Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Dapur MBG di NTT Ciptakan Rantai Ekonomi: IRT Dapat Kerja, Panen Petani Terserap
Jumat, 13 Februari 2026 23:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak sekadar memberikan asupan nutrisi bagi siswa, namun juga menjadi motor penggerak ekonomi baru di tingkat desa.
Hal itu dirasakan dapur MBG dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Kadiwano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berkat keberadaan dapur MBG, rantai ekonomi lokal menjadi hidup. Tercipta lapangan kerja bagi masyarakat lokal, terutama ibu rumah tangga, hingga berdayanya petani lokal.
Kepala SPPG Kadiwano, Edwin Putra Kadege, mengatakan saat ini dapur MBG yang dikelolanya melayani sekitar 2.000 penerima manfaat yang tersebar di 15 sekolah mulai dari jenjang Taman Kanak-kanan (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Kebutuhan akan bahan baku pun sangat besar. Kebutuhan ini bisa dipenuhi melalui kerja sama dengan petani lokal. SPPG Kadiwano membutuhkan puluhan bahkan ratusan kilogram sayur-sayuran seperti kacang-kacangan, wortel, atau sawi.
Baca juga : Kinerja Pemerintahan Prabowo Glowing: Ekonomi, Politik, dan Keamanan Membaik
“Jadi, memang kami memberdayakan UMKM di sekitar SPPG. Dengan adanya MBG, manfaat tidak hanya untuk adik-adik sekolah, tapi lebih luas kepada masyarakat,” kata Edwin, Kamis (12/2/2026).
Untuk menjaga stabilitas stok dan mencegah penumpukan hasil panen, SPPG juga mengatur jadwal suplai setiap minggunya. Hal ini dilakukan agar komoditas yang ditanam petani bisa terserap optimal.
"Ada yang tanam wortel, ada yang tanam sawi, terus ada yang fokus pisang. Supaya jangan menumpuk. Karena kalau menumpuk kewalahan juga,” kata dia.
Meski sebagian besar bahan baku sudah terpenuhi secara lokal, Edwin mencatat beberapa komoditas seperti telur atau kentang masih didatangkan dari luar kecamatan melalui UMKM. Hal ini dikarenakan kapasitas produksi lokal masih minim.
Baca juga : Moody’s Pertahankan Rating Baa2, Ekonomi Indonesia Tetap Kuat & Tahan Banting
Keberadaan dapur MBG pun menjadi berkah tersendiri bagi ibu rumah tangga (IRT). Mereka diberdayakan untuk memasak. "Rata-rata yang kerja di kami itu adalah ibu rumah tangga yang selama ini tidak mendapatkan peluang bekerja,” kata Edwin.
Dulu, para IRT merasa tersisihkan. Mereka sulit sekali mencari kerja. Kini, dapur MBG bisa menampung para IRT. Mereka juga bersemangat untuk belajar dan berlatih demi bisa menyediakan menu makanan yang sehat dan bergizi.
Dampak paling terasa dari keberadaan program MBG, lanjut dia, adalah berubahnya pola perilaku siswa di sekolah. Dari yang tidak biasa sarapan, kini mereka teratur untuk makan sebelum belajar.
Edwin mendapatkan laporan dari para guru bahwa tingkat kehadiran siswa meningkat. Mereka lebih rajin masuk sekolah karena tahu ada makanan enak. “Dari (informasi) guru-guru yang kami kunjungi, sejak adanya MBG ini, niat anak-anak masuk sekolah meningkat,” katanya.
Baca juga : KUR BRI Mengaliri Sawah Rakyat Gerakkan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Nasional
Melihat dampak positif yang masif, Edwin berharap program MBG terus berlanjut tanpa henti. Menurutnya, program ini adalah solusi komprehensif untuk mengatasi kemiskinan dan gizi buruk di daerah pelosok.
Program ini juga sangat efektif untuk menciptakan rantai ekonomi lokal. Mesin ekonomi lokal bergerak dan penghasilan masyarakat bertambah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya