Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Perbankan Siap Selaraskan Penurunan Suku Bunga Acuan
Langkah BI Akomodatif Jaga Stabilitas Ekonomi
Jumat, 22 Agustus 2025 07:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perbankan memandang kebijakan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan selaras dengan kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi untuk menghadapi dinamika perekonomian global dan domestik. Langkah ini diharapkan mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.
Bank Sentral kembali memangkas suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 bps (basis poin) menjadi 5,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen.
Kembali diturunkannya BI Rate, diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dengan kapasitas perekonomian.
“Keputusan ini konsisten dengan tetap rendahnya perkiraan inflasi tahun 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, serta terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara virtual, Rabu (20/8/2025).
Baca juga : Industri Hijau Kunci Ekonomi Capai 8 Persen
Ke depan, lanjut Perry, Bank Sentral akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Hal ini sejalan dengan rendahnya perkiraan inflasi, dengan tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah.
Sementara, kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong kredit atau pembiayaan, menurunkan suku bunga, dan meningkatkan likuiditas perbankan bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
“Kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk turut menopang pertumbuhan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran.
Baca juga : Bedeng Proyek Galian Makan Separuh Jalan
“Dan penguatan daya tahan infrastruktur sistem pembayaran,” ujarnya.
Perry menyebut, perekonomian dunia melemah sejalan dengan meluasnya implementasi tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).
Sejak 7 Agustus 2025, tarif resiprokal AS meluas dari 44 negara menjadi 70 negara, dengan tarif kepada sebagian negara, seperti India dan Swiss, lebih tinggi dari pengumuman semula.
“Implementasi tarif resiprokal AS tersebut, menimbulkan risiko akan semakin melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia. Terutama dalam jangka pendek, karena ketidakpastian dan kebijakan resiprokal tarif ini masih dinamis,” katanya.
Baca juga : 104 Daerah Naikkan Pajak Bumi dan Bangunan, Tito Turun Tangan
“Inilah yang membawa suatu ketidakpastian pasar keuangan global jangka pendek, yang harus tetap kita waspadai dan respons,” imbuh Perry.
Sementara dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2025 lebih baik dari perkiraan.
“Ekonomi triwulan II tahun 2025 tumbuh sebesar 5,12 persen year on year (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2025 sebesar 4,87 persen (yoy),” tuturnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya