Dark/Light Mode

Kadin: Ekonomi Halal Berpotensi Tembus Hingga 8 Triliun Dolar AS

Selasa, 28 April 2026 11:41 WIB
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie. (Foto : Ist)
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie. (Foto : Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mendorong penguatan kerja sama ekonomi Islam di kawasan Asia Pasifik. Dia menilai, potensi ekonomi halal global sangat besar dan harus dimanfaatkan Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun, dalam tiga hingga empat tahun ke depan nilai sektor halal diperkirakan menembus lebih dari 3 triliun dolar AS. Sementara itu, aset keuangan syariah berada di kisaran 5 hingga 8 triliun dolar AS.

Anin, sapaan akrab Anindya, menegaskan, Indonesia membutuhkan narasi pertumbuhan ekonomi yang kuat. Apalagi, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Baca juga : Kinerja Solid, Laba Bersih BCA Tembus Rp 14,7 Triliun Hingga Maret 2026

“Indonesia saat ini membutuhkan growth story yang kuat. Presiden menargetkan pertumbuhan bertahap menuju 8 persen, dan dalam situasi global yang penuh tantangan, kita membutuhkan mitra yang banyak, yang reliable, dan memiliki semangat untuk maju bersama,” kata Anin dalam keterangannya, dikutip Selasa (28/4/2026).

Anin juga mengucapkan selamat kepada Arsjad Rasjid atas penunjukannya sebagai Chairman B57+ Asia-Pacific Regional Chapter. Menurutnya, penunjukan tersebut menjadi kebanggaan bagi Indonesia karena cakupan Asia Pasifik sangat luas.

“Ini adalah kebanggaan bagi Indonesia. Asia Pasifik bukan hanya Indonesia atau Asia Tenggara, tetapi seluruh kawasan, dan memiliki wakil yang tepat seperti Pak Arsjad tentu patut kita dukung dan banggakan,” ujarnya.

Baca juga : BTN Kantongi Laba Bersih Rp 1,1 Triliun Melesat 22,6 Persen Per Kuartal I-2026

Menurut Anin, B57+ merupakan kelompok strategis yang tak hanya beranggotakan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), tetapi juga terhubung dengan Islamic Chamber of Commerce and Development. Karena itu, forum ini dinilai potensial menjadi mitra dalam pengembangan industri halal dan keuangan syariah.

“Ini adalah reliable dan prospective partner untuk mengembangkan industri halal dan Islamic finance. Indonesia sebagai negara muslim terbesar membutuhkan kesejahteraan yang bisa dirasakan hingga ke pelosok daerah,” terang Anin.

Sementara itu, Chairman B57+ Asia-Pacific Regional Chapter, Arsjad Rasjid, mengatakan ekonomi halal kini menjadi “bahasa bisnis” yang bersifat universal. Sektor ini, kata dia, tidak hanya ditujukan bagi komunitas Muslim, tetapi juga diterima luas karena menjunjung transparansi dan jaminan kualitas.

Baca juga : Indonesia Tak Akan Chaos

Namun demikian, Arsjad mengingatkan, potensi besar tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi manfaat ekonomi. Salah satu tantangan utamanya adalah belum optimalnya konektivitas antarnegara, khususnya di antara anggota OKI dan mitra strategisnya.

“Kita melihat ini terjadi di seluruh dunia, di sektor pariwisata, supply chain, hingga keuangan syariah yang berkembang pesat di berbagai negara. Ekonomi halal adalah bahasa bisnis yang semakin universal inklusif, tumbuh, dan relevan bagi semua,” pungkas Arsjad.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.