Dark/Light Mode

Opportunity in Crisis: Real Estate Indonesia Didorong Bangkit di 2026

Rabu, 21 Januari 2026 20:14 WIB
CEO & Founder IREI, Linda T. Wijaya. (Foto: IREI)
CEO & Founder IREI, Linda T. Wijaya. (Foto: IREI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, industri real estate Indonesia justru melihat peluang untuk bertransformasi.

Tahun 2026 dipandang sebagai momentum penting untuk mengubah tantangan menjadi aset bernilai tinggi dan berkelanjutan.

Hal ini mengemuka dalam talkshow bertajuk “Advancing Challenge Into High Value & Opportunities” yang digelar Indonesia Real Estate Institute (IREI).

Forum ini mempertemukan para pakar real estate, investasi, arsitektur, dan keberlanjutan untuk membahas masa depan pengembangan properti nasional.

Sejumlah pembicara hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Johannes Widodo (Profesor National University of Singapore), Bayu Utomo (Strategic Property Optimization Expert), Vivin Harsanto (Executive Director & Head of Growth JLL).

Lalu, Iwan Prijanto (CEO Dex Sustainable Solution sekaligus Chair Board of Experts GBCI), Ryan Brasali (Director Kota Baru Parahyangan), Yudhaprana Sugarda (Architect & Airport Management Expert), serta Linda T. Wijaya, CEO & Founder IREI.

Baca juga : Membangun Daerah, Indonesia Bangkit Menuju Negara Maju 2045

IREI merupakan lembaga yang didedikasikan untuk pendidikan, pelatihan, dan pengembangan profesional di bidang real estate.

Lembaga ini berkomitmen membentuk masa depan industri melalui penyediaan pengetahuan modern, pengalaman belajar adaptif, serta penguatan budaya perbaikan berkelanjutan.

Melalui tema yang diangkat, IREI mendorong industri real estate untuk mengubah tekanan menjadi peluang, antara lain melalui reposisi aset, pengembangan sektor non-tradisional, serta optimalisasi nilai kawasan.

Tren flight to quality dinilai semakin menguat, sementara sektor pusat data, logistik modern, kawasan industri berbasis teknologi, kesehatan, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan baru.

Prinsip keberlanjutan dan ESG pun kini menjadi fondasi utama pengembangan properti berdaya saing jangka panjang.

Dalam paparannya bertajuk “Overcoming Investment Challenges in a Downturn Time”, Bayu Utomo menekankan pentingnya kesiapan proyek, proses pengembangan yang terstruktur, serta keselarasan antara pengembang dan investor dalam menghadapi dinamika pasar.

Baca juga : 9 Sinyal Kuat Ekonomi Indonesia, Modal Penting Pemerintahan Prabowo di 2026

Dengan mengacu pada analisis pasar real estate Asia Pasifik dan kerangka RISE—Resilience, Innovation, Sustainability, Efficiency—strategi ini dinilai mampu menjaga keberlanjutan proyek sekaligus meningkatkan kepercayaan investor jangka panjang.

Sementara itu, Johannes Widodo menegaskan bahwa setiap krisis selalu mengandung peluang. Dengan pendekatan within crisis there is opportunity, industri real estate didorong untuk mengadopsi perspektif yang lebih visioner, adaptif, dan inovatif.

Empat pilar utama—resilience, innovation, sustainability, dan efficiency—dinilai menjadi kunci agar industri tidak hanya bertahan, tetapi juga bangkit lebih kuat.

Diskusi juga menyoroti peran bandara sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui konsep Airport Urbanism. Bandara kini berkembang menjadi ekosistem properti terpadu yang mengintegrasikan penerbangan, ritel, bisnis, logistik, dan pariwisata, sekaligus membuka peluang pendapatan non-aeronautika yang berkelanjutan serta mendorong pertumbuhan ekonomi regional.

Sebagai contoh pengembangan berkelanjutan, Kota Baru Parahyangan (KBP) diperkenalkan sebagai kota mandiri seluas 1.800 hektare yang mengedepankan pendidikan, kualitas hidup, dan kelestarian lingkungan.

Hingga September 2025, lebih dari 6.000 unit hunian telah dihuni dan didukung fasilitas pendidikan, kesehatan, komersial, serta ruang terbuka hijau yang terintegrasi.

Baca juga : Pengurus Nasional Rental Indonesia Resmi Dilantik, Siap Jadi Mitra Pemerintah

Secara keseluruhan, meskipun pasar properti Indonesia masih berada dalam fase penyesuaian, prospek jangka panjang dinilai tetap menjanjikan.

Dukungan demografi, pertumbuhan ekonomi digital, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus membuka peluang besar bagi sektor real estate nasional untuk menciptakan aset bernilai tinggi sekaligus memberikan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.

CEO IREI sekaligus penggagas acara, Linda T. Wijaya, mengatakan industri real estate Indonesia memiliki peluang besar dalam percepatan pembangunan, termasuk melalui penguatan jaringan penunjang seperti Transit Oriented Development (TOD) yang secara bertahap menjadi jalur arteri mobilitas masyarakat.

“Saya bersama para praktisi profesional yang memprakarsai IREI akan semakin gencar mendorong perubahan dan kemajuan real estate Indonesia ke depan,” tutup Linda.

IREI sebagai lembaga akademi real estate juga akan menghadirkan pelatihan spesifik di bidang planning & development, marketing & management, finance & investment, energy & sustainability, serta teknologi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.