Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Jaga Rupiah, BI Tahan Suku Bunga Di Posisi 4,75 Persen
Rabu, 21 Januari 2026 15:53 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 20–21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 4,75 persen. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility tetap di level 3,75 persen dan Lending Facility sebesar 5,50 persen.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global, sekaligus memastikan inflasi 2026–2027 tetap terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI, Rabu (21/1/2026).
Perry menjelaskan, ke depan BI akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate seiring dengan prakiraan inflasi yang tetap terjaga dan stabilitas makroekonomi yang solid. Di saat yang sama, efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial akan terus diperkuat.
Baca juga : Trader Aktif Bulanan Pintu Futures Melesat Hampir 500 Persen
Bank Indonesia juga menegaskan komitmennya menjalankan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran secara terintegrasi guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah, BI memperkuat intervensi di pasar keuangan, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Kebijakan tersebut juga didukung dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.
“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia,” ujar Perry.
Dari sisi operasi moneter, BI memperkuat strategi pro-market melalui pengelolaan struktur suku bunga instrumen moneter, optimalisasi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta peningkatan daya tarik imbal hasil SBN di pasar sekunder.
Baca juga : Rumah Zakat Salurkan Bantuan BTN Dan Pos Indonesia Untuk Sumatera
Sementara itu, kebijakan makroprudensial tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-growth), antara lain dengan meningkatkan efektivitas Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Langkah ini ditujukan untuk mempercepat penurunan suku bunga perbankan dan mendorong pertumbuhan kredit serta pembiayaan ke sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas pemerintah.
BI juga memperkuat transparansi melalui publikasi asesmen Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK), termasuk pendalaman respons suku bunga kredit per sektor prioritas terhadap perubahan suku bunga kebijakan.
Di bidang sistem pembayaran, Perry menegaskan BI terus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan ketahanan infrastruktur. Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah implementasi QRIS antarnegara Indonesia–China dan Indonesia–Korea Selatan yang ditargetkan mulai berjalan pada triwulan I 2026.
Selain itu, Bank Indonesia memperluas kerja sama internasional di bidang kebanksentralan, termasuk konektivitas sistem pembayaran dan transaksi menggunakan mata uang lokal (local currency transaction/LCT), serta fasilitasi promosi investasi dan perdagangan di sektor prioritas bersama instansi terkait.
Baca juga : Warung Kopi di Aceh Tamiang Buka Lagi Pascabanjir, Pembeli Ramai
Perry menambahkan, seluruh arah kebijakan tersebut dijalankan dengan sinergi erat bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah.
“Sinergi kebijakan akan terus diperkuat agar stabilitas terjaga dan pertumbuhan ekonomi nasional dapat terus meningkat secara berkelanjutan,” pungkas Perry.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya