Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
BSI Beberkan Strategi Digital Garap Potensi Pasar Keuangan Syariah
Sabtu, 4 Oktober 2025 11:46 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI membeberkan beberapa strategi digitalnya, dalam menjawab pergeseran preferensi nasabah dalam menggarap potensi besar pasar keuangan syariah di Indonesia.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, Indonesia saat ini bukan hanya negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, tetapi juga menjadi kontributor terbesar kedua aset perbankan syariah di Asia-Pasifik, yakni 13 persen.
Namun, fenomena yang terjadi bahwa selama lebih dari 10 tahun, penetrasi market share industri perbankan syariah Indonesia relatif stagnan dibawah 5 persen.
“Kehadiran BSI sejak 2021 lalu membuktikan bahwa dengan adanya bank syariah dengan aset yang besar, mampu mendorong peningkatan penetrasi pasar keuangan syariah meningkat 7 hingga 8 persen,” ujar Anggoro dalam keterangan resmi, Jumat (3/10/2025).
Anggoro mengatakan, peningkatan ini juga didukung perubahan perilaku masyarakat yang semakin rasional. Riset menunjukkan segmen nasabah ‘Universalist’ dan ‘Rationalist.’
Pemilihan bank syariah ini berdasarkan keunggulan fungsional dan manfaat produk, telah meningkat dari 46,2 persen pada tahun 2014 menjadi 59,1 persen pada tahun 2024.
“Pergeseran ini adalah sinyal kuat bahwa nasabah kini menuntut layanan syariah yang kompetitif dan modern,” katanya.
Baca juga : Komdigi Bekukan Sementara Izin TikTok, DPR: Ekosistem Digital Jangan Sampai Mati
Untuk itu, penguatan digital menjadi hal dasar untuk mendorong penetrasi produk dan layanan keuangan syariah.
Menurut Anggoro, kondisi di Indonesia juga sejalan dengan tren global bahwa cashless sekarang ini adalah sebuah transformasi.
Untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang memilih layanan syariah dan sejalan dengan tuntutan digital, maka BSI sebagai bank syariah terbesar bertransformasi menyediakan layanan digital baik untuk individu maupun institusi. “Termasuk mendigitalisasi layanan bank emas yang baru saja dilaunching tahun ini melalui aplikasi Byond by BSI,” ucap Anggoro.
Melalui Byond by BSI, nasabah dapat bertransaksi dari sisi finansial, sosial dan juga melakukan kegiatan spiritual. Sementara Bewize by BSI adalah transformasi cash management BSI untuk nasabah institusi.
Tak hanya itu, sambung Anggoro, kesiapan BSI untuk menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional melalui digitalisasi dan juga inovasi instrumen keuangan syariah, salah satunya sukuk.
Selain aktif menerbitkan sukuk berkelanjutan ESG (Environmental Social Governance) sebesar Rp 8 triliun dan mendapat animo sangat baik subscribed lebih dari 100 persen.
BSI juga menawarkan produk-produk investasi dalam bentuk sukuk kepada investor retail, baik melalui pasar primer maupun sekunder.
Baca juga : Jangan Ada Yang Dirugikan
“BSI juga aktif dalam wakaf linked sukuk untuk program kemaslahatan umat,” ujarnya.
Melalui pasar primer, BSI memiliki mobile banking Byond by BSI untuk mendemokratisasi kebutuhan investasi nasabah melalui penerbitan sukuk yang dikeluarkan Pemerintah.
‘’Digitalisasi adalah salah satu fokus perusahaan untuk memperluas inklusi keuangan syariah, yang saat ini masih terpaut jauh dari hasil survei literasi produk dan keuangan syarudah," ujar Anggoro.
Dia memastikan, BSI juga fokus pada keamanan nasabah, Good Corporate Governance (GCG) dan terus beradaptasi terhadap dinamika teknologi Information Technology (IT), maupun kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mendukung kemudahan dan kemajuan perbankan syariah.
Sementara, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, inovasi adalah tuntutan di dalam menyediakan instrumen keuangan syariah.
Layanan keuangan yang didasari oleh faktor keimanan ini sejatinya tak hanya bertujuan profit, tapi juga aspek sosial seperti pendidikan dan lainnya.
“Karena, ekonomi syariah dan lembaga keuangan syariah memiliki tujuan mensejahterakan umat,” ucapnya.
Baca juga : Infobank Digital Gaet Tugu Insurance Gelar Literasi Keuangan Di UI
Perry mengungkapkan, ada lima tantangan yang harus dijawab untuk mendorong pertumbuhan penetrasi produk keuangan syariah
. Pertama, produk yang kompetitif dan menjawab kebutuhan pasar. Kedua, Pricing. Sejatinya, kata dia, pricing instrumen keuangan syariah harus menggambarkan misi komersial tapi juga sosial.
Ketiga, Transaksi digital dan channel kemudahan mengakses produk di manapun dan kapanpun. Keempat, kolaborasi antar jasa keuangan dan pemerintah.
Kelima, likuiditas di pasar modal. Paparan tersebut disampaikan dalam forum internasional BI-IILM-IFSB-IsDB Joint High-Level Seminar & Investor Forum yang berlangsung di Hotel Kempinski, Jakarta, Jumat (3/10/2025), yang mengangkat tema ‘Enhancing Resilience and Innovation in Liquidity Management for Islamic Financial Services Industry.’
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya