Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- HUT ke-61 IKPI Hadirkan 11 Kegiatan, Jalan Sehat Jadi Magnet Ribuan Peserta
- PSSI Siapkan 254 Tiket Suporter Buat Laga Tandang Lawan Singapura
- Nazriel Tak Mau Cepat Puas, Bidik Final Bersama Persib
- Bekal Lawan Vietnam, Herdman Puji Mental Baja Timnas
- Real Madrid Buang Keunggulan, Ditahan Fiorentina 2-2
Dari Batu Hijau ke Hilirisasi, Smelter AMMAN Ubah Masa Depan Mineral
Jumat, 31 Juli 2026 10:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Selama puluhan tahun, tembaga dari Batu Hijau meninggalkan Indonesia dalam bentuk konsentrat. Kini, melalui smelter AMMAN di Sumbawa Barat, mineral itu diolah menjadi produk bernilai tinggi yang menggerakkan ekonomi lokal sekaligus memperkuat agenda hilirisasi nasional.
Di balik nyala tungku bersuhu lebih dari seribu derajat Celsius di Sumbawa Barat, perjalanan sebutir bijih tembaga memasuki babak baru.
Mineral yang selama puluhan tahun dikirim ke luar negeri sebagai konsentrat kini dimurnikan menjadi katoda tembaga, emas, dan perak di tanah tempat ia dilahirkan.
Aktivitas penambangan di Tambang Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Bijih tembaga dari tambang ini menjadi bahan baku utama smelter AMMAN yang mendukung hilirisasi mineral dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. (Foto: Dok. AMMAN)
Transformasi itu bukan sekadar proses metalurgi. Ia menandai perubahan cara Indonesia memandang kekayaan mineralnya bukan lagi semata-mata komoditas ekspor, melainkan sumber nilai tambah yang diolah di dalam negeri untuk memperkuat industri nasional.
Tonggak penting perjalanan tersebut dipertegas pada 18 Juli 2026 di Beijing, China. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) bersama China Nonferrous Metal Industry's Foreign Engineering and Construction Co., Ltd.
(NFC) menandatangani Completion and Project Acceptance Certificate (PAC), yang menandai rampungnya seluruh tahapan konstruksi, komisioning, hingga uji jaminan kinerja smelter.
Sertifikat itu sekaligus menjadi penanda dimulainya fase operasi jangka panjang salah satu kompleks smelter tembaga dan pemurnian logam mulia paling modern di dunia.
Bagi Indonesia, pencapaian itu jauh melampaui selesainya sebuah proyek industri. Selama bertahun-tahun, hilirisasi menjadi strategi untuk memastikan kekayaan mineral tidak berhenti sebagai bahan mentah.
Baca juga : Hari Anak Nasional 2026, Prudential Syariah Dorong Masa Depan Anak
Di Sumbawa Barat, kebijakan tersebut kini hadir dalam bentuk nyata. Smelter AMMAN mampu mengolah hingga 900.000 metrik ton konsentrat tembaga setiap tahun yang berasal dari Tambang Batu Hijau dan, pada masa mendatang, Tambang Elang.
Truk angkut mengangkut bijih tembaga di area Tambang Batu Hijau. Melalui hilirisasi, mineral yang sebelumnya diekspor sebagai konsentrat kini diolah menjadi katoda tembaga, emas, dan perak bernilai tinggi di Indonesia. (Foto: Dok. AMMAN)
Dari fasilitas ini lahir katoda tembaga, emas, perak, asam sulfat, hingga selenium, produk yang menjadi bahan baku penting bagi industri kendaraan listrik, energi terbarukan, teknologi digital, dan manufaktur berteknologi tinggi.
Presiden Direktur AMMAN Arief Sidarto menyebut rampungnya proyek smelter merupakan pencapaian penting bagi perusahaan.
"Di baliknya terdapat kerja keras, ketangguhan, dan kolaborasi yang kuat dari seluruh karyawan, serta para mitra kami dalam menghadapi berbagai tantangan selama proses pembangunan dan komisioning. Beroperasinya smelter ini menegaskan komitmen kami untuk mendukung agenda hilirisasi nasional," ujarnya, Jumat (24/7/2026).
Menurut Arief, keberhasilan hilirisasi tidak hanya bergantung pada besarnya investasi industri, tetapi juga pada ekosistem kebijakan yang mampu menjaga daya saing Indonesia di tengah persaingan global.
Ketua NFC, Liu Yu, menilai proyek tersebut menjadi contoh keberhasilan kolaborasi internasional dalam membangun industri pengolahan mineral bernilai tambah tinggi yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
Namun, nilai tambah itu tidak berhenti di dalam kawasan smelter. Dampaknya merambat hingga ke desa-desa, lahan pertanian, kolam budidaya ikan, dan pelaku usaha kecil yang menjadi bagian dari rantai pasok industri.
Salah satu contohnya terlihat dari pengelolaan limbah organik di dapur dan kantin karyawan. Sisa makanan yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan kini diolah bersama kelompok masyarakat menjadi pelet pakan ikan melalui proses pengeringan, pencampuran nutrisi, dan pengolahan khusus.
Baca juga : Sheila Dara Aisha, Kebaya Penuh Makna Dan Cerita
Pelet tersebut dimanfaatkan pembudidaya ikan lokal. Ketika panen tiba, hasil budidaya mereka kembali dibeli oleh mitra katering AMMAN untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ribuan karyawan.
Limbah yang semula tidak bernilai pun berubah menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Dalam satu rantai yang saling terhubung, industri, lingkungan, dan warga memperoleh manfaat secara bersamaan.
Di sektor lain, denyut ekonomi juga semakin terasa. Petani memasok sayuran dan kebutuhan pangan, peternak memenuhi kebutuhan protein, pelaku logistik menghubungkan rantai pasok, sementara UMKM dan penyedia jasa tumbuh mengikuti meningkatnya aktivitas industri.
Dampak tersebut tidak hanya terlihat di lapangan. Penelitian Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan aktivitas operasional AMMAN, pembangunan smelter, dan program pemberdayaan masyarakat sepanjang 2018–2024 memberikan kontribusi sekitar Rp 173,4 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Penelitian yang sama mencatat kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga mencapai Rp 67,6 triliun. Aktivitas perusahaan juga diperkirakan membantu menurunkan tingkat kemiskinan sekitar 80.000 hingga 206.000 orang, serta menciptakan rata-rata 55.000 lapangan kerja setiap tahun secara nasional.
Pekerja memantau proses pengolahan mineral di fasilitas AMMAN. Rampungnya smelter menandai dimulainya pengolahan tembaga secara terintegrasi di dalam negeri sebagai bagian dari penguatan industri hilir nasional. (Foto: Dok. AMMAN)
Kepala Studi Sumber Daya Alam dan Energi LPEM FEB UI, Uka Wikarya, mengatakan manfaat ekonomi perusahaan tidak hanya tercermin dalam indikator makro.
"Temuan kami menunjukkan bahwa kontribusi AMMAN bukan hanya pada statistik makro, tetapi juga pada tingkat rumah tangga dan komunitas. Penyediaan makanan untuk ribuan karyawan mendukung petani dan peternak lokal. Kebutuhan logistik dan layanan lainnya menciptakan lapangan kerja di berbagai sektor. Hal ini memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dipicu oleh AMMAN memiliki jangkauan yang luas," katanya.
Butiran emas hasil proses pemurnian di fasilitas precious metals refinery AMMAN. Selain menghasilkan katoda tembaga, smelter juga memproduksi emas dan perak murni yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional. (Foto: Dok. AMMAN)
Ke depan, LPEM FEB UI memperkirakan pengoperasian penuh smelter akan semakin meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri, memperkuat industri hilir nasional, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral global.
Baca juga : Mendagri Bantah Isu Dua Desa Di Kaltara Masuk Malaysia
Transformasi itu juga tercermin dalam perjalanan bisnis AMMAN. Selama tiga tahun berturut-turut perusahaan masuk dalam daftar Fortune Southeast Asia 500, mencerminkan ketahanan usaha di tengah proses transformasi industri.
Tahun 2025 menjadi tonggak penting ketika AMMAN memulai penambangan Fase 8 Batu Hijau, menghasilkan katoda tembaga pertama dari smelter, serta memproduksi emas dan perak murni dari fasilitas pemurnian logam mulia.
Pada saat yang sama, perusahaan memperkuat fondasi keberlanjutan melalui pembangunan pembangkit listrik Combined Cycle Gas Turbine (CCGT) berkapasitas 450 megawatt, fasilitas LNG, serta keberhasilan memenuhi seluruh 32 indikator The Copper Mark, standar internasional untuk praktik pertambangan tembaga yang bertanggung jawab.
Robot otomatis menyusun lembaran katoda tembaga di smelter AMMAN, Sumbawa Barat. Produk bernilai tinggi ini menjadi bahan baku penting bagi industri kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga manufaktur berteknologi tinggi. (Foto: Dok. AMMAN)
Pada akhirnya, semua perubahan itu bermula dari batuan yang diangkat dari perut bumi Batu Hijau. Ketika keluar dari smelter, nilainya telah berlipat ganda. Ia tidak hanya menjelma menjadi katoda tembaga, emas, dan perak, tetapi juga menjadi lapangan kerja, peluang usaha, pendapatan masyarakat, hingga siklus ekonomi sirkular yang memastikan setiap sumber daya dimanfaatkan secara optimal.
Perjalanan sebutir bijih dari Batu Hijau kini tak lagi berakhir di pelabuhan ekspor. Di Sumbawa Barat, ia menjelma menjadi logam bernilai tinggi yang menggerakkan industri, menghidupkan ekonomi lokal, dan membuka peluang bagi ribuan orang.
Di sanalah hilirisasi menemukan makna yang sesungguhnya: bukan sekadar meningkatkan nilai mineral, melainkan menghadirkan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat dan masa depan industri Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya