Dark/Light Mode

Kemenperin Prihatin KOS Tutup, Baja RI Terpukul Impor Murah

Rabu, 6 Mei 2026 13:18 WIB
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. (Foto: Kemenperin)
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri baja nasional tengah menghadapi tekanan berat di tengah dinamika global yang semakin kompleks, mulai dari kelebihan pasokan, banjir produk impor murah, hingga melemahnya permintaan domestik. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan kinerja sejumlah pelaku industri dalam negeri.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan keprihatinan atas kondisi yang dialami PT Krakatau Osaka Steel(KOS), yang memutuskan menghentikan kegiatan produksi pada akhir April 2026 dan akan menutup seluruh operasionalnya pada Juni 2026.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan pemerintah memahami dampak sosial dan ekonomi dari keputusan tersebut, khususnya bagi para pekerja.

“Kami turut prihatin atas kondisi yang dihadapi para pekerja PT Krakatau Osaka Steel. Pemerintah mengimbau perusahaan untuk memenuhi hak-hak pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Baca juga : Pemerintah Kaji CNG Dan DME Untuk Tekan Impor LPG

Berdasarkan informasi perusahaan, keputusan penghentian produksi telah ditetapkan melalui rapat dewan direksi pada 23 Januari 2026. Perusahaan juga mencatatkan kerugian sejak 2022 seiring penurunan kinerja bisnis yang berlanjut.

Penurunan permintaan baja konstruksi di pasar domestik serta meningkatnya persaingan dengan produk impor berharga murah menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut. Produsen baja global, khususnya dari China, dinilai memiliki keunggulan dari sisi skala produksi dan efisiensi biaya sehingga mampu menawarkan harga lebih kompetitif di pasar internasional, termasuk Indonesia.

“Kondisi ini menempatkan industri baja nasional pada posisi yang sulit. Di satu sisi, produsen dalam negeri berkomitmen menjaga kualitas produk, namun di sisi lain harus menghadapi tekanan harga dari produk impor yang lebih rendah,” kata Febri.

Ia menambahkan, situasi tersebut semakin diperberat oleh melemahnya permintaan domestik, terutama dari sektor konstruksi. Menurutnya, kesulitan yang dialami KOS merupakan kombinasi berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.

Baca juga : Kemenperin Kembangkan Kemasan Aseptik Untuk Industri Mamin

“Selain keterbatasan diversifikasi produk, penurunan permintaan dan tekanan impor baja murah, kelebihan pasokan global juga memengaruhi daya saing perusahaan,” ujarnya.

Untuk mendukung keberlangsungan industri baja nasional, Kemenperin telah menempuh sejumlah langkah strategis, antara lain pengendalian impor melalui kebijakan larangan dan pembatasan (lartas), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk baja batangan, penyediaan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), serta pemberian tarif bea masuk nol persen untuk bahan baku billet.

Namun demikian, pemerintah menilai masih diperlukan penguatan kebijakan perlindungan dan pengembangan industri baja nasional. Kemenperin akan melakukan kajian komprehensif guna merumuskan strategi yang lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan sektor tersebut.

Secara global, industri baja menghadapi tantangan berupa kelebihan pasokan serta praktik perdagangan dengan harga rendah, terutama dari China. Sejumlah negara merespons kondisi tersebut dengan kebijakan proteksi, seperti tarif bea masuk dan instrumen trade remedies, serta mendorong peningkatan efisiensi dan inovasi teknologi.

Baca juga : Kemenperin Pastikan Industri TPT Tetap Terkendali Di Tengah Krisis

Kemenperin menegaskan akan terus memperkuat daya saing industri baja nasional melalui penguatan pengendalian impor, perluasan penerapan SNI wajib, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri.

“Keberhasilan penguatan industri baja nasional memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat,” kata Febri.

Ia menambahkan, dinamika geopolitik global, struktur biaya produksi, serta tingkat permintaan domestik akan sangat memengaruhi efektivitas kebijakan yang dijalankan ke depan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.