Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Profil RDMP Balikpapan, Proyek Rp 123 T Yang Akan Diresmikan Prabowo Hari Ini
Senin, 12 Januari 2026 10:28 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Senin (12/1/2026). Proyek strategis nasional yang merupakan tonggak penting dalam pengembangan infrastruktur energi nasional yang terintegrasi ini, mencakup sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang keandalan rantai pasok energi secara menyeluruh.
Dengan cakupan pembangunan yang komprehensif, RDMP Balikpapan menjadi salah satu pilar utama dalam transformasi infrastruktur energi nasional guna mendukung ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.
Berikut profil proyek RDMP Balikpapan, seperti dikutip dari berbagai sumber:
1. Nilai Investasi Rp 123 Triliun
Proyek RDMP Balikpapan yang dibangun sejak 2019, memiliki nilai total investasi setara Rp 123 triliun ini. Proyek ini ditujukan untuk memodernisasi kilang eksisting demi meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, mendorong hilirisasi industri petrokimia, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
2. Revitalisasi 4 Unit Fasilitas Utama Pengolahan
Proyek RDMP Balikpapan tidak hanya membangun unit baru, tetapi juga melakukan revitalisasi 4 unit fasilitas utama pengolahan, antara lain unit distilasi minyak mentah, unit pengolahan residu, unit hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG.
Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini ditujukan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi.
3. Infrastruktur Terintegrasi
Baca juga : Gregoria Dapat Protected Ranking, PBSI Amankan Peringkat Dunia Atlet
RDMP Balikpapan dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama proyek yang saling terhubung dan terintegrasi untuk memastikan kesiapan operasional kilang serta keberlanjutan pasokan energi nasional. Lingkup pertama adalah early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan. Tahap ini meliputi persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi. Early work menjadi fondasi penting untuk mendukung kelancaran dan keselamatan seluruh tahapan konstruksi utama RDMP Balikpapan.
Pada lingkup kedua, Pertamina melaksanakan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit, terdiri dari 21 unit proses baru serta 13 unit fasilitas utilitas pendukung. Tidak hanya membangun unit baru, proyek ini juga melakukan revitalisasi 4 unit fasilitas utama pengolahan, antara lain unit distilasi minyak mentah, unit pengolahan residu, unit hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG. Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi.
Lingkup ketiga merupakan penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah, yang mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel. Pada tahap ini, Pertamina juga membangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT. Infrastruktur ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan penerimaan minyak mentah dari kapal tanker berkapasitas besar.
4. Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex
Fasilitas RFCC Complex yang merupakan elemen kunci dalam Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, menandai lompatan besar modernisasi Kilang Pertamina menuju standar kilang kelas dunia yang efisien, bernilai tambah tinggi, dan ramah lingkungan. Sebagai unit pengolahan utama, RFCC Complex dirancang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi.
RFCC Complex adalah tulang punggung operasional Kilang Balikpapan dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.
5. Kapasitas Pengolahan Kilang 360.000 Barel Per Hari
RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari sekitar 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperempat dari kebutuhan BBM nasional.
5. Stop Impor Solar Di Tahun 2026
Baca juga : RDMP Balikpapan Rampung, Impor Solar Distop April 2026
Menteri Energi & Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memproyeksikan, Indonesia akan mengalami surplus produksi solar yang signifikan, jika kilang RDMP Balikpapan sudah beroperasi penuh.
"Kalau RDMP sudah jadi, kita akan surplus kurang lebih sekitar 3 sampai 4 juta kiloliter. Jadi, agenda kami di 2026 itu tidak ada impor solar lagi," ujar Bahlil, usai meninjau TBBM Plumpang Jakarta, Minggu (28/12/2025).
6. Standar Euro 5, Kandungan Sulfur 10 ppm
Melalui RFCC Complex dan unit tambahan lainnya, Kilang Balikpapan mengalami peningkatan signifikan dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm.
7. Meningkatkan Produksi LPG & Menghasilkan Petrokimia
Dengan beroperasinya RFCC Complex, Kilang Balikpapan tidak hanya memproduksi bensin dan solar, tetapi juga mampu menambah produksi LPG serta menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum dapat dihasilkan di kilang ini.
“Penambahan produksi LPG dari Kilang Balikpapan diperkirakan mencapai 336 ribu ton per tahun, sehingga dapat memperkuat pasokan LPG domestik dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap impor,” jelas Vice President Corporate Communications Pertamina, Muhammad Baron dalam keterangan resminya, Minggu (11/1/12026).
8. Mengubah Minyak Residu Jadi Nafta & Propylene
RFCC Complex memungkinkan pengolahan minyak residu yang sebelumnya sulit diolah, menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene. Inovasi ini meningkatkan nilai ekonomi kilang sekaligus memperluas kontribusi Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.
Baca juga : Pidato Lengkap Presiden Putin Saat Menerima Kunjungan Presiden Prabowo
RFCC Complex menjadi simbol kesiapan Pertamina menyongsong era baru pengolahan kilang modern, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap swasembada energi nasional sebagaimana diamanatkan dalam Asta Cita Pemerintah
9. Nelson Complexity Index 8,0
Dari sisi kinerja, kompleksitas Kilang Balikpapan meningkat signifikan. Ini tercermin dari Nelson Complexity Index (NCI) yang melonjak dari 3,7 menjadi 8,0. Semakin tinggi angkanya, kilang menjadi lebih kompleks, sehingga mampu menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi.
10. Yield Valuable Produk 91,8 Persen
Yield Valuable Product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai meningkat dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen, atau naik sekitar 16 persen. Ini menegaskan efisiensi dan daya saing kilang yang semakin tinggi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya