Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Bioavtur dari Minyak Jelantah, Asa Terbang dari Cilacap
Sabtu, 18 Oktober 2025 20:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Siang itu, terik matahari memantul di permukaan tangki raksasa di kompleks Kilang Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Suara mesin bergemuruh, berpadu dengan kepulan uap yang menari di udara pesisir selatan Jawa Tengah. Dari tempat inilah, bahan bakar masa depan Indonesia lahir, Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur yang sebagian bahan bakunya berasal dari minyak jelantah, sisa dapur rumah tangga (Used Cooking Oil atau UCO).
“Alhamdulillah, dengan doa masyarakat Indonesia, kami berhasil mengolah minyak jelantah hingga 2,5 persen. Hasil ini sudah beyond expectation,” ujar General Manager PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU IV Cilacap, Wahyu Sulistyo Wibowo tersenyum di ruang kerjanya, Sabtu (18/10/2025).
Sekilas, angka itu tampak kecil. Namun di dunia energi, capaian tersebut berarti lompatan besar. Target awal perusahaan hanya 1 persen.
Dengan teknologi yang terus disempurnakan dan proses yang rumit, hasil itu menandai babak baru kilang mature di tepi Samudra Hindia, yang kini tampil sebagai pionir energi hijau nasional.
General Manager Kilang Pertamina Cilacap, Wahyu Sulistyo Wibowo (Foto: Fazry/RM)
Katalis Merah Putih, Otak Kimia dari Negeri Sendiri
Kunci keberhasilan produksi bioavtur ini ada pada katalis yang digunakan. Bukan produk impor, melainkan Katalis Merah Putih, hasil kolaborasi Pertamina, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan PT Katalis Sinergi Indonesia (KSI).
“Ini karya anak bangsa,” kata Wahyu bangga. “Sinergi industri dan akademisi membuahkan hasil nyata. Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia bisa berdiri di atas teknologi sendiri.”
Katalis itu menjadi “otak kimia” dalam reaksi pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat. Ia mengubah limbah menjadi energi bersih, mempercepat reaksi sekaligus menekan emisi karbon.
Baca juga : Jerman Menang Tipis, Prancis Tertahan di Islandia
Puncak uji coba terjadi pada 15 Agustus 2025, ketika SAF produksi Cilacap digunakan dalam penerbangan uji rute Soekarno-Hatta–Denpasar. Pesawat terbang mulus tanpa kendala. Hari itu, Indonesia mencatat sejarah baru: bahan bakar hasil karya anak negeri mengudara di langitnya sendiri.
“Alhamdulillah, semuanya berjalan baik berkat kolaborasi dan doa masyarakat Indonesia,” ujar Wahyu.
Kilang Lama, Semangat Baru
Sulit membayangkan inovasi semaju itu muncul dari kilang yang berdiri sejak 1976. Namun sejarah panjang justru menjadi modal. Kilang Cilacap tak sekadar bertahan, tapi terus bertransformasi.
Tahun 1984, unit penyulingan Crude Distillation Unit (CDU) II dibangun dengan kapasitas 200 ribu barel per hari. Setelah proyek revamp pada 1997, kapasitas total meningkat menjadi 348 ribu barel per hari, menjadikannya kilang terbesar dan paling lengkap di Indonesia.
“Produk yang dihasilkan di Kilang Cilacap seluruh jenis BBM mulai Pertamina Series (Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo), solar, avtur, LPG, propylene, paraxylene, serta lubricant base oil, hingga SAF, bahan bakar pesawat berbasis UCO yang ramah lingkungan," jelas Wahyu.
Unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang beroperasi sejak 2015 bahkan mampu menghasilkan propylene, bahan baku penting industri petrokimia nasional.

Di tengah usia kilang yang hampir setengah abad, modernisasi digital diterapkan untuk memantau suhu, tekanan, hingga komposisi bahan bakar secara real time.
Sistem proteksi pun diperkuat dengan fire water system berkapasitas 76 liter per detik.
Kualitas Tanpa Kompromi
Baca juga : Urusan Tarif Dagang, Amerika-China Perang Lagi
Bagi Wahyu, inovasi tidak boleh mengorbankan kualitas. Di laboratorium kilang, tim teknisi memeriksa setiap sampel bahan bakar menggunakan CFR (Cooperative Fuel Research) Engine untuk mengukur angka oktan.
“Kalau Pertalite standarnya RON 90, produk kami tidak pernah di bawah itu, biasanya 90,1 atau 90,2,” ujarnya tegas.
“Kami tidak ingin masyarakat menerima bahan bakar yang kualitasnya lebih rendah dari yang dijanjikan.”
Kilang Cilacap juga menjadi laboratorium acuan di lingkungan Pertamina, dengan standar keselamatan dan lingkungan bertaraf internasional.
Di balik setiap tetes bahan bakar yang keluar dari tangki penyimpanan, ada proses panjang yang diawasi dengan disiplin tinggi.
Menatap Langit Energi Hijau
Unit pengolahan minyak nabati di Cilacap kini mampu memproduksi hingga 9 ribu barel per hari, dengan kandungan minyak jelantah 2,5 persen. Angka itu akan meningkat seiring pengembangan teknologi dan dukungan kebijakan energi hijau pemerintah.
Arah pengembangan kilang nasional, kata Wahyu, kini fokus pada dua hal: menurunkan kadar sulfur dan memperluas produksi bahan bakar nabati.
“Dulu kadar sulfur di diesel mencapai 3.500 ppm (part per million). Sekarang sudah 2.000 sampai 2.500 ppm, dan tahun 2027 akan diturunkan lagi,” ujarnya.
Baca juga : TKA Banyak Manfaatnya, Siswa SMA yang Daftar Capai 3,5 Juta
Untuk itu, Pertamina menyiapkan berbagai proyek strategis: Diesel Hydrotreating Unit (DHT), Gasoline Selective Hydrotreater (GSH), hingga TDHT (Trans-esterified Diesel Hydrotreating Technology).
Teknologi terakhir ini digunakan untuk memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), bahan bakar nabati 100 persen yang dipasarkan dengan merek Pertamina RD (Renewable Diesel).
“Ke depan, unit serupa akan direplikasi di kilang lain, agar kapasitas nasional memenuhi target energi baru terbarukan,” tutur VP Process & Facility KPI Edy Januari Utama, di Kilang Cilacap, Sabtu (18/10/2025).
Dari Dapur ke Langit
Di tengah wacana global transisi energi, langkah kecil dari Cilacap ini terasa besar. Dari minyak jelantah, limbah rumah tangga yang sering dianggap tak berguna, lahir bahan bakar pesawat yang mengudara di langit nusantara.
Inovasi ini bukan hanya tentang teknologi, tapi juga filosofi: bagaimana bangsa ini mulai memaknai energi sebagai keberlanjutan, bukan sekadar konsumsi.
“Kami membuktikan bisa melampaui target. Ini baru awal,” kata Wahyu.
Di luar pagar kilang, debur ombak Samudra Hindia bersahutan dengan deru mesin distilasi. Sementara di udara, pesawat yang ditenagai bioavtur buatan Cilacap melintas pelan menuju Bali.
Energi hijau kini punya wajah Indonesia, lahir dari dapur, tumbuh di laboratorium, dan terbang menembus awan. Dari selatan Jawa, asa baru untuk energi bersih itu menyala, menghidupkan semangat Energizing Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya