Dark/Light Mode

IPB: Ekonomi Sirkular Sawit Bisa Dongkrak Nilai Biomassa hingga 9 Kali

Jumat, 17 Juli 2026 15:48 WIB
Foto: Ilustrasi.
Foto: Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Penerapan praktik ekonomi sirkular di industri kelapa sawit perlu terus diperkuat guna menjawab berbagai tantangan di sektor tersebut, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, maupun sosial.

Pemanfaatan biomassa dan limbah sawit secara optimal dinilai mampu menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Hariyadi mengatakan, salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular adalah mengoptimalkan biomassa sawit, seperti pelepah dan batang kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), cangkang dan serat sawit, hingga limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME).

Menurutnya, penerapan ekonomi sirkular pada biomassa sawit mampu meningkatkan nilai tambah hingga delapan sampai sembilan kali lipat.

"Perkembangan areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat spektakuler. Pada saat ini tercatat luas perkebunan sawit mencapai 16,83 juta hektare. Oleh karena itu, pengelolaan kelapa sawit harus dilakukan secara berkelanjutan," kata Hariyadi di Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Bangun Ekonomi Lokal dari Sumatera hingga Maluku

Dengan luas perkebunan mencapai 16,83 juta hektare, Indonesia memiliki potensi produksi biomassa sawit sekitar 261,7 juta ton bahan kering per tahun.

Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai produsen biomassa sawit terbesar di dunia. Hariyadi menjelaskan, biomassa sawit memiliki berbagai potensi pemanfaatan, mulai dari bahan baku kompos dan pupuk organik, bahan bakar pembangkit listrik biomassa, hingga bahan campuran semen dan konstruksi.

Dengan potensi produksi yang besar, biomassa sawit dinilai dapat menjadi salah satu penopang pengembangan energi terbarukan nasional.

Selain memperkuat ketahanan energi, pemanfaatannya juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan industri hilir.

Ia menambahkan, nilai tambah ekonomi dari pemanfaatan biomassa sawit mencakup pengembangan industri di sekitar sentra produksi, industri bahan bangunan berbasis serat alam, penyediaan energi terbarukan yang dapat dipasarkan ke jaringan listrik maupun sektor industri, serta pengurangan emisi metana dan peluang memperoleh kredit karbon.

Baca juga : Di Era Prabowo, Jemaah Haji Reguler Bisa Menginap di Hotel Bintang 5

"Optimalisasi limbah kelapa sawit akan memberikan nilai ekonomi baru," tegasnya.

Meski demikian, Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan (Alpenbun) itu mengakui implementasi ekonomi sirkular di industri sawit masih menghadapi sejumlah tantangan.

Di antaranya tingginya kebutuhan investasi awal, keterbatasan teknologi pengolahan limbah, serta biaya logistik dan distribusi yang masih tinggi.

"Selain itu, pasar produk turunan kelapa sawit belum kuat hingga regulasi dan insentif belum cukup mendukung," ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong hilirisasi industri sawit, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendukung penelitian dan pengembangan terkait penerapan ekonomi sirkular.

Baca juga : BI Dan PBOC Perkuat Kerja Sama Keuangan, Dorong Transaksi Mata Uang Lokal

Sebelumnya, dosen sekaligus peneliti Pusat Studi Sawit IPB University, Siti Nikmatin menilai, BPDP memiliki peran penting dalam mendukung riset inovatif mengenai penerapan ekonomi sirkular di industri kelapa sawit.

Menurut Nikmatin, model ekonomi sirkular tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan dan perekonomian, tetapi juga berdampak positif terhadap aspek sosial.

Limbah sawit yang diolah menjadi produk bernilai tambah dapat membuka peluang usaha sekaligus melibatkan masyarakat di sekitar perkebunan dan pabrik kelapa sawit.

"Sudah ada bukti nyata bahwa BPDP mendukung penelitian inovatif untuk kemajuan sawit di Indonesia," pungkas Nikmatin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.