Dark/Light Mode

Serap 6 Ribu Tenaga Kerja

Danantara Resmikan Proyek Hilirisasi Fase I Senilai 7 Miliar Dolar AS

Senin, 9 Februari 2026 06:35 WIB
Menteri Investasi/Kepala BKPM yang juga CEO Danantara Rosan Roeslani (dua kiri), bersama Chief Operating Officer (COO) Danantara Donny Oskaria (dua kanan), Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir (kiri), dan CTO Danantara Sigit Puji Santosa saat melakukan prosesi groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase I, di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (6/2/2026). (Foto: Dok. Pertamina)
Menteri Investasi/Kepala BKPM yang juga CEO Danantara Rosan Roeslani (dua kiri), bersama Chief Operating Officer (COO) Danantara Donny Oskaria (dua kanan), Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir (kiri), dan CTO Danantara Sigit Puji Santosa saat melakukan prosesi groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase I, di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (6/2/2026). (Foto: Dok. Pertamina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Danantara Indonesia meresmikan proyek hilirisasi Fase I senilai sekitar 7 miliar dolar AS Acara groundbreaking digelar serentak di tiap lokasi dan peresmian dipusatkan secara daring di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (6/2/2026). Proyek lintas sektor ini tersebar di 13 lokasi dan diproyeksikan menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja langsung, sekaligus memperkuat struktur industri nasional.

Proyek tersebut mencakup sektor energi, pangan, mineral, dan logam. Proyek tersebut dirancang terintegrasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik serta menekan ketergantungan impor secara bertahap. 

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, program hilirisasi merupakan agenda strategis nasional dan menjadi salah satu fokus utama Danantara Indonesia dalam mendorong transformasi ekonomi nasional. Menurutnya, tahap awal proyek diharapkan memberi dampak nyata bagi perekonomian melalui peningkatan nilai tambah industri dan penyerapan tenaga kerja. 

“Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” ujar Rosan. 

Baca juga : Pusat-Daerah Bersinergi Ubah Sampah Jadi Energi

Pelaksanaan proyek-proyek hilirisasi ini sejalan dengan arahan Presiden untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional melalui penguatan sektor riil, peningkatan nilai tambah sumber daya domestik, serta pembangunan industri yang berdaya saing dan berkelanjutan. Danantara Indonesia bersama BUMN terkait memastikan seluruh proyek prioritas direalisasikan secara disiplin, tepat waktu, dan memberikan dampak ekonomi yang nyata. 

Energi: Bioethanol Dan Biorefinery Untuk Transisi Energi 

Di sektor energi, salah satu proyek yang diresmikan adalah Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur. Proyek ini hasil sinergi PTPN III (Persero) dan Pertamina melalui Subholding Pertamina New and Renewable Energy Fasilitas ini dirancang berkapasitas 100 kiloliter per hari atau sekitar 30.000 KL per tahun berbasis tebu. 

Proyek sinergi BUMN tersebut diharapkan mendukung energi transisi, sektor pertanian, dan pelestarian lingkungan. Selain berpotensi menurunkan impor BBM, pabrik bioethanol ini diproyeksikan mengurangi emisi hingga 66 ribu ton setara CO2 per tahun serta memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan lebih dari 4.000 petani dan tenaga kerja lokal. 

Direktur Utama PTPN III Denaldy Mulino Mauna menyatakan, proyek bioethanol ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor bahan bakar, menekan emisi karbon, serta membuka peluang ekonomi baru bagi petani mitra dan masyarakat sekitar. “Proyek ini juga ditargetkan menghemat devisa dan mendorong pemanfaatan energi terbarukan,” kata Denaldy. 

Baca juga : King MU Kembali

Di sektor energi terbarukan lainnya, Pertamina meresmikan groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase I Biorefinery Cilacap di Jawa Tengah. Fasilitas ini dirancang mengolah hingga 6.000 barel per hari (KBPD) minyak jelantah. Saat ini, Biorefinery Cilacap telah memproduksi 27 kiloliter (KL) Sustainable Aviation Fuel (SAF) per hari, dan ditargetkan meningkat menjadi 887 KL per hari pada 2029. 

Kehadiran biorefinery tersebut ditujukan untuk mendukung sektor energi dan penerbangan nasional. Sekaligus mempercepat transisi energi dan menekan impor avtur. Proyek ini juga menjadi bagian dari penguatan rantai nilai industri nasional serta implementasi Peta Jalan penggunaan SAF di Indonesia. 

Dari sisi lingkungan dan ekonomi, Biorefinery Cilacap berpotensi menurunkan emisi hingga 600 ribu ton setara CO2 per tahun serta mendorong peningkatan produk domestik bruto (PDB) dengan estimasi mencapai Rp 199 triliun per tahun. Proyek ini juga memberi dampak ekonomi lokal melalui penyerapan sekitar 5.900 tenaga kerja tidak langsung, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), dan pemberdayaan masyarakat sekitar. 

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan, kedua proyek tersebut merupakan langkah nyata Pertamina dalam mendukung program pemerintah menuju swasembada energi yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi sumber daya dalam negeri. 

Baca juga : Motor Terbaru Ducati Buas, Lorenzo Sebut Marquez Siap-siap Menggila Lagi

“Program Biorefinery Cilacap dan pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore diharapkan mampu mewujudkan transisi energi yang berkelanjutan, menurunkan impor avtur dan BBM, serta mendukung Peta Jalan penggunaan SAF dan swasembada energi di Indonesia,” ujarnya. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.