Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bedah Buku Indonesia Naik Kelas
Dany Amrul Beber Resep Hilirisasi, Dongkrak Ekonomi 8 Persen
Jumat, 12 Desember 2025 19:09 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan memaparkan gagasan hilirisasi yang ia yakini bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen. Menurut Dany, kuncinya ada pada hilirisasi berbasis nilai tambah. Bukan sekadar ekspor komoditas mentah, tapi mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi.
Dany juga memperkenalkan konsep DAI: Distinctive, Adaptive, Inclusive. Tiga prinsip ini, kata dia, dapat menjadi kerangka kebijakan agar Indonesia mampu mengambil lompatan ekonomi besar dalam beberapa tahun ke depan.
Hal tersebut disampaikan Dany dalam acara bedah buku terbarunya yang berjudul "Indonesia Naik Kelas" di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Jumat (12/12/2025).
Acara tersebut dihadiri akademisi, pelaku industri, pegiat ekonomi, serta sivitas akademika. Hadir Utusan Khusus Presiden bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono. Turut hadir Wakil Rektor Universitas Indonesia Prof Hamdi Muluk. Dari tim penyusun buku, hadir Editor Prof. Reda Manthovani.
Dalam sambutannya, Dany memaparkan pentingnya lompatan strategi ekonomi Indonesia. Melalui hilirisasi, inovasi, dan pembangunan SDM unggul. Dany menegaskan, agenda besar menaikkan kelas perekonomian Indonesia bukan sekadar jargon politik. Namun, gerakan spiritual dan kerja bersama lintas sektor.
“Ini perjalanan spiritual. Saat Indonesia naik kelas, manusianya juga harus naik kelas. Semua agama mengajarkan itu,” ujarnya. Dany mengutip ayat-ayat dari Al-Qur’an maupun Injil yang menegaskan kewajiban manusia mempersiapkan hari esok yang lebih baik sebagai dasar etis bagi transformasi bangsa.
Dany menjelaskan, buku setebal 780 halaman yang ia susun bersama Editor Prof Reda Manthovani itu lahir sebagai respons atas tantangan Presiden Prabowo: membawa Indonesia melaju ke pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Menurut Dany, Indonesia punya modal awal yang sangat kuat. Potensi sumber daya alamnya termasuk yang terbesar di dunia. Batubara, emas, nikel, sampai timah. Semua itu, katanya, seharusnya menjadi bahan bakar bagi transformasi industrial yang lebih berani.
Baca juga : Ranperda KTR Diprotes, Dunia Usaha Peringatkan Dampak Ekonomi Serius
Namun, ia mengingatkan satu ganjalan. Penerimaan pajak Indonesia yang masih berkisar 9–10 persen dari PDB. Jauh tertinggal dibanding negara lain. “Ini menunjukkan komoditas kita masih didominasi raw material. Nilai tambahnya belum kita kembangkan,” tegas Anggota Majelis Wali Amanat UI itu.
Dany menekankan, hilirisasi harus berjalan seiring dengan industrialisasi. Ia mencontohkan pembangunan smelter Freeport senilai Rp65 triliun yang, menurutnya, semestinya langsung diikuti roadmap industri turunan. “Satu smelter bisa melahirkan 10 sampai 12 industri hilir. Ekosistemnya harus dirancang sejak awal,” ujarnya.
Dany turut membeberkan isi bukunya yang entah kenapa berkaitan angka 8. Terdiri dari 88 bab, 80 subbab, dan lebih dari 138 ribu kata. Di dalamnya, Dany mengulas konsep nilai tambah, strategi industrialisasi, perbandingan kebijakan delapan negara, hingga kerangka Distinctive, Adaptive, Inclusive (DAI) sebagai pondasi pengembangan kapabilitas industri nasional.
Bagi Dany, hilirisasi dan industrialisasi tidak boleh dipandang sebagai program sesaat. Keduanya harus menjadi gerakan berkesinambungan. “Angka delapan itu bentuknya tidak putus. Itu simbol bahwa hilirisasi harus jalan terus,” selorohnya, disambut tawa hadirin.
Dari sisi politik, Dany juga menilai momentum transformasi kini terbuka lebar.
“Akseptabilitas pemerintahan di atas 70 persen. Ini kepercayaan rakyat yang tidak boleh dikhianati,” katanya.
Terkahir, Dany mendorong agar visi besar Presiden dan amanat para ekonom Indonesia terdahulu, seperti Prof. Sumitro dan Prof. Margono, diterjemahkan menjadi eksekusi yang mengangkat martabat bangsa.
Di tempat yang sama, Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo menegaskan hilirisasi memang penting sebagai strategi nasional. Namun, menurut dia, kualitas sumber daya manusia (SDM) adalah faktor penentu apakah Indonesia benar-benar bisa naik kelas menjadi negara maju.
Baca juga : Frisian Flag Indonesia Kedai Kreatif 2025, Bangkitkan Ekonomi dari Dapur Rumah
"Selain hilirisasi sumber daya alam, kita jangan lupa pentingnya pendidikan manusia. Dalam hal ini Indonesia tertinggal jauh,” ujarnya.
Ia menyoroti hasil penilaian PISA yang menempatkan Indonesia di peringkat 63 dari 70 negara. Serta minimnya investasi riset nasional yang hanya sekitar 0,3 persen dari PDB. Hashim membandingkan kondisi tersebut dengan Korea Selatan yang mengalokasikan 3–4 persen, bahkan ada yang mencapai 6 persen.
Hashim kemudian mengangkat perbandingan historis. Pada 1960, kata dia, ekonomi Indonesia berada di atas Korea Selatan. Namun pada 2025, pendapatan per kapita Indonesia hanya sepersepuluh negara itu. “Mengapa? Kuncinya sumber daya manusia. Korea Selatan tidak punya sumber daya alam, tapi manusianya unggul,” katanya.
Selain pendidikan, Hashim menyoroti lemahnya penerimaan negara. Mengacu data Bank Dunia, ia menyebut rasio pajak Indonesia stagnan di angka 12 persen selama satu dekade, kalah dari Kamboja yang melonjak hingga 18 persen.
Karena itu, ia mendorong agar hilirisasi berjalan seiring pembenahan pendidikan, riset, dan tata kelola negara. “Indonesia bisa jadi kekuatan besar asalkan kita kelola bangsa ini dengan baik,” ucapnya.
Hashim mengakhiri pidato dengan memberikan apresiasi atas terbitnya buku Indonesia Naik Kelas. “Ini karya luar biasa. Harus dibaca mahasiswa, bukan hanya di UI tapi kampus-kampus lain,” katanya.
Senada disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang memberikan sambutan melalui tayangan video. Kata dia, Indonesia hanya bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen yang inklusif dan berkelanjutan jika seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama. “Ini tanggung jawab kita semua sebagai stakeholder yang mencintai negeri ini,” ujarnya.
Airlangga memuji buku Indonesia Naik Kelas sebagai pemicu gagasan reflektif dan konstruktif bagi bangsa dalam membaca perubahan lanskap geopolitik global. Dari buku itu, ia menyoroti satu hal yang menurutnya krusial: hilirisasi.
Baca juga : Citi Indonesia Cetak Laba Rp 2,3 Triliun, ROE Tembus 15,4 Persen
“Hilirisasi telah menjadi kebijakan pemerintah dan menjadi peluncur agar Indonesia bisa naik kelas bertahap sesuai kapabilitas industri,” kata Airlangga. Ia menegaskan, industri bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan kemampuan engineering dan rekayasa anak bangsa.
Airlangga menilai industrialisasi yang sejalan dengan global supply chain dan bersifat inklusif adalah keharusan. Selain menciptakan nilai tambah, industrialisasi juga memberi multiplier effect bagi desa, kota kecil, hingga UMKM di sekitar kawasan industri.
Dalam kesempatan itu, Airlangga menyebut Dany sebagai sosok profesional penuh ide dan warisan pemikiran. “Semoga buku ini menginspirasi para pemuda Indonesia untuk masuk dan membangun sektor industri sesuai rantai pasoknya,” tutup Airlangga.
Hal senada disampaikan Menteri Investasi/Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani. Ia menilai Indonesia berada di jalur tepat untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah dan bertransformasi menjadi negara industri maju.
Menurut Rosan, buku karya Dany menghadirkan peta jalan strategis menuju pertumbuhan berkelanjutan 8 persen dalam visi Indonesia Emas 2045. “Buku ini lahir dari keyakinan bahwa bangsa ini mampu bertransformasi,” ujarnya.
Rosan menyebut hilirisasi sebagai motor penting pembangunan. Ekonominya terbukti tetap stabil di kisaran 5 persen meski dunia penuh ketidakpastian. “Hilirisasi bukan sekadar program. Ini strategi fundamental bangsa untuk memperdalam rantai nilai dan menata ulang arah ekonomi Indonesia,” katanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya