Dark/Light Mode

Dari Kampung Terpencil, Kilang Pertamina Cilacap Nyalakan Harapan Mandiri

Rabu, 8 Oktober 2025 05:54 WIB
Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Aditiyawarman (kiri) menunjukkan hasil budidaya kepiting warga Kutawaru, simbol kemandirian lewat Program Mamaku. (Dok. KPI)
Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Aditiyawarman (kiri) menunjukkan hasil budidaya kepiting warga Kutawaru, simbol kemandirian lewat Program Mamaku. (Dok. KPI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berdaya. Itulah semangat yang ditanamkan Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui unit usahanya di Kilang Cilacap.

Di Kelurahan Kutawaru, wilayah yang dulunya terpinggirkan secara ekonomi dan geografis, KPI menyalakan harapan baru lewat program terintegrasi bernama Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku).

“Dalam setiap keterbatasan, tentu ada peluang untuk memandirikan masyarakat,” ujar Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (8/10/2025).

Milla menjelaskan, setiap program pemberdayaan yang dijalankan KPI disusun berdasarkan potensi lokal, kondisi sosial, dan tokoh penggerak di masyarakat.

Hal itu pula yang menjadi dasar pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan di Kutawaru — sebuah kawasan yang berada di Ring 1 Kilang Cilacap.

“Program terintegrasi itu disebut Program Masyarakat Mandiri Kutawaru atau disingkat Mamaku,” katanya. 

Dari Gelombang Laut ke Dapur Harapan

Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, sejak lama dikenal sebagai daerah dengan tingkat migrasi tinggi.

Baca juga : PSEL Jadi Solusi Energi, Pemda Diminta Siapkan Lahan Dan Sistem Sampah

Banyak warganya bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW), sementara kaum laki-laki menjadi anak buah kapal (ABK) dan berbulan-bulan meninggalkan rumah untuk berlayar.

“Kebanyakan warga Kutawaru hanya sekolah sampai SMA, bahkan ada yang SMP. Karena itu pilihan pekerjaannya terbatas, dan tekanan ekonomi jadi besar,” tutur Lurah Kutawaru, Edy Harjanto.

Masalah sosial dan ekonomi ini pertama kali diidentifikasi Kilang Cilacap pada 2018.

“Kami mulai melakukan social mapping dan menemukan banyak mantan pekerja migran serta ABK yang hidup kekurangan,” ujar Area Manager Communication, Relations, and CSR Kilang Cilacap, Cecep Supriyatna.

Kondisi geografis Kutawaru juga menambah tantangan. Meski letaknya dekat pusat kota, wilayah ini terpisah Sungai Donan, sehingga akses menuju ke sana harus memutar sejauh dua jam perjalanan darat.

“Lokasi Kutawaru seperti tidak menyatu dengan Cilacap, padahal masih di Pulau Jawa,” tambah Cecep.

Dari hasil pemetaan sosial itu, KPI kemudian menggagas program TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) yang diarahkan untuk membangun kemandirian warga.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Pastikan Pasokan BBM Aman hingga Pelosok Negeri

Tahun 2020, Program Mamaku resmi berjalan dengan Rato, putra daerah Kutawaru, sebagai ketua kelompok sekaligus local hero program ini.

Dari Budidaya Kepiting hingga Bank Sampah

Rato menceritakan, Program Mamaku memiliki beberapa unit usaha turunan. Pertama, Kampoeng Kepiting, yang mengelola potensi wisata dan kuliner berbasis hasil laut.

Kedua, Bank Sampah Abhipraya, yang menangani persoalan lingkungan dan ekonomi sirkular. Selain itu ada Pasar Amarta, pusat aktivitas ekonomi lokal berbasis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Kampoeng Kepiting menjadi usaha terintegrasi. Di sana ada budidaya kepiting, wisata kuliner, susur sungai, hingga pemancingan,” jelas Rato.

Sebanyak 40 mantan ABK dan TKW kini aktif terlibat dalam kegiatan Mamaku.

Program ini bukan hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan pendapatan dan semangat wirausaha warga.

“Jika digabungkan, omzet seluruh unit bisa mencapai Rp180 juta per bulan. Sekarang banyak warga bisa menyekolahkan anaknya lebih tinggi karena punya penghasilan tetap,” kata Rato. 

Membuang Jauh Sampah dan Kemiskinan

Baca juga : Kilang Pertamina Dumai Pulih Cepat, Pasokan BBM Tetap Aman dan Terjamin

Dampak Mamaku tak hanya terasa di sisi ekonomi. Program ini juga memperbaiki kualitas lingkungan di Kutawaru.

Melalui Bank Sampah Abhipraya, warga berhasil mengurangi timbunan sampah hingga 195 ton per tahun atau sekitar 80,93 persen dari total sampah yang sebelumnya menumpuk di jalan dan sungai.

Kini, Kutawaru tampil lebih bersih, hijau, dan segar. Bau sampah yang dulu menyengat sudah berganti dengan aroma kuliner laut dari Kampoeng Kepiting.

“Keberhasilan ini bukan dari KPI semata, tapi buah pikiran warga, para pendamping, dan semua pihak yang mau berubah. Program Mamaku membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, asalkan ada kemauan dan kerja sama,” pungkas Cecep.

Berdaya Bersama Energi

Kilang Pertamina Internasional, anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang pengolahan minyak dan petrokimia, terus menjalankan bisnisnya sesuai prinsip Environment, Social, and Governance (ESG).

Sebagai anggota United Nations Global Compact (UNGC), KPI berkomitmen pada sepuluh prinsip universal dalam menjalankan operasionalnya.

KPI bertekad menjadi perusahaan kilang minyak dan petrokimia berkelas dunia yang tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga menyalakan kemandirian — seperti yang kini menyala di Kutawaru.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.