Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Dari Tambang ke Hilirisasi, Jalan Sunyi Menuju Swasembada Energi
Selasa, 5 Mei 2026 20:21 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di perut bumi Sumatera Selatan, deru mesin-mesin pengeruk tak pernah benar-benar senyap. Di sana, di antara dinding-dinding tambang yang menganga, batu bara bukan sekadar komoditas yang berpindah dari ban berjalan ke lambung kapal.
PTBA tetap menjadi pilar utama ketahanan energi nasional dengan mengalokasikan 54 persen dari total penjualan untuk pasar domestik. (Foto: Dok. PTBA)
Ia adalah denyut nadi yang menjaga lampu-lampu di pelosok negeri tetap menyala, sekaligus menjadi benteng terakhir saat badai geopolitik di Timur Tengah membuat peta energi dunia limbung.
Ketika dunia riuh membicarakan transisi energi hijau, realitas di lapangan berkata lain. Sepanjang 2024 hingga awal 2026, batu bara justru kembali mengukuhkan posisinya sebagai "bantalan energi" global.
Ketegangan di Selat Hormuz yang menghambat pasokan gas dan minyak dunia telah memaksa banyak negara terutama di Asia berpaling kembali pada keandalan si "emas hitam".
Di Indonesia, dinamika ini terekam jelas dalam angka-angka yang agresif. Setelah sempat melandai akibat pandemi, produksi batu bara nasional melesat bak anak panah.
Dari 687 juta ton pada 2022, angka itu melonjak hingga mencetak rekor sejarah sebesar 836 juta ton pada 2024. Tahun 2025 tetap bertahan di level tinggi, yakni 790 juta ton.

Namun, di balik angka-angka raksasa itu, terselip sebuah ironi struktural. Sekitar 65 persen dari gunung batu bara itu terbang ke mancanegara demi devisa, meninggalkan sisa yang kian terjepit untuk kebutuhan domestik.
Di titik inilah, arah kemudi kebijakan energi nasional diuji keberaniannya: mampukah kita mengubah komoditas mentah ini menjadi kedaulatan yang nyata?
Titah dari Istana
Maret 2026 menjadi titik balik yang krusial. Awalnya, Jakarta berencana mengerem produksi di angka 600 juta ton untuk menjaga stabilitas harga dunia.
Namun, lonjakan harga minyak global dan kebutuhan mendesak untuk mempertebal ruang fiskal APBN mengubah segalanya.
Baca juga : Nurdin Halid Apresiasi Kinerja Menteri ESDM, Ketahanan Energi RI Peringkat 2
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar produksi kembali digenjot. Instruksi ini bukan sekadar mengejar profit windfall, melainkan strategi untuk mengamankan kedaulatan energi di tengah ketidakpastian.
Efeknya instan: Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang tadinya dievaluasi tiga tahunan, kini direformasi menjadi tahunan, agar pemerintah bisa lebih lincah menari di tengah volatilitas harga pasar yang menyentuh angka 140 dollar AS atau setara Rp 2,44 juta per ton (asumsi kurs Rp 17,435).

Peningkatan kapasitas produksi ini bukan tanpa tujuan. Di Tanjung Enim, Selasa (5/5/2026), PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, mempertegas perannya.
Fokusnya bukan lagi sekadar menggali, melainkan menghilirkan. Salah satu langkah paling strategis adalah mengubah batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).
Langkah ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah dalam mewujudkan Asta Cita serta amanat Pasal 33 UUD 1945, yang menekankan pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Melalui hilirisasi, ketergantungan kronis terhadap impor LPG yang membebani devisa coba diputus.
CEO/Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari upaya percepatan proyek strategis nasional dalam memperkuat fondasi ekonomi dan energi Indonesia.
"Pengembangan DME di Tanjung Enim menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, yang saat ini masih mencapai sekitar 80 persen dari kebutuhan nasional," paparnya dalam acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase II, Kamis (29/04/2026).
Melampaui Sekadar Bahan Bakar
Tantangan sesungguhnya bagi Indonesia bukan hanya soal menggali lebih banyak, melainkan bagaimana memberi "nyawa" baru pada setiap bongkah batu bara.
Komisaris Utama MIND ID, Fuad Bawazier, menggarisbawahi bahwa hilirisasi menjadi DME memberikan manfaat besar yang sering kali tidak kasat mata dalam neraca korporasi namun berdampak masif bagi negara.
Baca juga : Presiden: Hilirisasi Jalan Menuju Kebangkitan Bangsa
"Proyek DME memberikan keuntungan yang besar bagi negara. Namun banyak keuntungan negara yang tidak dapat dicatat dalam pembukuan korporasi. Mudah-mudahan proyek ini bisa terwujud dan dijalankan sesuai target supaya kita bisa jadi negara yang mandiri energi dan pangannya," ujar Fuad.
Bagi MIND ID, ini adalah tentang meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan batu bara Indonesia secara sistemik.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, mengatakan bahwa sinergi antar-anggota grup adalah kunci.
"MIND ID akan terus mendorong sinergi antar anggota grup dan mitra strategis untuk memastikan proyek hilirisasi berjalan optimal dan berkelanjutan, serta memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan energi nasional," ujar Maroef.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin.
Transformasi ini juga didukung oleh perbaikan infrastruktur logistik. PTBA sedang berjibaku memecah kebuntuan distribusi melalui Proyek Jalur Angkutan Tanjung Enim–Kramasan yang progresnya telah menyentuh 80,81 persen pada awal 2026.
Dengan tambahan kapasitas 20 juta ton per tahun, urat nadi distribusi ini akan memastikan pasokan ke industri hilir tak terhambat.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menekankan bahwa hilirisasi batubara menjadi DME ini bukan hanya sekadar proyek industri saja, melainkan bentuk kesiapan Perseroan dalam menjawab tantangan energi nasional.
“Proyek ini juga sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam memperkuat kedaulatan energi, mendorong industrialisasi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta menciptakan lapangan kerja yang produktif dan berkelanjutan,” jelas Arsal.
Jembatan Menuju Masa Depan
Visi jangka panjang Indonesia melampaui urusan gas rumah tangga. Di laboratorium masa depan, batu bara mulai bertransformasi menjadi artificial graphite, material kunci untuk anoda baterai kendaraan listrik (EV).
Batu bara yang kerap dianggap "kotor" justru memegang kunci bagi masa depan transportasi hijau. Tak hanya untuk teknologi tinggi, batu bara bahkan menyentuh hajat hidup petani melalui produk kalium humat.
Baca juga : Target Presiden: 2029, RI Swasembada Energi
Di lahan percobaan seluas 0,8 hektar, penggunaan pembenah tanah berbasis batu bara kalori rendah mampu meningkatkan produksi gabah dari 3,5 ton menjadi 4,5 ton. Ini adalah bukti bahwa sektor tambang bisa bersimbiosis dengan ketahanan pangan.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menyatakan pengembangan DME menjadi bagian dari transformasi bisnis perusahaan dan Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Pengembangan DME merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, menghemat devisa, serta memperkuat industri domestik,” kata Turino.
Perjalanan menuju Net Zero Emission pada 2060 memang menjadi komitmen mutlak. Namun, menuju ke sana adalah sebuah maraton, bukan sprint.
Hingga setidaknya 2035, Asia diprediksi masih akan bergantung pada batu bara sebagai penopang stabilitas energi. Bagi Indonesia di tahun 2026, batu bara bukan lagi sekadar komoditas untuk dijual murah ke pasar dunia.
Ia adalah modalitas nasional untuk menjaga tarif listrik tetap terjangkau, menjadi bahan baku industri metalurgi, hingga menjadi substitusi energi impor.
Di tengah riuh rendah mesin tambang dan kepulan uap pembangkit, Indonesia sedang menulis ulang takdir "emas hitamnya": dari sekadar barang tambang yang dikeruk, menjadi pilar industrialisasi yang bermartabat dan mandiri.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya