Dark/Light Mode

Ekonomi RI Lampaui China Dan Singapura, Ekonom: Kebijakan Pemerintah Efektif

Kamis, 6 November 2025 11:08 WIB
data pertumbuhan ekonomi RI kuartal III-2025. (Foto: YouTube BPS)
data pertumbuhan ekonomi RI kuartal III-2025. (Foto: YouTube BPS)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III-2025, sedikit di atas konsensus pasar 5,00 persen dan sejalan dengan proyeksi para ekonom. Meski melambat dibanding kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,12 persen, laju ini menunjukkan ketangguhan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal dan perlambatan global.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, perlambatan tersebut bersifat musiman akibat normalisasi konsumsi setelah lonjakan pada periode libur keagamaan di kuartal sebelumnya. “Pelemahan di kuartal ketiga mencerminkan normalisasi musiman, bukan pelemahan struktural,” ujarnya, Kamis (6/11).

Meski sedikit melambat, kinerja ekonomi Indonesia justru menonjol secara global. Badan Pusat Statistik (BPS)mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,04 persen yoy pada kuartal III-2025 lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara G20 dan kawasan Asia.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud menjelaskan, pertumbuhan Indonesia melampaui China (4,8 persen) dan Singapura (2,9 persen), serta lebih cepat dibanding Korea Selatan (1,7 persen). Meskipun masih di bawah Malaysia (5,2 persen) dan Vietnam (8,2 persen), Indonesia dinilai berhasil menjaga momentum pertumbuhan di tengah perlambatan global dan tensi perdagangan internasional.

Baca juga : Presiden Prabowo Pimpin Sidang Kabinet, Evaluasi Setahun Pemerintahan

“Ini menunjukkan resiliensi ekonomi Indonesia sekaligus keberhasilan kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah,” ujar Josua.

Dari sisi pengeluaran, belanja pemerintah menjadi pendorong utama pertumbuhan. Setelah kontraksi -0,33 persen yoy pada kuartal II, pengeluaran pemerintah melonjak menjadi 5,49 persen yoy pada kuartal III-2025 berkat langkah-langkah stimulus fiskal.

Selain itu, net ekspor juga meningkat karena perlambatan impor yang lebih tajam dibanding ekspor. Impor hanya tumbuh 1,18 persen yoy, jauh lebih rendah dari 11,48 persen pada kuartal sebelumnya, mencerminkan penurunan aktivitas investasi dan normalisasi impor jasa pasca-libur sekolah.
Sementara ekspor tumbuh stabil di 9,91 persen yoy, ditopang oleh permintaan tinggi terhadap CPO, besi-baja, dan mesin listrik.

Konsumsi rumah tangga — penyumbang terbesar PDB — tercatat tumbuh 4,89 persen yoy, sedikit melambat dari 4,97 persen pada kuartal sebelumnya. “Ini wajar karena efek musiman pasca-perayaan keagamaan,” jelas Josua.

Baca juga : Kinerja Baik Menteri Raja Juli Antoni Cerminan Sinergi Komisi IV dan Pemerintah

Secara sektoral, industri manufaktur menjadi kontributor utama, didorong oleh kembalinya PMI Manufaktur ke zona ekspansi (>50). Sektor perdagangan dan informasi-komunikasi juga tumbuh seiring peningkatan aktivitas digital. Sementara itu, pertanian menguat berkat tingginya permintaan terhadap CPO.

“Performa sektor-sektor tersebut memperlihatkan daya tahan struktur ekonomi Indonesia terhadap tekanan global,” ujar Josua.

Josua memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 akan berada di kisaran 5,0–5,1 persen, sedikit lebih tinggi dari realisasi 2024 (5,03 persen). Ia optimistis kombinasi kebijakan fiskal dan moneter pro-pertumbuhanakan menjaga momentum ekonomi.

Konsumsi rumah tangga diperkirakan terus membaik seiring stabilnya inflasi dan perbaikan pasar tenaga kerja. Investasi juga berpotensi meningkat berkat prospek penurunan suku bunga global dan domestik yang mendorong kepercayaan investor.

Baca juga : Kebijakan Pangan Sudah Bagus

Meski prospeknya positif, Josua mengingatkan sejumlah risiko seperti perang dagang global, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Namun, meredanya tekanan inflasi global dinilai membuka peluang pelonggaran moneter yang bisa meningkatkan aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Secara domestik, menjaga stabilitas politik dan disiplin fiskal tetap krusial. Pemerintah masih punya ruang ekspansi, tapi harus menjaga keseimbangan agar defisit transaksi berjalan dan fiskal tidak melebar,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.