Dark/Light Mode

Ekonom: Data Ekonomi Solid, Rupiah Dan Pasar Saham Kuat

Rabu, 3 September 2025 13:14 WIB
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian. (Foto: YouTube Adinda Pandjaitan)
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian. (Foto: YouTube Adinda Pandjaitan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketahanan fundamental ekonomi Indonesia dinilai kuat di tengah guncangan yang terjadi belakangan ini. Hal ini bisa dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi Agustus 2025 sebesar 2,30 persen dengan surplus neraca perdagangan mencapai 4,17 miliar dolar AS.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai indikator ekonomi masih menunjukkan ketahanan yang baik. Salah satunya terlihat dari kondisi likuiditas yang kuat. Pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk) terbaru, permintaan mencapai Rp 41,8 triliun, meningkat dibanding lelang sebelumnya sebesar Rp 33,1 triliun.

“Ini menunjukkan bahwa kondisi sektor keuangan kuat. Tapi jangan lupa, sektor keuangan yang stabil harus menyokong sektor riil. Gejolak di masyarakat terjadi karena tidak terhubungnya kekuatan sektor keuangan dengan kondisi sektor riil di bawah,” ujar Fakhrul.

Baca juga : Dahlia Poland, Sudah 2 Bulan Pisah Ranjang

Meski inflasi melandai, Fakhrul mengingatkan agar pemerintah tetap waspada terhadap kenaikan harga pangan, khususnya beras. Menurutnya, faktor suplai dan distribusi harus dijaga. “Harga yang terkendali dimulai dari kebijakan yang tepat ketika musim panen. Stabilitas harga menjadi kunci untuk menjaga daya beli masyarakat,” tegasnya.

Fakhrul juga mengusulkan pembentukan Komite Stabilitas Sektor Riil, mencontoh keberhasilan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Komite ini diharapkan mampu menjalankan fungsi deteksi dini guncangan pasokan dan produksi, koordinasi kebijakan sektor riil, stabilisasi harga barang penting, serta komunikasi publik.

“Keberhasilan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menunjukkan koordinasi lintas sektor bisa dilakukan. Mekanisme serupa perlu direplikasi untuk sektor riil agar kita bisa memprediksi dan mengantisipasi guncangan sebelum terjadi,” jelas Fakhrul.

Baca juga : Investor Tunggu Data Ekonomi AS, Rupiah Menguat Ke Rp16.375 Per Dolar AS

Ia menambahkan, beberapa negara telah menerapkan mekanisme serupa. Jepang memiliki Council on Economic and Fiscal Policy (CEFP), sementara Korea Selatan membentuk Presidential Committee on Supply Chain Stability. Fakhrul menilai, Indonesia bisa mengadopsi konsep tersebut dengan melibatkan Kementerian Perindustrian, Perdagangan, Keuangan, KADIN, perbankan, serta perwakilan pengusaha.

Langkah ini, kata Fakhrul, juga akan meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat prospek masuknya investasi asing langsung (FDI) ke sektor industri.

Sementara itu, untuk pasar keuangan, Fakhrul melihat kondisinya sudah membaik. Namun, untuk mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus kembali level 8.000, dibutuhkan momentum ekonomi yang lebih kuat, rasa aman, dan optimisme pasar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.