulog Handal Serap & Olah Hasil Panen
Jumat, 16 Mei 2025 07:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono meninjau Sentra Penggilingan Padi milik Bulog di Karawang, Jawa Barat. Menurutnya, kinerja Bulog memuaskan dalam menyerap dan mengelola hasil panen.
Sudaryono yang juga Ketua Dewan Pengawas Perum Bulog, melakukan kunjungan kerja sebagai bentuk evaluasi langsung terhadap kinerja Bulog dalam menyerap gabah petani dan mengolahnya menjadi beras.
Wamentan bersama rombongan media dari Jakarta tiba di Rice Mill Unit milik Bulog yang modern itu sekitar pukul 9.00 WIB. Cuaca pagi itu sangat bersahabat. Dalam kunjungan itu, dia menyaksikan secara langsung proses pengolahan gabah menjadi beras.
Sebagaimana diketahui,Sentra Penggilingan Padi Modern Bulog di Karawang dilengkapi dengan empat unit dryer atau mesin pengering berkapasitas 120 ton per hari, dengan kemampuan operasional 18 jam dan Rice Milling Unit (RMU) berkapasitas 6 ton per jam.
Di samping itu, terdapat pula tiga unit silo dengan total kapasitas penyimpanan Gabah Kering Giling (GKG) yang mencapai 6.000 ton.
Untuk masuk ke lokasi itu, para pengunjung mengenakan helm pengaman, mirip seperti dipake mandor bangunan.
Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka, setelah gabah diproses menjadi beras, produk tersebut dimasukkan ke dalam karung berukuran 5 kilogram (kg). Lalu, sebanyak empat sampai lima karung ukuran 5 kg dikemas ulang dalam satu karung besar dan ditumpuk bersama kemasan serupa, hingga membentuk tumpukan tinggi.
Sementara di luar bangunan, parkir truk-truk penuh gabah yang akan diolah di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Karawang itu.
Baca juga : Pemerintah & Aparat Janji Sikat Pemalak!
“Hari ini saya meninjau fasilitas gudang sekaligus Rice Mill Unit milik Bulog, yang modern. Anda bisa lihat, kegiatan pengolahan padi menjadi beras di sini,” ujar Sudaryono dalam kunjungannya, Kamis (15/5/2025).
Sudaryono juga memuji kesiapan dan kelengkapan fasilitas yang dimiliki Bulog, yang disebutnya sangat strategis. Dia bilang, fasilitas penggilingan modern milik Bulog di Karawang ada 10 unit.
Kunjungan ini, kata dia, bertujuan untuk memastikan Bulog tidak hanya siap menyerap gabah dari petani, tapi juga mampu mengolah dan memasarkannya dengan baik.
“Itu yang tujuan saya ke sini, ingin melihat bahwa Bulog itu handal, dalam menyerap, mengolah dan memasarkannya,” ucap Sudaryono, yang didampingi Pimpinan Wilayah Perum Bulog Jawa Barat Mohamad Alexander.
Selain menyampaikan apresiasi terhadap pencapaian Bulog, Wamentan mengingatkan bahwa pujian tak boleh membuat terlena.
“Pujian adalah teror, bukan berarti kita memuji kemudian membuat orang terlena, tidak. Tapi ini sebuah semangat baru, bahwa kita mampu,” imbuhnya.
Lebih lanjut dia juga mengungkapkan, pencapaian luar biasa dalam hal cadangan beras nasional. Sekarang Bulog memiliki cadangan beras yang disimpan di gudang Bulog tertinggi sepanjang sejarah.
“Sampai sekarang, total beras yang disimpan di gudang Bulog adalah 3,7 juta ton,” puji Sudaryono.
Baca juga : Gandengan Tangan Dengan Ari Lasso
Dia menyebutkan, bahwa serapan tahun 2025 dari Januari hingga pertengahan Mei sudah mencapai angka 2,1 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah. Adapun sebagai pembanding, capaian serapan tertinggi sebelumnya terjadi pada 1984, yakni 3 juta ton.
Kala itu, Presiden Soeharto menerima penghargaan swasembada dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO/Food and Agriculture Organization of the United Nations).
“Anda semua bisa cek, pada 1984 Presiden Soeharto mendapatkan penghargaan swasembada beras oleh FAO. Sehingga kita telah melampaui, secara kuantitas, membuat rekor tertinggi,” jelasnya.
Menurut dia, hal ini menunjukkan kerja keras pegawai Bulog dalam menjalankan instruksi Pemerintah untuk membeli gabah petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yakni sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Di samping itu, juga berkat kerja keras para petani yang mampu memproduksi secara luar biasa.
“Ini tentu saja hasil kerja keras semua pihak, mulai Direktur Utama sampai dengan level di lapangan, dan petani,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti perubahan pendekatan dalam kebijakan pengadaan Bulog, yang kini lebih difokuskan pada pembelian gabah, bukan beras.
Dengan membeli langsung dari sawah, Pemerintah ingin memastikan, bahwa petani merasakan langsung kehadiran negara.
Baca juga : Cerita Kakek Hasanuddin Naik Haji: Dari Marbot di BSD, Kini Ada di Masjid Nabawi
“Khususnya petani, yang selama ini selalu mengeluhkan urusan harga jual setelah panen,” tuturnya.
Potensi Ekspor Ke Malaysia
Lebih jauh Sudaryono menyebutkan, Indonesia siap mengekspor beras ke Malaysia. Sejauh ini kementerian sudah bicara dengan Malaysia.
Pada intinya, kata dia, Indonesia siap melakukan ekspor beras ke Malaysia ataupun ke negara-negara lainnya sesuai dengan perintah Presiden.
“Kemarin yang dibahas mungkin sekitar 2.000 ton per bulan, karena Malaysia juga mengambil beras dari banyak tempat,” kata Sudaryono.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran menerima kunjungan Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia Datuk Seri Haji Mohamad Bin Sabu di Jakarta, Selasa (22/4/2025).
Dalam pertemuan itu, Malaysia ingin mengimpor beras dari Indonesia karena harga beras di negeri jiran yang tinggi.
Amran menyebut kebutuhan Malaysia terhadap beras cukup tinggi tetapi produksi dalam negeri mereka saat ini baru mampu mencukupi sekitar 40 hingga 50 persen dari total permintaan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya