Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
CORE Indonesia: Kenaikan BI Rate Perlu Untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Selasa, 9 Juni 2026 18:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan secara bertahap hingga mencapai 5,50 persen dinilai sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
Kenaikan BI Rate dilakukan setelah pada Mei 2026 BI lebih dulu menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, sebelum kembali naik 25 basis poin pada Juni 2026.
Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy, mengatakan kebijakan pengetatan moneter tersebut merupakan respons yang wajar terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.
Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 merupakan langkah yang diperlukan sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan eksternal yang mengancam stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca juga : Elara Skin Hadir di Indonesia, Usung EXO3 untuk Perawatan Kulit dari Rumah
"Dalam situasi ketika gejolak global akibat konflik Timur Tengah mendorong ketidakpastian pasar keuangan, menjaga stabilitas menjadi prioritas yang wajar sebelum berbicara lebih jauh mengenai akselerasi pertumbuhan ekonomi," kata Yusuf kepada Rakyat Merdeka.
Menurutnya, pelemahan rupiah hingga sekitar Rp18.000 per dolar AS per 9 Juni 2026, koreksi pasar saham, serta keluarnya modal asing dari pasar domestik menjadi faktor yang memperkuat urgensi kenaikan suku bunga. Kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mencegah tekanan terhadap nilai tukar semakin dalam.
Pada saat yang sama, pasar saham mengalami koreksi dan arus modal asing keluar dari pasar domestik. Dalam kondisi seperti ini, kenaikan suku bunga diperlukan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik sehingga tekanan terhadap nilai tukar tidak semakin dalam.
"Stabilitas eksternal menjadi semakin penting mengingat prospek ekonomi global juga sedang memburuk, dengan pertumbuhan dunia yang diperkirakan melambat dan inflasi global yang masih relatif tinggi," ujarnya.
Baca juga : Gubernur BI Bagikan Resep Moneter-Fiskal Untuk Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Yusuf menambahkan, kenaikan suku bunga juga berfungsi sebagai langkah antisipatif untuk meredam tekanan inflasi impor yang berpotensi muncul akibat depresiasi rupiah. Meski inflasi masih berada dalam rentang sasaran BI, tren kenaikannya mulai terlihat.
"Memang, saat keputusan diambil inflasi domestik masih berada dalam rentang sasaran. Namun arah pergerakannya mulai menunjukkan peningkatan, dengan inflasi tahunan Mei 2026 mencapai 3,08 persen dan inflasi inti mulai terdorong oleh sejumlah komoditas yang memiliki kandungan impor tinggi. Karena dampak pelemahan rupiah terhadap harga domestik biasanya muncul dengan jeda waktu, langkah pengetatan lebih dini dapat mengantisipasi tekanan harga tinggi dari imported inflation yang dihadapi masyarakat," jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga memiliki konsekuensi terhadap aktivitas ekonomi domestik. Biaya dana berpotensi meningkat, pertumbuhan kredit melambat, dan investasi dapat tertahan ketika ekonomi masih menghadapi berbagai tantangan.
"Risiko tersebut menjadi lebih relevan setelah Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga menjadi 5,50 persen pada Juni 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal ternyata lebih persisten dari perkiraan sebelumnya. Oleh karena itu, menurut saya, Bank Indonesia perlu memastikan bahwa proses pengetatan tetap berbasis data dan tidak dilakukan secara berlebihan," tuturnya.
Baca juga : IPR: Sikap Tenang Seskab Teddy Jadi Penopang Stabilitas Nasional
Ia menilai upaya menjaga stabilitas perlu diimbangi dengan kebijakan lain yang tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Stabilitas memang harus dijaga, tetapi upaya tersebut sebaiknya juga didukung oleh instrumen lain yang lebih ramah terhadap pertumbuhan, seperti kebijakan makroprudensial yang akomodatif, pendalaman pasar keuangan, dan langkah-langkah untuk memperkuat arus masuk modal," pungkas Yusuf.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya