Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kinerja Semester I-2026, Pendapatan Astra Turun 3 Persen
Kamis, 30 Juli 2026 20:27 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Astra International Tbk (Astra Group) mencatat penurunan pendapatan bersih konsolidasian Grup sebesar 3 persen atau menjadi Rp 157,9 triliun di semester I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Senada, laba bersih, tidak termasuk non-recurring items, lebih rendah 7 persen sebesar Rp 14,9 triliun.
Meski begitu, Astra Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Sementara, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan.
Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan, di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, pihaknya tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi yang baru.
“Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis,” tegasnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/7/2026).
Rudy menegaskan, Astra akan senantiasa mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus memposisikan Grup untuk dapat memberikan peningkatan total imbal hasil bagi para pemegang saham serta mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.
Baca juga : Ekspor Toyota Naik 10,7 Persen, Tembus 145.080 Mobil
Tercatat pada Mei 2026, Astra mengumumkan strategi korporasi baru yang bertujuan untuk memberikan imbal hasil pemegang saham yang stabil dan berkelanjutan.
Strategi tersebut mencakup fokus pada tiga Core Businesses Grup, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan dan Solusi Pertambangan & Alat Berat; kerangka alokasi modal yang lebih disiplin, termasuk dividen dan share buyback, serta komitmen untuk bertransformasi melalui penyelarasan kepemimpinan.
Diungkapkan Rudy, strategi tersebut dibangun di atas empat pilar utama. Yakni, Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment.
Focus pada tiga Core Businesses, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan, serta Solusi Pertambangan & Alat Berat. Clarity, kerangka yang lebih jelas untuk mengelola Wider Businesses, menekankan bisnis yang bersinergi dengan ekosistem dan kapabilitas Astra.
Lalu Discipline, memperjelas kriteria alokasi modal dan investasi, dengan mempertimbangkan imbal hasil bagi pemegang saham.
Baca juga : Piala Presiden 2026, Persiapan Persija Baru 70 Persen
Serta, Commitment, menjalankan transformasi ini melalui penyelarasan kepemimpinan dengan kepentingan para pemegang saham dan pemangku kepentingan.
Astra juga telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp 8 triliun untuk 12 bulan ke depan, yang telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026.
“Selain itu, UT juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp 2 triliun untuk tiga bulan ke depan,” jelasnya.
Sebelumnya, sejak November 2025, Astra dan UT telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai
Rp 7,4 triliun hingga akhir Juni 2026. Selain itu, Astra juga telah menjalankan penyelarasan insentif manajemen melalui program MSOP.
Baca juga : Kementerian PU Terapkan Asbuton A30, Kurangi Ketergantungan Aspal Impor
Lebih lanjut, Rudy mengatakan, kinerja Grup secara keseluruhan terdampak oleh kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat yang lebih rendah, mencerminkan minimnya kontribusi dari divisi pertambangan emas, penurunan penjualan alat berat, serta penurunan volume pada divisi jasa penambangan dan pertambangan batu bara.
“Perseroan mencatat non-recurring items sebesar Rp 2,4 triliun, yang terutama terdiri atas penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas dan penurunan nilai (impairment),” jelasnya.
Sementara, nilai aset bersih per saham pada 30 Juni 2026 naik sebesar 1 persen menjadi Rp 5.763. Utang bersih pada 30 Juni 2026, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp 6,0 triliun, dibandingkan dengan kas bersih Rp 7,2 triliun pada 31 Desember 2025, terutama disebabkan oleh akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, share buyback, dan pergerakan modal kerja.
Utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp 67,0 triliun pada 30 Juni 2026, meningkat dibandingkan Rp 64,9 triliun pada 31 Desember 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya